Berita

Peneliti BRIN Prof. Danny Hilman Natawidjaja, dalam diskusi publik bertajuk “Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: Suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan” di Graha Utama, Gedung Ki Hajar Dewantara lantai 3, Kemendikdasmen, Senin 11 Februari 2025/Rep

Politik

Kontroversi Gunung Padang, Temuan yang Bisa Mengubah Sejarah

SELASA, 11 FEBRUARI 2025 | 21:52 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Keberadaan Gunung Padang yang merupakan situs megalitikum di Cianjur, Jawa Barat, telah lama dikenal dalam dunia arkeologi Indonesia. Penelitian intensif yang dilakukan oleh Tim Riset Terpadu Mandiri (TTRM) sejak 2011 mengangkat namanya ke panggung internasional. 
Namun, dibalik ketenarannya, kontroversi ilmiah terus menyelimuti situs ini.
Hal ini pun dibahas tuntas peneliti BRIN Prof. Danny Hilman Natawidjaja, dalam diskusi publik bertajuk “Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: Suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan”  di Graha Utama, Gedung Ki Hajar Dewantara lantai 3, Kemendikdasmen, Senin 11 Februari 2025.

Prof. Danny membeberkan banyak kontroversi yang berseliweran tentang Gunung Padang. Mulai dari memperdebatkan apakah situs ini berbentuk piramida atau punden berundak, juga terbentuk atas alamiah atau buatan manusia.


"Ada juga yang bilang tersimpan koin purba, adanya emas 2 ton di bawah gunung Padang, itu ngaco, lalu Gunung Padang adalah pembangkit listrik kuno, ini lebih ngawur lagi," kata Prof Danny.

Padahal isu utama adalah perbedaan pandangan mengenai struktur lapisan budaya di Gunung Padang. Tim TTRM tegas menyatakan bahwa Gunung Padang bukan hanya memiliki satu lapisan budaya, tetapi tiga. 

Lapisan pertama, yang merupakan struktur teras batu di permukaan punden berundak, diperkirakan berusia antara 3.000 hingga 4.000 tahun. Di bawahnya terdapat lapisan kedua dan ketiga yang lebih tua. 

Danny Hilman menjelaskan bahwa tidak ada perdebatan mengenai Unit 1 yang jelas merupakan susunan buatan manusia, tetapi Unit 2 dan 3 menimbulkan pertanyaan besar. 

Apakah unit tersebut adalah formasi batuan alamiah yang dikenal sebagai columnar joint, atau justru merupakan struktur yang disusun manusia jauh sebelum Unit 1?

"Satu hal yang kami ingin menjelaskan yang namanya batuan colom tidak ada yang alamiah," jelasnya.

Namun, penelitian mereka menghadapi tantangan besar. Salah satu momen paling kontroversial adalah ketika publikasi ilmiah hasil penelitian mereka ditarik kembali oleh penerbit jurnal. 

Menurut Prof. Danny, retraction ini dilakukan tanpa dasar analisis dan argumentasi ilmiah yang memadai, melainkan atas desakan beberapa pihak anonim.

"Seharusnya jurnal editornya dipanggil di sini untuk dimintai pertanggungjawaban," tegas Danny.

Penarikan jurnal tersebut menjadi pukulan bagi penelitian Gunung Padang. Namun, bagi Prof. Danny dan timnya, ini bukan akhir dari perjalanan. 

Mereka berpendapat bahwa temuan ini menantang pemahaman sejarah yang selama ini diterima secara luas, bahwa peradaban manusia baru berkembang sekitar 11.000 tahun lalu dengan revolusi pertanian. 

Namun jika lapisan-lapisan tua di Gunung Padang benar-benar ada sebelum awal peradaban, maka sejarah peradaban perlu ditulis ulang.

Gunung Padang kini bukan sekadar situs arkeologi, melainkan medan pertempuran intelektual. Perdebatan ilmiah yang terjadi bukan hanya tentang batu dan umur lapisan tanah, tetapi tentang bagaimana manusia memahami asal-usul peradabannya sendiri.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya