Berita

Mendiang ekonom senior, Dr Rizal Ramli/Istimewa

Bisnis

Rizal Ramli Pernah Ingatkan Risiko Utang, IHSG Anjlok Jadi Bukti Kekhawatiran Investor

SELASA, 18 MARET 2025 | 17:20 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Mendiang ekonom senior Dr Rizal Ramli pernah mengingatkan tentang kerentanan ekonomi Indonesia, terutama terkait utang pemerintah yang semakin membengkak. 

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu pernah menyebut ekonomi nasional layaknya sebuah "gelembung" yang siap pecah kapanpun, kalau tidak dikelola dengan hati-hati.

"Kondisi ekonomi Indonesia seperti sebuah 'gelembung' yang siap meletus dengan peniti-peniti kebenaran dan fakta riil," kata Rizal pada 2020 lalu, dikutip RMOL pada Selasa 18 Maret 2025.


Peniti tersebut, menurut Rizal, berupa utang Indonesia yang kian ugal-ugalan di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Per Januari 2025, rasio utang Indonesia bahkan sudah mencapai mencapai 39,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan posisi utang pemerintah Rp8.909 triliun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari peringatan Rizal pada 2020 ketika utang Indonesia masih berada di level 29,8 persen dari PDB.

Padahal angka 29,8 persen tersebut jauh melampaui batas aman bagi negara berkembang, yang idealnya berada di bawah 22 persen dari PDB.

"Rasio yang lazim digunakan untuk negara berkembang adalah kemampuan bayar utang yang dilihat dari Debt-Service/Export Revenue. Batas aman adalah 20 persen," ujar Rizal.

Ia juga mengkritik klaim pemerintah yang menyebut rasio aman utang Indonesia bisa mencapai 60 persen dari PDB. Menurutnya, standar tersebut diadopsi dari negara-negara maju dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yang memiliki rasio pajak lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

"Rasio pajak negara-negara OECD adalah 30 persen, maka ditetapkan rasio pajak dua kali 30 persen, sama dengan 60 persen. Sementara Indonesia, rasio pajak hanya 10 hingga 11 persen. Artinya, rasio aman utang Indonesia seharusnya adalah dua kali 11 persen, alias 22 persen," paparnya.

Peringatan Rizal Ramli itu semakin relevan di tengah kondisi pasar saham yang mengalami tekanan besar saat ini. Pada Selasa siang, 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 6 persen ke level 6.076. Kondisi tersebut memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara. 

Pengamat pasar modal dari Panin Sekuritas, Reydi, menilai anjloknya IHSG menandakan berkurangnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Ketidakpastian kebijakan yang kerap berubah dinilai sebagai faktor utama yang membuat investor menarik diri dari investasi di Indonesia. 

"Level ketidakpastiannya masih tinggi karena kebijakan sering berubah, sehingga belum mendapatkan kepercayaan investor," kata Reydi kepada RMOL, Selasa 18 Maret 2025.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya