Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Proyek Bendungan Tiongkok di Tibet Berpotensi Picu Retakan Himalaya

KAMIS, 20 FEBRUARI 2025 | 19:01 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga air besar di Tibet oleh Tiongkok memicu kekhawatiran global mengenai dampak ekologis dan ketegangan politik di kawasan Himalaya. 

Proyek ini berpotensi memengaruhi stabilitas lingkungan dan memperburuk persaingan geopolitik di Asia Selatan.

Pada Desember lalu, Tiongkok memperingati 30 tahun berdirinya Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia. 


Namun, hanya beberapa hari setelah peringatan tersebut, media pemerintah mengumumkan persetujuan proyek baru di Yarlung Zangbo (dikenal sebagai Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Jamuna di Bangladesh). 

Proyek Medog ini diharapkan mampu menghasilkan lebih dari 300 miliar kilowatt-jam listrik per tahun, tiga kali lipat dari kapasitas Bendungan Tiga Ngarai.

"Proyek ini menunjukkan tekad Tiongkok untuk memimpin infrastruktur energi terbarukan dunia," ujar seorang pejabat Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok, seperti dikutip dari The National Interest pada Kamis, 20 Februari 2025. 

Dengan anggaran yang diperkirakan mencapai lebih dari 137 miliar dolar AS,  proyek ini menegaskan ambisi besar Tiongkok dalam memanfaatkan sumber daya airnya.

Namun, banyak pihak menyoroti potensi risiko besar dari proyek ini. Bendungan Medog dibangun di Zona Sutura Indo-Tsangpo, daerah aktif secara seismik di mana lempeng tektonik India dan Eurasia bertemu. 

"Kerentanan seismik di wilayah ini menjadi ancaman serius bagi keamanan bendungan dan masyarakat di sekitarnya," kata Arun Kumar, pakar geologi dari India. 

Ia juga mengingatkan bahwa gempa bumi besar di masa depan dapat memicu bencana yang meluas hingga ke negara-negara hilir.

Kekhawatiran juga muncul terkait dampak lingkungan dari proyek ini. Studi menunjukkan bahwa bendungan besar seperti Tiga Ngarai telah menyebabkan gangguan sedimen skala besar, yang berdampak negatif pada keanekaragaman hayati dan produktivitas pertanian di hilir.

"Sungai Yarlung Zangbo adalah sumber kehidupan bagi ekosistem Asia Selatan. Jika proyek ini berjalan tanpa koordinasi internasional, dampak ekologisnya bisa menjadi bencana lintas batas," ujar Wang Mei, peneliti lingkungan di Beijing.

Selain tantangan ekologis, proyek ini juga berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan.

India dan Bangladesh, yang bergantung pada aliran Sungai Brahmaputra, telah menyatakan kekhawatiran terhadap proyek ini.

Pemerintah India dalam pernyataannya menegaskan: "Kami mendesak Tiongkok untuk memastikan bahwa kepentingan negara-negara di hilir tidak dirugikan oleh aktivitas di hulu."

Sebagai tanggapan, India kini tengah mempercepat pembangunan tiga belas proyek pembangkit listrik tenaga air di Arunachal Pradesh, dengan investasi sebesar 16 miliar dolar AS.

Langkah ini dianggap sebagai upaya strategis untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok di kawasan tersebut.

"Kami tidak bisa membiarkan Tiongkok memonopoli sumber daya air di Himalaya," ujar seorang pejabat senior India yang enggan disebutkan namanya.

Ketegangan ini mencerminkan rivalitas yang semakin meningkat antara dua kekuatan besar Asia. Insiden perbatasan di Lembah Galwan pada tahun 2020 telah memperburuk hubungan bilateral, dan proyek bendungan Medog dapat menjadi pemicu ketegangan baru.

Beberapa analis menilai bahwa Tiongkok menggunakan kendali atas sumber daya air sebagai alat geopolitik.

"Dengan membendung Sungai Brahmaputra, Tiongkok memiliki potensi untuk memengaruhi pasokan air di India dan Bangladesh, terutama di musim kemarau," jelas Dr. Brahma Chellaney, penulis buku "Water: Asia's New Battleground".

Meski demikian, beberapa pihak berharap dialog bilateral dapat mengurangi ketegangan.

Pertemuan perwakilan khusus India-Tiongkok baru-baru ini telah membuka peluang untuk meningkatkan kerja sama dalam pembagian data hidrologi.

"Kolaborasi dalam berbagi informasi adalah langkah awal penting menuju stabilitas regional," kata Chellaney.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran, komunitas internasional mendorong pendekatan yang lebih transparan dan kolaboratif. 

"Kita memerlukan kerangka kerja regional yang memastikan pengelolaan sumber daya air secara adil dan berkelanjutan," ujar Sunita Narain, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan di New Delhi. 

Ia juga menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan proyek besar seperti ini untuk meminimalkan dampak sosial dan budaya.

Dengan proyek Medog di Tibet, Tiongkok tidak hanya membangun bendungan terbesar di dunia tetapi juga membentuk lanskap geopolitik dan ekologi di Asia Selatan untuk dekade-dekade mendatang.

Bagaimana India dan negara-negara lain di kawasan ini merespons akan menentukan arah hubungan regional di masa depan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya