Berita

Presiden Prabowo Subianto/tangkapan layar

Publika

Membayangkan Pemerintahan Prabowo Seperti Keluar dari Kolonialisme

SENIN, 17 MARET 2025 | 19:42 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

MEMANG tidak mudah memahami semua langkah Presiden Prabowo, langkahnya menjebol, ada jalan sempit, tabrak-tabrak masuk, OK Gas ok Gas!

Intinya adalah bagaimana tujuan strategisnya tercapai. Sehingga jika ada menilai Prabowo melanggar peraturan perundangan yang ada, maka orang yang menilai harus terlebih dahulu membayangkan bahwa semua UU yang berlaku pasca reformasi adalah memiliki watak, sifat, karakter nekolim atau neo kolonialisme dan imperialisme baru. Zaman Reformasi adalah era keemasan nekolim.

Pikiran sebagian besar orang saat ini membayangkan bahwa UUD 1945, UUD Kemerdekaan Indonesia, dan segenap UU hasil perjuangan bangsa Indonesia, masih berlaku, masih menjiwai dan menjadi dasar dari seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang ini.


Padahal faktanya tidak. Dalam hal amandemen UUD 1945 dan pembuatan UU pada masa reformasi 98, semuanya dibiayai oleh rezim internasional melalui operator-operator mereka di Indonesia.

Demikian juga pejabat-pejabat yang diangkat di lembaga paling strategis, semuanya adalah pejabat yang sejalan dengan nekolim.

Walaupun di dalam hati dan pikiran para pejabat itu masih tersisa UUD 1945 asli dan semangat kemerdekaan, namun mereka haruslah tetap mengikuti semua regulasi nekolim yang berlaku di negara ini. Apalagi memang kenyataannya para pejabat dan banyak intelektual kita memang lulusan sekolah nekolim.

Lalu dari mana Presiden Prabowo membenahi? Tentu saja dari puncak menara ekonomi, dari puncak masalah ekonomi, apa itu yakni masalah kedaulatan keuangan. Dalam bahasa sederhana, uang mengatur pejabat, uang mengatur orang, namun lebih dari sekadar uang, keuangan mengatur negara, keuangan membubarkan fungsi negara.

Orang boleh memegang uang, namun permainan nilai uang bukan di tangan negaranya, apalagi di tangannya tentu tidak pernah. Perubahan sedikit sistem keuangan dapat membubarkan negara itu beserta fungsinya. Sehingga Prabowo memulai dari puncak, yakni keuangan.

Serangkaian kebijakan menjebol, kebijakan. tabrak masuk, dalam level tertinggi diambil Presiden Prabowo mulai dari menjebol rezim fiskal dengan pemotongan anggaran 10 persen dan akan ditingkatkan menjadi 30 persen. Ini didasarkan atas asumsi utama yakni bocor dan praktik utama, yakni ijon APBN yang dilakukan para politisi bekerja sama dengan oligarki kelas atas.

APBN adalah bancakan utama para kapitalis kelas atas Indonesia. Proyek-proyek APBN adalah makanan tahunan mereka. Makanya APBN bocor, APBN jebol. Tapi APBN terus ditopang defisit. APBN Terus ditopang utang dan pembiayaan.

Lalu Presiden Prabowo membuat Danantara, ini adalah kebijakan dekonsentrasi untuk melawan dekonsentrasi selama reformasi. Dari atas atau puncak Danantara, Presiden melihat bagaimana uang dari modal nasional Indonesia mengalir ke mana?

Ke taipan mana, lari ke luar negeri berapa? ICOR Indonesia terendah di ASEAN, artinya tingkat pengembalian modal di Indonesia paling rendah di ASEAN. Jadi selama ini semua itu bocor dijebol oligarki kapitalis.

Kebijakan yang paling mengagetkan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh siapa pun, yakni Presiden Prabowo memberlakukan pembatasan lalu lintas devisa.

Tentu saja semua orang kaget, lalu lintas devisa adalah jantung bekerjanya sistem ekonomi kapitalis nekolim di Indonesia sekarang. Tanpa lalu lintas devisa bebas sistem ekonomi ini lumpuh.

Ada UU sistem sistem devisa bebas yang tidak pernah disentuh oleh siapa pun selama lebih dari 25 tahun. Sekarang Prabowo tabrak masuk, OK Gas!

Prabowo menggunakan seribu taktik. UU sistem lalu lintas devisa bebas tidak dibatalkan, tapi Pemerintah Prabowo memberlakukan sistem devisa bebas terbatas tertentu.

Pemerintah membatasi lalu lintas devisa menyangkut sumber daya alam dalam jangka waktu tertentu. Sumber daya alam itulah ekonomi Indonesia yang sebenarnya, sumber daya alam itulah penopang ekonomi Indonesia, komoditas sumber daya alam lah yang membuat oligarki Indonesia kaya raya, super sugih, walau negara dan bangsa Indonesia kere keriting.

Prabowo selaku presiden telah mengunci mereka, dengan kuncian Khabib Nurmagomedov.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya