Berita

Ilustrasi/Net

Global

Teror Penculikan di Pakistan, Bukti Lemahnya Perlindungan Anak

SELASA, 11 FEBRUARI 2025 | 14:46 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Dalam beberapa bulan terakhir, kota terbesar di Pakistan ini diguncang oleh serangkaian kasus penculikan anak yang mengejutkan dan menyoroti lemahnya sistem perlindungan anak di negara tersebut. 

Insiden yang semakin meningkat telah menimbulkan ketakutan di kalangan warga, memicu kemarahan publik, dan mengungkap ketidakmampuan otoritas dalam menangani masalah ini.  

Kasus terbaru yang menarik perhatian nasional melibatkan tiga anak berusia empat hingga tujuh tahun yang diculik di siang bolong. 


Tragisnya, satu anak ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di lokasi terpencil dengan tanda-tanda penyiksaan. Sementara dua lainnya masih hilang, meninggalkan keluarga dalam ketidakpastian dan keputusasaan.  

Seorang warga Karachi, Rahim Akbar, yang kehilangan keponakannya dalam kasus penculikan, mengungkapkan keprihatinannya. 

"Kami telah melapor ke polisi sejak hari pertama, tetapi mereka tidak menanggapi dengan serius. Sekarang, kami hanya bisa berharap anak kami ditemukan dalam keadaan selamat," ujarnya dengan suara bergetar, seperti dikutip dari The Asian Age pada Selasa, 11 Februari 2025.

Menurut laporan dari lembaga penegak hukum setempat, ratusan anak telah hilang dalam beberapa tahun terakhir, dengan banyak kasus yang belum terpecahkan. 

Meskipun jumlah kasus meningkat, tanggapan dari otoritas sering kali lamban dan tidak efektif, menambah penderitaan keluarga korban.   

Penculikan anak di Karachi memiliki berbagai motif, mulai dari permintaan tebusan hingga eksploitasi di pasar adopsi ilegal dan perdagangan tenaga kerja. 

Lebih mengkhawatirkan, beberapa korban jatuh ke tangan jaringan kriminal yang memperdagangkan anak-anak untuk tujuan yang lebih mengerikan.  

Seorang aktivis perlindungan anak, Amina Baloch, menegaskan bahwa situasi ini bukan hanya soal kejahatan, tetapi juga kegagalan sistemik. 

"Ini bukan hanya masalah kriminalitas biasa. Ada celah besar dalam sistem perlindungan anak di Pakistan yang memungkinkan hal ini terus terjadi," kata dia.  

Di tengah meningkatnya penculikan, keluarga korban mengeluhkan respons yang buruk dari pihak berwenang. Investigasi sering kali terhenti, bukti sulit ditemukan, dan dalam banyak kasus, laporan awal tidak segera ditindaklanjuti.  

Seorang ayah korban, Farhan Malik, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepolisian. 

"Kami merasa ditinggalkan. Tidak ada urgensi dari polisi, tidak ada koordinasi antara pihak berwenang. Sementara itu, anak-anak kami terus menghilang," ujarnya dengan penuh emosi.  

Kurangnya sumber daya, pelatihan yang tidak memadai, serta dugaan korupsi di kepolisian semakin memperburuk situasi. 

Laporan dari beberapa organisasi hak asasi manusia menunjukkan bahwa sebagian besar kasus penculikan anak tidak mendapat perhatian yang layak, membuat pelaku tetap bebas berkeliaran.  

Selain luka emosional bagi keluarga korban, krisis penculikan ini juga menanamkan ketakutan di seluruh masyarakat Karachi. 

Orang tua kini lebih berhati-hati dalam mengizinkan anak-anak mereka bermain di luar rumah atau pergi ke sekolah tanpa pengawasan ketat.  

Psikolog anak, Yasmin Qureshi, menjelaskan dampak jangka panjang bagi anak-anak yang selamat dari penculikan. 

"Banyak dari mereka mengalami trauma berat yang berdampak pada kehidupan mereka di masa depan. Mereka sering kali mengalami PTSD, kecemasan, dan ketakutan yang terus menghantui," ujarnya.  

Dengan meningkatnya kasus penculikan anak, seruan untuk reformasi perlindungan anak semakin lantang. 

Para aktivis dan keluarga korban menuntut pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam menangani krisis ini, termasuk memperkuat unit khusus kepolisian, memperketat hukum terhadap pelaku kejahatan anak, serta meningkatkan koordinasi antara lembaga terkait.  

“Kami membutuhkan sistem yang lebih baik, tidak hanya untuk menangkap pelaku tetapi juga untuk mencegah penculikan ini terjadi sejak awal,” kata Amina Baloch. 

Krisis ini telah menjadi pengingat menyakitkan bahwa keselamatan anak-anak di Pakistan masih jauh dari terjamin. 

Tanpa upaya yang lebih serius dari pemerintah dan masyarakat, gelombang penculikan ini akan terus menghantui Karachi dan kota-kota lain di Pakistan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya