Berita

Presiden Cina Xi Jinping berbicara dengan jamaah Masjid Xincheng di Yinchuan, ibu kota Wilayah Otonomi Ningxia Hui, 19 Juli 2016./Xinhua

Dunia

Calon Ulama di Tiongkok Harus Memahami Pandangan Xi Jinping tentang Agama

KAMIS, 16 JANUARI 2025 | 00:43 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Pokok pikiran Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping tentang agama menjadi salah satu materi dalam ujian bagi calon ulama di Hunan.

Calon Imam Hui yang ingin lulus dalam ujian itu tidak bisa tidak haru menguasai pikiran-pikiran Xi Jinping tentang relasi antara agama dan negara komunis Tiongkok. 

Shaoyang, kota setingkat prefektur di Provinsi Hunan, merupakan salah satu kota di Tiongkok yang memiliki kaum minoritas cukup besar, sekitar 40 ribu Muslim Hui. Asosiasi Islam Shaoyang, yang merupakan bagian dari Asosiasi Islam Tiongkok yang dikendalikan pemerintah, telah meluncurkan program pada bulan Desember 2024 untuk menguji kualitas “pengetahuan teoritis” para imam dan personel lain yang mengawasi 24 masjid setempat.


Bitter Winter menyebutkan, semua imam telah diminta untuk lulus ujian. Meskipun beberapa pertanyaan sederhana menyangkut pengetahuan dasar tentang Islam, pokok bahasan utama ujian tersebut meliputi pidato dan pernyataan Xi Jinping tentang pekerjaan keagamaan, Peraturan nasional tentang Urusan Keagamaan, Peraturan tentang Urusan Keagamaan Provinsi Hunan, dan Langkah-langkah untuk Pengelolaan Keuangan Tempat Kegiatan Keagamaan.

Uji coba tersebut, menurut siaran pers yang mengiklankan acara tersebut, dirancang untuk membantu komunitas Islam di Shaoyang terus meningkatkan sikap politiknya dan memperkuat kesadarannya terhadap supremasi hukum. Uji coba ini bertujuan untuk menginspirasi individu agar secara aktif mempelajari dan mempromosikan kebijakan, hukum, dan peraturan tentang agama.

Selain itu, inisiatif ini berupaya untuk meningkatkan pendidikan mandiri, pengelolaan mandiri, dan disiplin diri, serta memastikan pengelolaan praktik keagamaan yang komprehensif dan ketat. 

“Pengelolaan praktik keagamaan yang ketat” bukanlah ungkapan umum. Ungkapan ini menunjukkan kebijakan baru tentang keterlibatan langsung birokrat Front Bersatu, yang tidak lagi memercayai para eksekutif asosiasi keagamaan yang dikendalikan pemerintah untuk menjamin kendali politik penuh, dalam pengelolaan komunitas keagamaan.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya