Berita

Ilustrasi/Istimewa

Publika

Membongkar Label ''Proto-Teroris''

OLEH: ROSDIANSYAH
KAMIS, 06 FEBRUARI 2025 | 09:24 WIB

APARAT keamanan dari negeri yang digembar-gemborkan sebagai land of freedom ternyata saat ini begitu paranoid terhadap segala label muslim. Bukan cuma wajah kearab-araban yang dicurigai sebagai calon teroris, melainkan tampilan busana pun bisa memantik curiga. Itu dampak sejak peristiwa 9/11 di New York lebih dari dua dekade silam. Perilaku Islamofobia merebak di negeri berjuluk bumi kebebasan itu.

Masa remaja seorang muslim menjadi tak nyaman. Sorot mata penuh curiga dari warga tak ramah selalu tertuju pada perempuan berhijab atau pria berwajah non-Kaukasoid berjenggot. Puncak kecurigaan adalah tuduhan dan penangkapan tanpa alasan dan bukti. Aparat hanya ingin memenuhi hasrat mempersekusi sampai mengkriminalisasi. Seperti peristiwa seorang siswa bernama Ahmed Mohamed di sebuah sekolah di Irving, Texas.

Mohamed harus berurusan dengan aparat setempat usai seorang guru melaporkannya karena Mohamed membawa jam digital buatannya ke dalam kelas. Sang guru paranoid mengira jam digital itu perangkat bom, lalu dilaporkanlah Mohamed ke polisi. Begitu tiba di lokasi, polisi langsung memborgol Mohamed dan membawanya ke rumah tahanan remaja. Menurut penulis buku ini, respons aparat tak proporsional dan berlebihan.


Aparat atau pihak sekolah tidak akan melakukan langkah itu jika yang membawa jam digital buatan tersebut adalah remaja kulit putih. Perlakuan rasial, diskriminatif, dan mempersekusi itu hanya berdasar kecurigaan tanpa bukti. Begitupula, perlakuan aparat bandara di AS yang kerap curiga hanya berdasar identitas agama. Jika di kartu identitas tertulis Islam atau muslim, maka bagi aparat, itu sudah indikasi teroris. Bagi aparat, ini perkara ideologi.

Menurut teoritisi budaya, Stuart Hall, saat bukti-bukti reaksi sekaligus ancaman dari aparat begitu nyata, maka itulah saat terjadinya perpindahan ideologis. Dari ideologi kebebasan menjadi ideologi kepanikan. Negara yang berwujud aparat panik tingkat dewa. Semua warga gampang dituduh, dipojokkan bahkan dipersekusi. 

Tak ada lagi kebebasan warga. Tak ada lagi ruang pembuktian. Yang ada hanyalah kebebasan aparat yang melibas warga atas nama ideologi kepanikan. Bagi aparat, perilaku warga menjadi sumber ancaman utama.

Dalam konteks AS, sumber ancaman utama itu adalah remaja muslim. Kondisi panik aparat dampak dari serangan teroris di masa lalu telah mendorong aparat dan sebagian besar warga kulit putih berimajinasi. Bahwa serangan teroris berikutnya bakal muncul dari remaja muslim. Oleh karena itu, remaja muslim harus diawasi, wajib dicurigai, bahkan dipersekusi lalu dijebloskan ke penjara remaja. Situasi ini berlangsung bertahun-tahun sejak usai 9/11 bahkan memuncak pada masa kepresidenan Trump.

Shenila Khoja-Moolji, penulis buku ini, Gurubesar Sosiologi Universitas Georgetown, AS. Ia melakukan observasi mendalam terhadap berbagai peristiwa tragis yang dialami remaja muslim, sang tertuduh calon teroris. Ia menyebut aparat sedang mengubah remaja tertuduh menjadi proto-teroris. Proses konstruksi menjadi proto-teroris ini, tegas Khooja-Moolji, adalah proses rasialisasi. Remaja muslim dicap sebagai najis atau ancaman sekaligus aparat benar-benar mengabaikan prasangka tak bersalah.

Untuk memperkuat argumennya, Shenila Khoja-Moolji merujuk ke tesis Gilles Deleuze dan Felix Guattari, juga pada Miriam Ticktin, Antropolog The City University of New York (CUNY). Miriam Ticktin berpendapat bahwa politik imajinasi ketidakbersalahan (innocence) bisa terlihat dari pencarian ''ruang kemurnian''. Sedangkan Tesis Deleuze dan Guattari menyebut bahwa ras merupakan nama lain dari ketidakmurnian yang sengaja dimunculkan oleh sebuah sistem dominasi.

Dengan dua kerangka teoritik itu, Shenila Khoja-Moolji kemudian menjabarkan, bahwa rasialisasi terhadap muslim di AS memang sengaja ditujukan kepada para remaja muslim. Setelah aparat melabeli seorang remaja muslim sebagai proto-teroris, maka label itu melekat sepanjang hayat sang remaja. Label ini kian menguat seiring dengan pembingkaian (framing) budaya yang berlangsung di AS saat ini.

Framing remaja muslim laki-laki sebagai proto-teroris secara politis dimanfaatkan sedemikian rupa oleh oknum elit politik AS. Bukan saja bertujuan memojokkan warga muslim AS, melainkan juga framing itu berguna untuk menjustifikasi kenaikan anggaran keamanan dan militer, terutama untuk memberi alasan bahwa situasi domestik butuh kenaikan anggaran pengawasan.

Akhirulkalam, sebutan proto-teroris ini sesungguhnya sempat menguat juga di Indonesia. Oknum-oknum elite politik dari partai politik tertentu yang memandang ormas-ormas muslim tertentu di Indonesia berkecenderungan radikal beberapa tahun silam lalu menuding para anggota ormas tersebut sebagai ''proto-teroris''. 

Tujuan pelabelan ini juga di antaranya untuk menaikkan anggaran keamanan dan pengawasan serta biaya buzzers untuk menakut-nakuti warga agar jangan coba-coba kritis kepada pemerintah.

Penulis adalah akademisi dan periset

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya