Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Membenahi Infrastruktur Pertanian Demi Mewujudkan Ketahanan Pangan

OLEH: QOMARUDDIN*
RABU, 19 FEBRUARI 2025 | 16:52 WIB

SWASEMBADA dan ketahanan pangan yang menjadi program prioritas  pemerintahan Bapak Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan besar berupa permintaan beras yang terus meningkat sementara lahan pertanian justru mengalami penyusutan.

Mencetak sawah baru memang opsi terbaik namun lahan baru membutuhkan waktu lama untuk sampai pada tahap produktivitas penuh. Dalam jangka menengah yang bisa dilakukan adalah meningkatkan produktivitas lahan-lahan yang sudah ada.

Apakah produktivitas pertanian masih bisa ditingkatkan?  Jawabannya, bisa. Lahan pertanian di Jawa  yang seluas sekitar 5 juta hektar, produktivitasnya hanya sekitar 57 kuintal per hektar pada tahun 2024.


Sementara di Bali, produktivitasnya bisa mencapai 60,4 kuintal per hektar pada tahun yang sama  Padahal kedua daerah tersebut mempunyai ekosistem pertanian yang tidak berbeda jauh. Bagaimana melakukannya?

Para petani sebenarnya sangat paham bagaimana melakukan efisiensi biaya produksi sambil terus meningkatkan produktivitas. Persoalan sebenarnya adalah terdapat cukup banyak variabel yang tidak bisa dikontrol secara langsung oleh petani. Misalnya serangan hama, kondisi cuaca,  saluran irigasi yang kurang bagus, jaringan jalan dari areal persawahan dan variabel lainnya.

Survei Ekonomi Pertanian yang dilakukan BPS pada tahun 2024 memperlihatkan keluhan utama petani adalah masalah hama, faktor alam dan akses infrastruktur. Ketiga masalah ini semuanya tidak bisa dikendalikan secara langsung oleh petani.

Di sinilah pemerintah seharusnya melakukan intervensi, memperbaiki infrastruktur pertanian. Kendati waduk  dan bendungan besar sudah banyak dibangun, namun jaringan irigasi yang menyambungkan waduk dan bendungan besar dengan sawah belum terkelola dengan baik. Masih cukup banyak spot saluran irigasi dan penampungan sementara  (waduk atau rawa skala kecil) yang belum terbangun.  

Akibatnya, air terlalu cepat mengalir ke laut yang kurang termanfaatkan secara optimal bagi lahan pertanian. Air irigasi yang tak termanfaatkan secara optimal ini tentu saja  berpengaruh bagi lahan-lahan pertanian di sekitar aliran sungai tersebut.
 
Bayangkan, apabila lahan padi yang sudah menguning, tiba-tiba mengalami banjir atau kekurangan air, produksi  padi pasti langsung mengalami kegagalan.  Petani pun akan mengalami mimpi buruk karena tiga bulan selanjutnya kesejahteraanya langsung menurun. Mimpi buruk itu akan terulang apabila pada saat musim  tanam tiba, ternyata lahan sawah belum juga  teraliri air yang memadai. Akibatnya, tanam padi mengalami  pemunduran jadwal yang nantinya akan berpengaruh pada hasil produksinya.
    
Dari sini, pengelolaan jaringan irigasi yang  menjangkau dan mampu mengaliri air seluruh lahan sawah menjadi impian petani. Kalau hal ini terwujud, petani tidak perlu lagi rebutan air menjelang musim tanam atau saat panen. Isu lahan emas dan lahan kering akan sirna karena semua sawah teraliri air secara proporsional. Dan yang lebih penting lagi, petani bisa panen tiga kali dalam satu musim tanam. Ini merupakan lompatan produktivitas yang sangat tinggi. Kenyataan sekarang ini, petani hanya bisa panen dua kali dalam satu musim tanam.
    
Dukungan infrastruktur lainnya adalah jaringan jalan sawah. Hamparan lahan sawah yang sangat luas di Jawa, kalau tanpa didukung jaringan jalan sawah yang  menghubungkan lahan sawah dengan rumah petani, akan memboroskan biaya angkut hasil pertanian dan risiko tercecer yang sangat banyak.
    
Biaya ini dapat ditekan apabila pemerintah mampu mendesain  sistem jaringan jalan sawah yang diintegrasikan dengan jaringan irigasi. Terciptanya  jaringan jalan dan irigasi  sangat diperlukan agar sawah-sawah yang jauh dari sungai bisa teraliri air secara memadai dan petani dapat mengangkut hasil panen dengan biaya yang rendah.

Mesin-mesin pertanian pun dapat menjangkau sawah yang cukup jauh lokasinya. Akan sangat menarik apabila jaringan jalan tersebut tersambung dengan gudang lumbung pangan modern yang sudah dilengkapi dengan teknologi pengering gabah dan mesin penggilingan.  

Dari sini, petani akan mempunyai tiga opsi; menahan hasil produksi, melempar hasil produk dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) atau menjual dalam bentuk beras. Ketiga opsi ini mempunyai harga jual yang jauh lebih baik dibandingkan dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) yang harganya lebih rendah.

Apabila langkah-langkah ini dilakukan, saya yakin produktivitas lahan pertanian semakin meningkat yang nantinya berujung pada peningkatan kesejahteraan petani dan mendukung ketahanan pangan. Saya rasa, langkah kecil yang berdampak besar inilah yang harus dilakukan.

*Penulis adalah Sekretaris DPC Partai Demokrat Lamongan

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya