Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Negosiasi Perdamaian Rusia-Ukraina Alot, Harga Minyak Makin Naik

KAMIS, 20 FEBRUARI 2025 | 10:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia tetap berada di level tertinggi akibat terganggunya pasokan dari Rusia dan Amerika Serikat serta negosiasi perdamaian perang Ukraina yang masih sulit.

Dikutip dari Reuters, Kamis 20 Februari 2025, pada perdagangan Rabu harga minyak mentah Brent naik 20 sen atau 0,3 persen menjadi 76,04 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 40 sen atau 0,6 persen menjadi 72,25 Dolar AS per barel. Ini adalah harga tertinggi sejak 11 Februari.

Pasokan minyak terganggu setelah Ukraina menyerang fasilitas minyak Rusia dengan drone. Akibatnya, aliran minyak dari Konsorsium Pipa Kaspia (CPC), yang menyalurkan minyak Kazakhstan, turun 30-40 persen pada hari Selasa. Ini berarti ada pengurangan sekitar 380.000 barel per hari di pasar global.


Di Amerika Serikat, cuaca dingin ekstrem juga berdampak pada produksi minyak. Otoritas Pipa Dakota Utara memperkirakan produksi bisa turun hingga 150.000 barel per hari.

Pasar minyak juga dipengaruhi oleh kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia dan Kazakhstan. Ada spekulasi bahwa mereka mungkin menunda rencana peningkatan produksi yang dijadwalkan untuk April.

Sementara itu, terkait proses perdamaian perang di Ukraiana, Presiden AS Donald Trump menyebut Presiden Volodymyr Zelenskiy sebagai "diktator tanpa pemilu" dan mendesaknya segera mencapai kesepakatan damai dengan Rusia.

Namun, analis Goldman Sachs menilai bahwa meskipun ada kesepakatan damai, pelonggaran sanksi terhadap Rusia tidak akan meningkatkan produksi minyak secara signifikan. Menurut mereka, produksi Rusia dibatasi oleh target OPEC+ sebesar 9 juta barel per hari, bukan oleh sanksi.

"Kami yakin bahwa produksi minyak mentah Rusia dibatasi oleh target produksi OPEC+ sebesar 9 juta barel per hari, bukan sanksi saat ini, yang memengaruhi tujuan tetapi tidak memengaruhi volume ekspor minyak," kata Goldman Sachs dalam sebuah laporan.

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

Kaharuddin Djenod Kembali Pimpin PT PAL Indonesia

Rabu, 27 Mei 2026 | 03:50

Nusron Bersama Wamenhan dan KSAU Bahas Penataan Aset Pertanahan TNI AU

Rabu, 27 Mei 2026 | 03:27

Gatot Nurmantyo Berharap Presiden Keluarkan Dekrit Sesuai Amanat AD/ART Gerindra

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:59

Anies Baswedan dan Suara Kentongan

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:35

Rocky Gerung: Eksaminasi Putusan Kerry Riza Uji Cara Berpikir Penegak Hukum

Rabu, 27 Mei 2026 | 02:12

Wali Kota Agustina Gelar Nobar Dukung Celyna Grace di Indonesian Idol Season XIV

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:54

UUD 2002 Berhasil Bikin Kekayaan Indonesia Dirampok Besar-besaran

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:31

PT PAL Indonesia Bukukan Kenaikan Laba Bersih Sebesar 108,58 Persen

Rabu, 27 Mei 2026 | 01:13

Keterwakilan 30 Persen Perempuan Jangan Cuma Formalitas bagi Parpol

Rabu, 27 Mei 2026 | 00:47

Pasal Kerugian Negara Dianggap Tidak Efektif Berantas Korupsi

Rabu, 27 Mei 2026 | 00:25

Selengkapnya