Berita

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth/Net

Dunia

Gedung Putih Tak Sengaja Bocorkan Strategi Perang Yaman ke Jurnalis

SELASA, 25 MARET 2025 | 11:11 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Sebuah insiden pelanggaran keamanan yang mengejutkan terjadi setelah seorang jurnalis Amerika Serikat, Jeffrey Goldberg dari majalah The Atlantic, secara tidak sengaja dimasukkan dalam percakapan grup chat yang berisi pejabat tinggi Gedung Putih. 

Dalam grup chat tersebut, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat lainnya membahas serangan yang akan datang terhadap pemberontak Houthi di Yaman, yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada 15 Maret.

Pelanggaran ini terungkap setelah Goldberg mengungkapkan bahwa ia menerima pemberitahuan tentang serangan tersebut beberapa jam sebelum diumumkan. 


Dalam tulisannya di The Atlantic, Goldberg menjelaskan bahwa ia ditambahkan ke grup Signal yang terdiri dari pejabat tinggi pemerintah pada 13 Maret, dua hari sebelum serangan. 

Di dalamnya, Hegseth mengirimkan rincian mendalam tentang serangan yang akan terjadi, termasuk target, senjata yang akan dikerahkan, dan urutan serangan.

"Menurut pesan panjang yang dikirim oleh Hegseth, ledakan pertama di Yaman akan terjadi dua jam dari sekarang, pada pukul 1:45 siang waktu timur," tulis Goldberg, yang mengonfirmasi kronologi tersebut dengan kejadian yang berlangsung di Yaman, seperti dimuat Reuters pada Selasa, 25 Maret 2025.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Brian Hughes, mengonfirmasi insiden tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki bagaimana Goldberg bisa terlibat dalam percakapan tersebut. 

"Rangkaian pesan yang dilaporkan tampaknya asli, dan kami sedang meninjau bagaimana nomor yang tidak sengaja ditambahkan ke rangkaian pesan tersebut," ungkap Hughes. 

Meskipun kejadian ini berpotensi membocorkan informasi sensitif, Gedung Putih menekankan bahwa Presiden Trump tetap memiliki kepercayaan penuh pada tim keamanan nasionalnya.

Trump sendiri, ketika diminta mengomentari insiden tersebut, menyatakan bahwa ia tidak tahu tentang masalah tersebut, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan kecelakaan yang tak disengaja.

Insiden ini memicu reaksi keras dari banyak pihak, terutama di kalangan politisi Demokrat.

Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyebut kebocoran tersebut sebagai salah satu pelanggaran intelijen militer paling mengejutkan dan mendesak agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut. 

Senator Jack Reed juga mengecam kejadian tersebut dengan menyebutnya sebagai "kecerobohan yang berbahaya."

Hillary Clinton, yang sebelumnya menjadi target kritik Trump terkait penggunaan server email pribadi saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, mengunggah artikel dari The Atlantic dengan komentar satir, "Anda pasti bercanda."

Kebocoran ini datang di tengah serangkaian serangan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat terhadap pemberontak Houthi di Yaman. 

Houthi, yang telah menguasai sebagian besar Yaman lebih dari satu dekade, menjadi bagian dari aliansi pro-Iran yang menentang Israel dan Amerika Serikat. 

Mereka sering meluncurkan serangan terhadap kapal-kapal yang lewat di Laut Merah dan Teluk Aden, dengan mengklaim bahwa ini adalah bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Serangan-serangan ini telah melumpuhkan jalur pengiriman utama yang menghubungkan Asia dengan Eropa, dan mengganggu sekitar 12 persen lalu lintas perdagangan dunia. 

Pemerintah AS, di bawah Presiden Joe Biden sebelumnya, telah menargetkan Huthi sebagai bagian dari respons terhadap ancaman ini, sementara Trump menyatakan tekad untuk menggunakan kekuatan mematikan dalam menghadapi kelompok tersebut.

Sebagai tambahan, Trump berkomentar bahwa jika AS berhasil memulihkan kebebasan navigasi dengan biaya yang besar, perlu ada keuntungan ekonomi lebih lanjut yang diambil sebagai imbalannya, suatu pandangan yang mencerminkan ketegangan antara kepentingan strategis dan ekonomi dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Yaman.

Insiden kebocoran ini menyoroti kerentanannya dalam komunikasi internal pemerintahan yang memiliki akses informasi sensitif, yang jika jatuh ke tangan yang salah, dapat memengaruhi kebijakan luar negeri AS dan hubungan diplomatik internasional.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya