Berita

Wakil Ketua Komisi II DPR RI yang juga Politisi PDIP, Aria Bima/RMOL

Politik

PDIP: Demokrasi Baru bisa Jalan kalau Ada Niat Baik Presiden

KAMIS, 20 MARET 2025 | 09:40 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memandang pesimis terhadap perbaikan pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan digulirkan lewat revisi sejumlah undang-undang (UU) terkait. 

Politisi PDIP Aria Bima menuturkan, pelaksanaan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 yang telah berlangsung memuat banyak catatan korektif dari banyak pihak, termasuk yang dibahas dalam diskusi publik Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia pada Selasa lalu, 18 Maret 2025.

"(Tahun pemilu dan pilkada) 2024 tantangan berat sistem demokrasi Indonesia. Mulai politik uang, beban penyelenggara, politik identitas, putusan MK soal ambang batas presiden," ujar Aria dikutip Kamis, 20 Maret 2025.


Menurut Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini, anomali yang terjadi pada Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 berbeda dari pengalaman di penyelenggaraan sebelumnya. 

Aria memberikan contoh bagaimana pelaksanaan Pemilu dan Pilkada di tahun-tahun sebelumnya tidak memuat pelanggaran yang separah 2024.

"Saya sebagai timses pilkada. Pak Jokowi enggak pake duit maju Walikota  2005. Enggak ada duit Pak Jokowi. Waktu itu suaranya 37 persen dari 3 calon. Masuk putaran dua juga enggak ada duit, menang 90 persen suaranya," urai Aria. 

"Saya melihat Pilpres 2014 dan 2019 itu, Pak Jokowi menang dari Pak Prabowo hanya 56 persen. Jadi Pemilu masih sangat gairah, timses dan partai habis-habisan kerja. PDI hanya ada tambahan satu persen (di) 2019. Di 2014 dari 16 menjadi 18 persen," sambungnya. 

Dia memandang, perbandingan fakta pelaksanaan Pemilu dan Pilkada yang dialami sebelum tahun politik 2024 menunjukkan adanya kecenderungan pelanggaran yang masih minum. 

"Ini menunjukkan bahwa instrumen penyelenggara, instrumen aparat ,kalau ada kecurangan, itu karena ada kedekatan, bukan karena sistemik. Bantunya paling ke pengamanan suara," ucapnya. 

Oleh karena itu, pengalaman pelaksanaan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 diharapkan menjadi pembelajaran untuk perbaikan ke depan. 

Tetapi baginya, perbaikan regulasi tidak cukup untuk mengubah pelaksanaan Pemilu maupun Pilkada menjadi lebih baik, tetapi mesti ada komitmen dari pimpinan negara. 

"Setelah saya lihat, mau bikin aturan sehebat apa pun, demokrasi bisa berjalan sangat tergantung niat baik kepala negara. Mau kita mau bikin aturan bagaimanapun," katanya. 

"Contohnya Dana Desa, itu kan sangat mulia. Tapi (saya) tidak habis pikir, ketakutan kepala desa, dipanggil aparat itu sangat ketakutan," demikian Aria menambahkan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya