Berita

Unjuk rasa menolak program MBG di Papua/Net

Politik

Gerindra Papua: Demo Menolak Program MBG Jangan Dipolitisasi

SELASA, 18 FEBRUARI 2025 | 04:40 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Ketua DPD Gerindra Papua, Yanni, mengimbau agar demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar Papua menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dipolitisasi oleh pihak manapun. Menurutnya, aspirasi adalah hal yang normal dalam negara demokrasi, namun harus disampaikan dengan cara yang tidak provokatif dan destruktif.

"Program MBG adalah program yang mulia, demikian juga dengan pendidikan gratis yang sedang diupayakan oleh pemerintah. Keduanya sama-sama penting dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul," ujar Yanni dalam keterangannya di Jayapura, Selasa 18 Februari 2025. 

Program MBG ini baru dimulai, lanjut Yanni, sehingga tidak bisa dinilai hanya dalam hitungan bulan.


Menurut Yanni, program MBG memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar terhadap kualitas pendidikan dan pembangunan SDM. Banyak negara yang telah berhasil meningkatkan kualitas SDM melalui program serupa, seperti Brasil, India, dan Korea Selatan.

Di Brasil, Program Fome Zero yang dimulai pada 2003 telah berhasil mengurangi kelaparan dan meningkatkan kesejahteraan anak-anak di sekolah-sekolah. Di India, melalui Program Mid-Day Meal Scheme, telah mengurangi angka kekurangan gizi di kalangan anak-anak dan mendorong mereka untuk lebih rajin bersekolah. 

Begitupun di Korea Selatan, Program School Feeding telah berjalan dengan sukses dan menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pendidikan mereka.

Dalam konteks teori pembangunan, Yanni merujuk pada "Human Capital Theory" yang diperkenalkan oleh Gary Becker. Teori ini menekankan pentingnya investasi dalam pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. 

Yanni menegaskan bahwa pendidikan adalah kebutuhan yang mendesak, namun kesehatan dan gizi juga perlu diperhatikan demi terciptanya pendidikan yang berkualitas. 

"Tanpa gizi yang memadai, pendidikan tidak akan memberikan hasil yang optimal. Program MBG mendukung pendidikan dengan menyediakan sumber daya yang memungkinkan anak-anak untuk belajar lebih baik," jelasnya.

Jangan Dipertentangkan

Yanni juga menekankan bahwa pendidikan gratis dan program MBG tidak bisa dipertentangkan, tetapi harus berjalan bersama. 

"Kedua program ini saling mendukung dalam menciptakan SDM yang unggul. Pendidikan gratis memberikan akses belajar yang lebih luas, sementara program MBG memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang baik sehingga mampu belajar dengan optimal," jelasnya.

Dalam konteks Papua, menurut Yanni, masalah pengembangan pendidikan telah diatur tersendiri dalam UU Otonomi khusus. Di mana telah diatur bahwa sekurang-kurangnya 30 persen dana Otsus harus dialokasikan untuk pendidikan di Papua. Yang perlu dilakukan sekarang adalah pengawasan terhadap pelaksanaan UU tersebut.

Yanni mengingatkan bahwa program MBG lahir dari kajian mendalam oleh Presiden Prabowo Subianto, yang mempelajari berbagai negara dan melakukan pantauan terkait kecukupan gizi anak sekolah selama bertahun-tahun. 

"Ini adalah impian Pak Prabowo dalam menciptakan SDM yang unggul," tambahnya.

Selanjutnya Yanni menyatakan sependapat dengan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, yang menyatakan bahwa menolak program MBG adalah hak setiap individu. Namun demonstrasi yang bertujuan membatalkan program tersebut tidak boleh menghambat hak masyarakat lain yang ingin menerima manfaat dari program mulia tersebut.

"Anak-anak yang merasa terbantu dengan program ini harus dihargai, dan itu jumlahnya puluhan juta," demikian Yanni.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

UPDATE

Board of Peace: Pergeseran Rational Choice ke Pragmatisme Politik

Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:45

Ketua BEM UGM Dituduh LGBT Hingga Sering Nyewa LC

Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:25

Kawasan Industri Jateng Motor Baru Transformasi Ekonomi Nasional

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:58

Ustaz Adi Hidayat Sambangi Markas Marinir

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:42

Ketua BEM UGM: Semakin Ditekan, Justru Kami Semakin Melawan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:26

Praktisi Hukum: Pasal 2 dan 3 UU Tipikor Bisa jadi Alat Kriminalisasi Pengusaha

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:06

PBNU dan Majelis Alumni IPNU Peroleh Wakaf Alquran di Bulan Ramadan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:45

Kejagung Tegaskan Hukuman Mati ABK di Kasus Narkoba sesuai Fakta Hukum

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:30

Mantan Danyon Sat 71.2 Kopassus Jabat Dandim 0509 Kabupaten Bekasi

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:15

KPK Bakal Kulik Dugaan Aliran Uang Suap Importasi ke Dirjen Bea Cukai

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya