Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Ketika AI Mulai Ngoding

RABU, 05 MARET 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DUNIA pemrograman sedang mengalami pergeseran besar. Bukan, bukan karena para programmer akhirnya belajar merapikan kode mereka, tapi karena Mark Zuckerberg baru saja mengumumkan bahwa mulai 2025, perusahaan Meta miliknya menggunakan artificial intelligence atau akal imitasi (AI) secara ekstensif untuk menulis kode.

Dengan kata lain, robot sedang belajar mengambil alih pekerjaan manusia —dan kali ini, sasarannya para programmer. Jika AI memang sudah bisa berfungsi sebagai “insinyur tingkat menengah”, seperti klaim Zuckerberg, apakah ini berarti masa depan coding hanyalah sekadar algoritma yang mengotomatiskan dirinya sendiri?

Dalam obrolannya di Siniar atau podcast “The Joe Rogan Experience” bulan lalu, Zuckerberg dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa AI sudah cukup pintar untuk menulis kode setara dengan insinyur menengah. Kabar buruknya? Ini sinyal bahwa Meta akan memangkas pengeluarannya untuk membayar programmer.


Seorang insinyur berbakat di Meta bisa menghasilkan 500.000 dolar AS per tahun —dan AI tentu tidak akan meminta bonus, tunjangan kesehatan, atau cuti tahunan. Bagi perusahaan teknologi seperti Meta, ini berarti penghematan biaya operasional yang luar biasa.

AI bisa menulis, menguji, dan menerapkan kode lebih cepat dari manusia, memungkinkan rilis fitur baru dalam waktu yang lebih singkat. Kiat-kiat menulis kode program komputer dengan AI sudah banyak dibuat. Tapi ada satu masalah kecil: siapa yang akan mengawasi AI?

Kita semua tahu, meskipun AI bisa menulis kode, ia tetap bisa membuat kesalahan fatal. Ini bisa berupa bug sederhana yang membuat tampilan aplikasi kacau, hingga kesalahan yang berpotensi menciptakan lubang keamanan seukuran lubang hitam.

Dan ironisnya, yang harus memperbaikinya tetap manusia. Alih-alih menghilangkan kebutuhan akan programmer, AI tampaknya kelak hanya akan mengubah mereka menjadi pengasuh robot yang sering salah ketik. Manusia membuat robot, manusia jadi pengasuhnya?

Meta bukan satu-satunya yang berpikir untuk mengganti manusia dengan AI. Salesforce bahkan mengumumkan bahwa mereka tidak akan merekrut programmer baru setelah 2025, sementara Klarna baru saja memangkas 22 persen tenaga kerjanya dengan alasan bahwa AI bisa mengambil alih sebagian besar tugas mereka.

Tampaknya, tujuan industri teknologi kini sederhana: kurangi jumlah manusia, tingkatkan jumlah robot. Maksimalkan efisiensi, minimalkan biaya. Biarkan AI bekerja, biarkan manusia menganggur. Menurut perkiraan industri, menggantikan seorang programmer manusia dengan AI bisa menghemat biaya antara  100.000 dolar AS hingga 900.000 dolar AS per tahun.

Tapi yang belum diperhitungkan adalah biaya psikologis: apakah kita siap menghadapi dunia di mana coding bukan lagi keahlian manusia, melainkan hanya sekadar tugas rutin bagi mesin? Jawabannya akan berupa pertanyaan balik: kenapa tidak?

Tentu, Zuckerberg mencoba menenangkan publik dengan mengatakan bahwa AI tidak akan menghapus pekerjaan programmer, tetapi hanya akan mengubah peran mereka menjadi lebih strategis dan kreatif. Dengan kata lain, manusia tidak lagi mengetik kode, melainkan mengawasi dan menyempurnakan hasil kerja AI.

Namun, sejarah berkata lain. Ketika mesin cetak ditemukan, banyak juru tulis kehilangan pekerjaan. Ketika mesin tenun otomatis muncul, banyak penenun tradisional gulung tikar. Ketika mesin ATM diperkenalkan, banyak teller bank beralih profesi. Dan kini, apakah kita akan melihat para programmer menjadi artefak sejarah?

Tentu saja, AI saat ini baru bisa menangani pekerjaan coding yang berulang dan generik. Tapi jika teknologi terus berkembang, bukan tidak mungkin posisi entry-level dan mid-level programmer akan menghilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah segelintir elite insinyur yang cukup beruntung untuk bertahan di puncak rantai makanan teknologi.

Kenyataannya, kita sudah berada dalam jalur menuju dunia yang semakin didominasi AI. Tahun 2025 bukanlah awal dari perubahan ini, melainkan titik kritis di mana industri teknologi harus memilih antara mendukung AI sebagai alat bantu yang meningkatkan produktivitas manusia, atau membiarkan AI mengambil alih sepenuhnya dan membuang manusia ke pinggiran sejarah digital.

Dunia kerja akan berubah drastis, bukan hanya dalam bidang pemrograman tetapi di hampir setiap aspek kehidupan. Jika AI bisa mengotomatisasi coding, apakah selanjutnya AI juga akan menggantikan pekerjaan dokter, pengacara, atau bahkan seniman?

Tapi ada satu hal yang pasti: di masa depan, satu-satunya skill yang benar-benar penting adalah kemampuan beradaptasi. Jadi, jika Anda seorang programmer, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk mengembangkan keterampilan baru.

Karena jika AI benar-benar mengambil alih coding di dunia komputer, pekerjaan yang tersisa bagi manusia mungkin hanyalah… mematikan dan menyalakan komputer ketika AI mengalami crash. Juga, membuat perencanaan dan desain pemrograman yang berada di luar kendali AI.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Pemerintah Siapkan Skenario Haji Jika Konflik Timur Tengah Memanas

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:14

KPK Hormati Putusan Hakim, Penyidikan Dugaan Korupsi Kuota Haji Tetap Berlanjut

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:12

Naik Transjakarta Kini Bisa Bayar Tiket Pakai QRIS Tap BRImo

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:06

Marak OTT Kepala Daerah, Kemendagri Harus Bertindak

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:01

RDF Plant Rorotan Diaktifkan Usai Longsor TPST Bantargebang

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:47

Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Dimulai Hari Ini

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:44

Lantik Pengurus DPW PPP Gorontalo, Mardiono Optimistis Menuju 2029

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:43

Harga Bitcoin Terkoreksi Tipis

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:34

Emas Logam Mulia Naik Rp40 Ribu, Dekati Harga Rp3,1 Juta per Gram

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:29

Viral Mobil Pickup Impor India untuk Koperasi Desa Tiba di Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya