Berita

Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance/Net

Dunia

Wapres AS J.D. Vance Dikecam Usai Terang-terangan Intervensi Pemilu Jerman

MINGGU, 16 FEBRUARI 2025 | 14:19 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance dikecam oleh pemerintah Jerman karena dianggap ikut campur terhadap dinamika politik di negara itu. 

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengecam pidato Vance di Konferensi Keamanan Munich, di mana ia mendesak Jerman untuk mencabut “firewall” mereka dan mengizinkan partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) masuk ke pemerintahan federal.

Scholz menegaskan bahwa dukungan terhadap AfD bertentangan dengan komitmen Jerman untuk tidak pernah membiarkan fasisme bangkit kembali. 


"Komitmen untuk tidak pernah lagi tidak dapat didamaikan dengan dukungan untuk AfD," tegas Scholz di hadapan para pemimpin dunia yang hadir dalam konferensi tersebut, seperti dimuat Telegraph pada Minggu, 16 Februari 2025. 

Scholz juga menuding AfD telah meremehkan kekejaman Nazi, termasuk kamp konsentrasi di Dachau yang dikunjungi Vance pada hari Jumat lalu, 14 Februari 2025.

Ia menegaskan bahwa Jerman tidak akan menerima campur tangan pihak luar dalam proses demokrasi mereka. 

“Itu tidak dilakukan, tentu saja tidak di antara teman dan sekutu. Ke mana demokrasi kita akan bergerak selanjutnya, terserah kita untuk memutuskan,” ujar Scholz.

Pernyataan tegas Scholz ini mendapat dukungan dari berbagai politisi Jerman lainnya. 

Friedrich Merz, pemimpin Partai Demokrat Kristen (CDU) yang saat ini memimpin jajak pendapat untuk kanselir, turut mengkritik pidato Vance. 

Sementara itu, Partai Demokrat Sosial yang dipimpin Scholz berada di posisi ketiga atau keempat dalam survei, dengan AfD di posisi kedua. 

Pada hari Jumat, 14 Februari 2025 di Munich, kandidat kanselir dari AfD, Alice Weidel, dilaporkan bertemu dengan Vance.

AfD, yang sebagian fraksinya diklasifikasikan sebagai ekstremis oleh intelijen Jerman, menghadapi pengucilan politik oleh partai-partai utama di Parlemen Jerman.

Beberapa anggota AfD bahkan telah dihukum karena melanggar hukum Jerman yang melarang penggunaan simbol dan slogan Nazi. 

Praktik pengucilan politik ini dikenal sebagai “firewall,” yang oleh Vance dalam pidatonya dinilai sebagai penghalang bagi suara sah pemilih.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich, Vance mengkritik kebijakan Eropa terhadap kebebasan berbicara, mengklaim bahwa pembatasan tersebut merupakan ancaman yang lebih besar daripada isu pertahanan NATO. 

Namun, para hadirin yang awalnya berharap mendengar rencana pemerintahan Trump terkait perundingan damai Ukraina justru dikejutkan oleh fokus Vance pada isu kebebasan berbicara dan migrasi.

Scholz dengan tajam menanggapi kritik Vance tersebut dalam sesi tanya jawab. 

Saat ditanya oleh pemimpin redaksi The Economist, Zanny Minton Beddoes, apakah ada poin dari pidato Vance yang patut dipertimbangkan, Scholz menjawab dengan sarkasme yang disambut tawa hadirin. 

“Maksud Anda semua diskusi yang sangat relevan tentang Ukraina dan keamanan di Eropa?” sindir Scholz.

Scholz juga membela kebijakan Jerman dan Eropa terkait pembatasan ujaran kebencian.

"Kebebasan berbicara di Eropa berarti Anda tidak menyerang orang lain dengan cara yang melanggar hukum di negara kita,” tegasnya. 

Ia menambahkan bahwa ujaran kebencian, baik di dunia digital maupun analog, tidak boleh menjadi bagian dari debat publik di masyarakat yang demokratis.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya