Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia/RMOL

Bisnis

Bahlil Kalkulasi Subsidi LPG 3 Kg Tak Tepat Sasaran hingga Rp 26 Triliun

SABTU, 08 FEBRUARI 2025 | 09:17 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa ada potensi inefisiensi subsidi LPG 3 kilogram (Kg), karena tidak tepat sasaran. 

Dalam salah satu program TV One malam, yang dikutip RMOL, Sabtu 8 Februari 2025, Bahlil mengatakan ia mendapat sejumlah laporan dari aparat penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang menyatakan program subsidi LPG Melon rentan terjadi kerugian jika tidak dilakukan penataan distribusi dan harga yang lebih jelas. 

"Perintah Presiden Prabowo ke semua orang di kabinet adalah memastikan uang negara satu sen pun harus pasti sampai ke masyarakat. Penggunaannya harus tepat sasaran sampai ke rakyat. Apalagi LPG ini menyangkut hajat hidup orang banyak," ujar Bahlil.


Subsidi yang diberikan oleh negara untuk setiap tabung gas melon sebesar Rp36.000, sehingga harga gas melon per tabung dari Pertamina ke agen dengan seharga Rp12.750 per tabung, dan harga dari agen ke pangkalan dikalkulasi maksimal hanya Rp15.000.

"Nah, dari pangkalan ke pengecer ini yang nggak ada system. Enggak ada aplikasi yang bisa memantau. Yang terjadi, seharusnya rakyat maksimal membeli satu tabung seharga Rp18.000 sampai Rp19.000. Tapi fakta di lapangan, ada yang beli sampai Rp25.000 atau Rp30.000," sambungnya menjelaskan. 

Selama ini, lanjut mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) itu, pemerintah bisa memantau langsung proses distribusi dari agen ke pangkalan karena terlacak melalui aplikasi, yang artinya sudah tertata dengan baik oleh sistem.

Tetapi, Bahlil tak memungkiri adanya tiga titik celah bagi oknum tertentu melakukan cawe-cawe permainan gas LPG, salah satunya dengan penentuan harga dari pangkalan ke pengecer yang tidak terpantau, sehingga ada potensi ketidaktepatan subsidi yang dikucurkan pemerintah. 

"Jika kita asumsikan, loss-nya total ada 25 sampai 30 persen, kali Rp87 triliun, itu sama dengan Rp25 hingga Rp26 triliun. Bayangkan. Inilah, dalam rangka implementasi apa yang diarahkan oleh Presiden Prabowo, memastikan yang dikeluarkan pemerintah harus tepat sasaran. Itu niatnya," demikian Bahlil menambahkan.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya