Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Manis di Bibir, Pahit di Jantung

MINGGU, 02 FEBRUARI 2025 | 23:18 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

AH, minuman bergula —sekali teguk, betapa Anda merasa seperti tengah bercengkerama dengan surga. Tapi, siapa sangka, surga itu ternyata berdiri di atas tumpukan gula, lemak, dan statistik kematian yang mengerikan.

Kalau minuman bergula bisa bicara, mereka mungkin akan berkata, “Kami hanya ingin memaniskan hari Anda, bukan menghapus tahun-tahun hidup Anda dan mengantar pada kematian!” Namun, fakta keras dari riset terbaru membuktikan sebaliknya.

Menurut studi yang diterbitkan di Nature Medicine, sebanyak 2,2 juta kasus diabetes tipe 2 serta 1,2 juta kasus penyakit kardiovaskular di tahun 2020 dapat ditelusuri kembali ke minuman bergula. Ah, betapa ironisnya! Sambil mengangkat gelas soda, kita rupanya juga sedang mengangkat beban kesehatan global yang makin tak tertahankan.


Penduduk Amerika Latin, Karibia, dan Afrika sub-Sahara, menurut studi tadi, merupakan korban utama manisnya gula yang sangat berbahaya. Bayangkan, di sub-Sahara, satu dari lima kasus baru diabetes tipe 2 terjadi akibat minuman bergula ini. Di kita? Belum ada studinya.

Dan jangan salahkan cuaca panas di sana. Mungkin juga di kita. Justru perusahaan-perusahaan minuman bergula ‘membakar’ mereka dengan iklan tak kenal henti, di televisi hingga Tiktok. Sungguh, eksploitasi komersial ini bagai kisah cinta beracun antara kapitalisme dan kalori.

Kalau Anda berpikir pendidikan tinggi akan menyelamatkan kita dari ‘manis-manis mematikan’, pikirkan lagi. Di beberapa wilayah seperti Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan, masih menurut studi tadi, semakin tinggi pendidikan orang, semakin banyak gula yang mereka seruput.

Rupanya, semakin mereka cerdas, semakin manis pula selera mereka. Mungkin, mereka berpikir gelar doktor akan melindungi pankreas mereka dari serangan gula. Ternyata, tidak. Malah kematian yang lebih cepat menanti. Seolah otak tak mengenal kematian.

Minuman bergula termasuk kelompok makanan ultra-proses, kategori yang namanya saja sudah cukup membuat para dokter bergidik. Tapi jangan buru-buru mencemooh; soda justru primadona di kategori ini. Satu studi di Lancet menyatakan, soda termasuk salah satu ‘penjahat’ terburuk yang bertanggung jawab atas lonjakan diabetes tipe 2.

Namun, taipan perusahaan soda tak tinggal diam. Ketika negara-negara kaya mulai sadar akan bahaya ini, mereka mengalihkan pandangan ke negara-negara berkembang. Dengan senyum manis ala iklan, mereka menawarkan kebahagiaan instan dalam bentuk minuman bersoda. Tentu saja, itu dengan biaya: kesehatan masyarakat yang hancur lebur.

Di tengah gemuruh perdebatan tentang minuman bergula, muncul pertanyaan: jika tidak gula, apa? Para pakar menyarankan air berinfus buah, teh herbal, atau kombucha. Tapi, mari kita jujur. Berapa banyak dari kita yang ingin menyeruput air lemon hangat ketika yang kita inginkan hanyalah sensasi ‘pssst’ dari kaleng soda dingin?

Di sinilah letak tantangannya. Di banyak kebudayaan, minuman bergula sudah jadi kebiasaan suguhan pagi di rumah atau jamuan di hajatan kelas kampung hingga hotel, dan mengubah kebiasaan itu perkara rumit. Mengubah kebiasaan berbasis gula? Itu seperti meminta tikus untuk berhenti makan keju.

Studi ini menunjukkan, minuman bergula bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga masalah budaya, politik dan ekonomi. Sementara negara-negara mencoba mengenakan pajak gula, perusahaan soda malah menggempur kita dengan iklan lebih gencar. Negara pun tak peduli, tak pernah mengatur soal ini.

Studi soal betapa berbahayanya minuman bergula ini merupakan alarm keras, bukan hanya untuk individu, tapi juga bagi pemerintah dan industri. Kita tidak bisa terus menutup mata terhadap kenyataan pahit ini. Kalau terus begini, kita bukan hanya akan kehabisan gula dan mengimpornya hingga Rp 33 triliun, tapi juga masa depan.

Jadi, lain kali ketika Anda meraih kaleng soda, ingatlah: setiap teguk itu mengandung investasi yang sangat buruk bagi kesehatan. Ia memang mendatangkan kebahagiaan sesaat, tapi sekaligus membuat Anda pelan-pelan terjerat penyakit kronis jangka panjang, pada jantung dan diabetes Anda yang tak tersembuhkan. Pilihan ada di tangan Anda.

Teguklah dengan bijak. Atau, jika ingin lebih sadar diri dan bijak, teguklah air putih saja. Siapa tahu, Anda justru menemukan keindahan dalam kesederhanaan. Karena dalam dunia yang semakin manis ini, mungkin yang kita butuhkan hanyalah sedikit rasa tawar untuk kembali ke jalan yang benar.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an




Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya