Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin/Net

Dunia

Telepon Trump, Putin Minta Barat Setop Bantu Ukraina

RABU, 19 MARET 2025 | 11:47 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Selasa waktu setempat, 18 Maret 2025. 

Pada kesempatan itu, menguraikan sejumlah syarat yang perlu dipenuhi untuk memulai gencatan senjata, di antaranya penghentian persenjataan kembali dan mobilisasi paksa di Ukraina.

Menurut Putin, penghentian dukungan militer dan intelijen untuk Ukraina sangat penting guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama. 


"Pihak Rusia telah menguraikan sejumlah poin penting mengenai kontrol efektif atas kemungkinan gencatan senjata di sepanjang garis kontak dan kebutuhan untuk menghentikan mobilisasi paksa di Ukraina dan persenjataan kembali angkatan bersenjata Ukraina," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, merujuk pada isi telepon Putin-Trump. 

Putin juga menggarisbawahi bahwa langkah pertama untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencapai solusi diplomatik adalah dengan menghentikan bantuan militer dan informasi intelijen ke Kyiv. 

Ia menyadari darah dan harta yang telah dikorbankan dalam perang ini seharusnya dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat, dan bahwa konflik ini seharusnya sudah berakhir dengan upaya perdamaian yang tulus dan beritikad baik.

"Syarat utama untuk mencegah eskalasi konflik dan berupaya mencapai penyelesaiannya melalui cara politik dan diplomatik adalah penghentian total bantuan militer asing dan penyediaan informasi intelijen ke Kyiv," tambahnya seperti dimuat Economics Times.

Tudingan terhadap Ukraina juga menjadi bagian dari percakapan tersebut, dengan Putin menyatakan bahwa pasukan Ukraina telah melakukan kejahatan teroris biadab terhadap warga sipil di wilayah Kursk.

Sebagai tanggapan, Trump mengusulkan gencatan senjata sementara yang akan berlangsung selama 30 hari. 

Presiden AS itu meminta agar kedua belah pihak menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina. 

Sementara itu, Putin menyambut baik usulan tersebut dan segera menginstruksikan militer Rusia untuk mematuhinya.

Selain itu, pembicaraan juga menyentuh tentang keamanan navigasi di Laut Hitam. Putin menyetujui untuk memulai negosiasi terkait hal ini dan menyatakan kesediaannya untuk merespons secara konstruktif.

Di sisi kemanusiaan, kedua pemimpin sepakat untuk melakukan pertukaran tahanan pada 19 Maret, di mana masing-masing pihak akan membebaskan 175 tahanan.

Sebagai langkah goodwill, Rusia juga akan memulangkan 23 tentara Ukraina yang terluka parah dan sedang menjalani perawatan medis di fasilitas Rusia.

Menanggapi permintaan Trump terkait keselamatan pasukan Ukraina yang terjebak di wilayah Kursk, Putin menegaskan bahwa Rusia siap mematuhi pertimbangan kemanusiaan dan akan menjamin perlakuan layak terhadap tentara Ukraina sesuai hukum Rusia dan internasional.

Selain isu Ukraina, pembicaraan ini juga mencakup masalah keamanan internasional, termasuk nonproliferasi nuklir serta situasi di Timur Tengah dan Laut Merah.

Keduanya sepakat untuk bekerja sama dalam menstabilkan kawasan yang sedang dilanda krisis. Mereka juga menyatakan minat untuk menormalisasi hubungan AS-Rusia dan memperluas kerja sama di bidang ekonomi dan energi.

Panggilan tersebut tidak hanya berfokus pada isu-isu geopolitik, tetapi juga menyentuh aspek budaya. 

Trump mendukung gagasan Putin untuk mengadakan pertandingan hoki yang mempertemukan pemain-pemain dari liga NHL dan KHL, sebagai bentuk penguatan hubungan antara kedua negara.

Pada akhir percakapan, kedua pemimpin sepakat untuk menjaga jalur komunikasi terbuka dan melakukan kontak rutin mengenai perkembangan konflik Ukraina serta isu-isu global lainnya. 

Meskipun gencatan senjata belum mencapai titik final, pembicaraan ini menandakan adanya potensi pergeseran menuju pendekatan diplomatik yang lebih konstruktif.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya