Berita

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait/Ist

Publika

Judi Online Vs Tiga Juta Rumah

JUMAT, 28 FEBRUARI 2025 | 13:24 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

KONON uang beredar dalam skandal judi online di negara ini mencapai Rp700 triliun sampai Rp1.000 triliun, nilai yang setara dengan empat juta rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Rumah bukan sekadar membangun tempat tinggal yang layak dan nyaman, namun lebih dari itu yakni membangun harapana bahwa masa depan Indonesia itu bisa diraih. Anak-anak mudah, kaum milenial memiliki harapan itu, serta menepis keraguan dan stigma bahwa generasi milenial tidak akan pernah bisa membeli dan memiliki rumah.

Generasi sebelumnya generasi boomers, mereka sekarang mendapatkan hari tuanya dengan aset atau kekayaan yang ditabung selama berpuluh tahun. Aset tersebut adalah tanah dan rumah.


Di atas kekayaan itulah generasi boomers benar-benar dapat memiliki hari tua mereka. Di zamannya menabung dengan cara membeli tanah dan rumah telah menjadi keyakinan yang kuat bahwa itulah cara mewujudkan masa depan.

Sekarang tanah dan rumah tidak lagi diyakini sebagai masa depan. Ada yang mengatakan bahwa daya beli adalah penyebab hilangnya harapan itu. Pekerjaan dengan upah rendah, biaya hidup yang meningkat. Gaji bulanan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Konon uang tidak lagi banyak di dalam genggaman anak-anak muda. Kartu kredit dan pinjaman online memenuhi dompet generasi Indonesia emas. Benarkah kenyataannya demikian?

Membangun Cara Pandang

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait berambisi besar membalikkan keadaan ini. Anak-anak muda harus diberi keyakinan bahwa mereka dapat membangun rumah masa depan mereka.

Ini bukan sekadar menjalankan tugas sebagai menteri untuk menyukseskan tiga juta rumah, namun juga tanggung jawab negara dan pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Rasanya saat ini memang tengah berkembang cara pandang yang keliru di dalam masyarakat, yang membuat anak-anak muda mengalami disorientasi, termasuk dalam membelanjakan pendapatan mereka.

Perubahan gaya hidup yang cenderung instan, membuat masyarakat enggan berpikir jangka panjang terutama dalam menabung sebagian pendapatan untuk aset, tanah, dan rumah.

Ini bukan soal pendapatan yang cenderung menurun, daya beli atau faktor ekonomi semata yang menyebabkan lesunya pembangunan perumahan. Kalau soal pendapatan, maka judi online tidak sebanyak sekarang.

Uang beredar dalam judi online di Indonesia bisa mencapai Rp700 triliun sampai Rp1.000 triliun. Uang yang cukup untuk membangun 1 juta rumah mewah dan 4 juta rumah MBR. Mengapa semua bisa terjadi?

Menurut Maruarar, cara pandang yang benar akan menghasilkan harapan baik. Lemahnya minat membangun dan memiliki rumah adalah perangkap pemikiran. Jika dibiarkan, maka orang akan beralih ke hal hal yang tidak produktif dan bahkan mencelakai diri sendiri.

Mengajak anak-anak muda dan masyarakat membangun rumah adalah usaha besar memilih kepercayaan diri dan memantapkan harapan Indonesia emas. "Kita ajak anak-anak muda ayo bangun rumah."

Insentif dan Subsidi

Pemerintah telah memberikan berbagai insentif dan subsidi untuk memulihkan kembali semangat masyarakat membangun rumah. Insentif diberikan dalam bentuk kemudahan perizinan, kemudahan perpajakan dan subsidi bunga, dan lain sebagainya.

Kementerian PKP telah membuat terobosan baru, yakni diberikannya tiga insentif atau kemudahan pajak sekaligus, yakni (1) Menggratiskan PPN atau pajak pertambahan nilai untuk perumahan MBR. (2) Menggratiskan atau menghapus retribusi persetujuan bangunan gedung (PBG). (3) Menghapus bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

Inilah untuk pertama kali insentif diberikan. Walaupun diketahui bahwa saat ini pemerintah tengah menghadapi tekanan fiskal.

Menggerakkan sektor perumahan termasuk program perbaikan rumah adalah strategi penting untuk mengejar pencapaian pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Sektor ini adalah yang paling inklusif karena akan melibatkan komunitas, pelaku pengembangan perumahan, industri terkait dan bahkan kalangan para akademisi atau kampus untuk mengembangkan riset pengembangan perumahan.

Usaha ini seluruhnya juga dimaksudkan agar kembali mengajak masyarakat menabung, yakni menabung aset dalam tanah dan rumah. Usaha yang tidak lagi populer dikarenakan masyarakat banyak terperangkap dalam cara hidup berutang untuk hal-hal yang tidak produktif.

Banyak yang menghabiskan uang mereka untuk harapan palsu, memperkaya para penipu, yakni bandar judi online.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Kultus “Benda-benda Suci” di Eropa Abad Pertengahan

Minggu, 15 Maret 2026 | 06:16

Lulusan IPDN Disiapkan Wujudkan Standar Pelayanan Minimal di Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:59

Roy Suryo Cs Dilarang Ladeni Rismon Beradu Argumentasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:32

Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:23

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Trump Berbaju Fir’aun

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:31

Enam Bulan Purbaya, Rupiah Melemah tiap Bulan

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:08

Pendekatan Teman Sebaya Efektif Cegah Bullying di Sekolah

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:02

Rismon Menelan seluruh Omongannya Tanpa Ada Terkecuali

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:21

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Selengkapnya