Berita

Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi/RMOL

Hukum

Majelis Hakim MK Cecar KPU Barito Utara Tolak PSU

RABU, 19 FEBRUARI 2025 | 19:53 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mempertanyakan dasar hukum Komisi Pemilihan Umum (KPU) Barito Utara, terkait tidak menjalankan pemungutan suara ulang (PSU). 

Hal tersebut terjadi dalam sidang lanjutan dengan agenda pembuktian Perselisihan Hasil Pemilihan Kepala Daerah (PHP Kada) Kabupaten Barito Utara, di Ruang Sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2025.

Dalam Sidang Panel Hakim 1 yang dipimpin Ketua MK Suhartoyo dan didampingi Hakim Konstitusi Daniel Yusmic P. Foekh serta Hakim Konstitusi M. Guntur Hamzah, KPU Barito Utara dicecar pertanyaan. 


Pertanyaan Hakim Konstitusi disampaikan setelah Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Barito Utara menceritakan kronologis terbitnya surat rekomendasi Bawaslu Nomor 226/PP.01.02/K.KH-03/12/2024 tertanggal 3 Desember 2024, yang memerintahkan adanya PSU di tempat pemungutan suara (TPS) 04 Malawaken. 

“Kami menemukan ada pemilih yang mencoblos tidak membawa e-KTP. Atas tindak lanjut ini kami melakukan penelitian dan melakukan pengkajian hukum terhadap kasus ini, kami sempat mengklarifikasi kepada kepala desa. Pada pokoknya kami mengeluarkan surat rekomendasi kepada KPU Barito Utara untuk melakukan PSU tanggal 3 Desember 2024,” jelas perwakilan Bawaslu Barito Utara, Adam Parawansa Shahbubakar.

Adam menjelaskan, KPU Barito Utara menindaklanjuti rekomendasi Bawaslu tersebut dengan berkirim surat kepada pihaknya, dengan perihal penjelasan tanggapan surat rekomendasi tersebut. 

“Inti dalam surat tanggapan tersebut KPU Barito Utara berpendapat bahwa hal tersebut (PSU) belum memenuhi unsur untuk dilakukan," urainya.

Sementara itu, Ketua KPU Barito Utara Siska Dewi Lestari beralasan berdasarkan Surat Edaran Ketua KPU Barito Utara nomor 2734 tanggal 26 November 2024 tidak perlu melakukan PSU karena setelah melakukan telaah hukum unsur untuk PSU belum terpenuhi.  

“Itu kami kaji, sebenarnya tidak hanya terkait surat edaran itu juga hasil keputusan kami, tetapi kami juga dengan melihat undang-undang pemilihan pasal 112 terkait masalah persyaratan untuk dilakukan PSU,” terang Siska.

Setelah perdebatan dari dua pihak itu, Majelis Hakim mempertanyakan alasan KPU Barito Utara hanya membalas surat atas rekomendasi yang dikeluarkan Bawaslu Barito Utara. 

Menurut pandangan Majelis Hakim, seseorang yang datang tidak membawa KTP elektronik atau identitas lain yang diyakini kebenarannya, dalam rangka memastikan identitas pemilik hak pilih di TPS itu sudah sesuai dengan daftar pemilih tetap (DPT) yang ada. 

“Jika tidak membawa e-KTP menggunakan mekanisme ini sebenarnya bisa angka 1 tapi dan angka 2, pemilih tersebut tercantum dalam DPT berdasarkan hasil pengecek KPPS pada pengecekan DPT online,” kata Majelis Hakim. 

“Memang boleh tidak membawa e-KTP tetapi harus ada identitas lain yang bisa meyakinkan petugas untuk melapis atau mengganti itu, kenapa ibu hanya mencantumkan 1 saja padahal itu ada kata dan berartikan dua-duanya atau salah satu bu,” sambung Majelis Hakim mempertanyakan. 

Sementara itu, praktisi hukum kepemiluan, Resmen Khadafi menilai bahwa persidangan pembuktian tersebut membuktikan KPU dalam melakukan telaah hukum kurang hati-hati.

“Mereka (KPU Barito Utara) kurang berhati-hati dalam merespon surat rekomendasi Bawaslu Barito Utara,” ucap Resmen kepada media menanggapi persidangan pembuktian Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilkada Barito Utara, Rabu, 19 Februari 2025.

Terlebih, kata Resmen, dasar hukum yang digunakan adalah Surat Edaran Ketua KPU nomor 2734 tertanggal 26 November 2024 dalam menolak pelaksanaan pemilihan suara ulang (PSU). 

“Dalam surat edaran tersebut, ada syarat tambahan bagi pemilih agar dapat menggunakan hak pilihnya. Dan syarat tambahan seharusnya disertakan,” ungkap Resmen menambahkan.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya