Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Mengapa China Terus Borong Emas Ratusan Ton?

SENIN, 24 MARET 2025 | 13:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Emas dianggap sebagai aset yang relatif aman di masa ketidakpastian ekonomi global. Hal itu sangat dipahami China, negara yang paling aktif dalam pembelian emas di masa krisis.

Berdasarkan data World Gold Council (WGC), China memborong emas ratusan ton pada tahun krisis ekonomi global, sekitar 2008 hingga 2023.

Bagi China,  selama krisis finansial, nilai mata uang atau aset lainnya dapat tergerus, sementara emas cenderung mempertahankan nilainya. Oleh karena itu, pemerintah China, yang memiliki cadangan devisa besar, membeli emas untuk melindungi nilai kekayaan negara mereka.


Dikutip dari CNBC, Senin 24 Maret 2025, China memiliki cadangan devisa terbesar di dunia, dan sebagian besar cadangan ini berupa Dolar AS. China membeli emas sebagai bentuk diversifikasi, untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan meningkatkan keberagaman cadangan devisa, 

Emas memberi alternatif yang lebih stabil dan independen dari fluktuasi mata uang atau kebijakan moneter negara lain.

Berikut catatan pembelian emas yang dilakukan China.

Di 2009, China memborong emas hingga 454,1 ton. Tahun 2008-2009 merupakan tahun krisis finansial global. Krisis tersebut merupakan krisis finansial terburuk dalam 80 tahun terakhir, bahkan para ekonom dunia menyebutnya sebagai the mother of all crises.

Krisis ini berdampak signifikan terhadap ekonomi China yang menyebabkan penurunan tajam dalam ekspor akibat berkurangnya permintaan global, yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. 

Namun pada saat itu, pemerintah China menanggapinya dengan paket stimulus besar, yang membantu mengurangi dampak negatif dan akhirnya menyebabkan pemulihan ekonomi. Kekhawatiran krisis keuangan global tersebut pun mendorong China memborong emas hingga 454,1 ton. 

Di 2015-2016, China kembali memborong emas dengan rincian; di 2015 sebanyak 708,2 ton dan di 2016 sebanyak 80,2 ton.

Tahun-tahun itu, perhatian dunia sedang tertuju pada krisis ekonomi yang dialami Yunani. Krisis terjadi akibat kegagalan membayar utang (default) sebesar 1,5 miliar Euro atau sekitar Rp22 triliun pada International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo 30 Juni 2015. 

Saat Yunani menghadapi krisis, saham-saham di bursa China pun anjlok. Nilai saham yang terdaftar di bursa China mencatatkan kerugian besar. Emas menjadi pilihan oleh bank sentral China saat itu.

Di 2019 atau pada masa pandemi Covid-19, China melakukan aksi pembelian emas sebanyak 95,8 ton. International Monetary Fund (IMF) menyebut masa krisis tahun ini sebagai The Great Lockdown atau masa Karantina Besar.

Di 2022-2024, China kembali memborong emas dengan rincian; di 2022 sebesar 62,2 ton, di 2023 sebanyak 224,9 ton, dan di 2024 sebesar 44,2 ton.

Tahun-tahun ini perekonomian dunia mulai menggeliat setelah krisis akibat Covid pada 2020. Harga konsumen mulai naik pada 2021 karena negara-negara mulai menghentikan lockdown atau pembatasan lainnya.

Bank sentral bersikeras bahwa inflasi yang tinggi hanya akan bersifat sementara karena ekonomi kembali normal. Namun, serangan Rusia ke Ukraina pada akhir Februari kemudian membuat harga energi dan pangan melonjak.

Banyak negara sekarang bergulat dengan krisis biaya hidup karena upah tidak mengikuti inflasi. Ini memaksa rumah tangga membuat pilihan sulit dalam pengeluaran mereka.

Tingginya inflasi dan suku bunga di beberapa negara Eropa dan Amerika, akhirnya membuat China memborong emas lag di tahun-tahun tersebut. 

Dengan memperbanyak cadangan emas, China dapat meningkatkan pengaruhnya dalam sistem ekonomi global. 

China berusaha memperkuat posisi mereka dalam sistem keuangan internasional yang lebih multipolar, di mana emas memainkan peran penting dalam stabilitas dan kepercayaan ekonomi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya