Berita

Timnas Indonesia harus menelan pil pahit kalah 1-5 melawan Australia di Sydney/Dok PSSI

Publika

Peluang Masih Ada, Tetap Dukung Garuda!

OLEH: RIZKI ARILYA
JUMAT, 21 MARET 2025 | 11:00 WIB

TIMNAS Indonesia kalah telak 1-5 dari Australia. Media sosial sontak riuh. Tidak sedikit yang mencerca tim Garuda. Terutama Patrick Kluivert dan PSSI. Pemecatan Shin Tae Yong kembali diungkit. 

Akibat kekalahan di Sydney, mimpi berganti jadi caci. Narasi bukan lagi membahas peluang ke Piala Dunia 2026. Tapi lebih kepada cercaan ke PSSI. 

Banyak yang emosi buta. Emosi yang tak hanya lahir setelah laga, tapi muncul sebelumnya. Emosi yang bukan hanya dipantik kekesalan, tapi justru harapan.


Banyak yang mematok laga awaydi Sydney sebagai laga wajib menang. Entah dari mana hitung-hitungannya. Padahal Australia ini adalah salah satu raksasa Asia. Socceroos tak pernah gagal meraih tiket Piala Dunia sejak gabung ke AFC. 

Jangankan timnas Indonesia, 'timnas pusat' alias Belanda saja hanya punya rekor imbang lawan Australia. Dari empat laga, Belanda menang dan kalah sekali serta imbang dua kali lawan Socceroos. 

Jadi rasa wajib menang Indonesia lawan Australia sejatinya tak masuk di akal. Saya sendiri memasukkan laga away ke Sydney dan Jepang sebagai laga yang calculated loss bagi Indonesia. 

Ajaibnya rasa wajib menang tak hanya dirasakan suporter. Kluivert tampak menuangkan rasa itu sepanjang 90 menit laga. Sejak peluit awal, Indonesia tampak menyerang total. Nyaris tanpa ada gestur bertahan. 

Hal ini mungkin jadi catatan kritis bagi Kluivert. Sebab faktanya memang gaya total menyerang belum selaras dengan kondisi timnas maupun sang lawan. Strategi high pressing justru jadi makanan empuk Australia. Terbukti dua gol lahir lewat counter attack. Tiga lainnya tercipta via bola mati. 

Tiga gol Australia yang bermula dari sepak pojok inilah yang patut dicermati secara seksama. Sebab dalam sepak bola level tinggi, detail sangat menentukan segalanya. Kluivert mesti membenahi kelemahan koordinasi pertahanan Indonesia saat tendangan sudut. 

Memang dalam laga melawan Australia ada anomali. Penguasaan bola Garuda mencapai 61 persen. Hal yang membuktikan bahwa secara permainan Indonesia punya potensi. Tapi kesalahan soal detail terbukti mampu membuyarkan segalanya. 

Apapun itu, laga melawan Australia telah berlalu. Bagi seorang juara kekalahan adalah pelajaran. Tak ada kamus kekalahan untuk diratapi dengan caci maki. 

Seperti kata John C. Maxwell, "sometime we win, but sometime we learn" (terkadang kita menang, terkadang kita mesti belajar). Jadi bukan hasil kekalahannya yang diratapi tapi pelajaran dari kekalahan itu yang paling berharga. Tak ada juara yang tak pernah kalah. Tim yang lolos ke Piala Dunia bukanlah tim yang tak pernah jatuh. Tapi tim yang bisa bangkit setelah terjatuh!

Harus diakui mimpi sepak bola Indonesia belum pernah setinggi saat ini. Sehingga masih banyak yang belum terbiasa menyeimbangkan gestur antara mimpi, harapan, emosi, dengan realita. 

Saat menang dipuja hingga ke tinggi angkasa. Saat kalah dihina sedemikian rupa. Inilah yang kerap terjadi di sepak bola kita sejak masa lalu. 

Apapun itu, Garuda masih ada! Memang kita kalah di Sydney, tapi peluang belum tertutup. Masih ada tiga laga sisa yang akan menentukan. Dan yang paling penting adalah laga melawan Bahrain yang tinggal hitungan hari. 

Mencerca tim sendiri tentu malah akan sangat membantu Bahrain. Ingat suporter adalah pemain ke-12. Sebagai bagian dari permainan, suporter juga mesti punya paradigma bahwa selama peluit panjang belum berbunyi semua belum berakhir. Seperti judul lagu Lenny Kravitz, "It ain't over until it's over". 

Mari dukung habis skuat Garuda hingga laga terakhir Grup C. Kita balas hasil mengecewakan di Australia dengan kemenangan atas Bahrain di GBK! #TetapDukungGaruda.

Penulis adalah pemerhati sepak bola

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya