Berita

Ilustrasi Presiden Prabowo Subianto menghadapi ancaman Proxy War/RMOL

Politik

Peran Intelijen Dilumpuhkan, Ancaman Proxy War Semakin Gencar

RABU, 15 JANUARI 2025 | 15:21 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Penemuan jenazah Perwira Tinggi Brigjen TNI Purn  dengan inisial HO di Marunda Jakarta Utara menjadi perhatian masyarakat, pasalnya korban adalah seorang Purnawirawan Perwira Tinggi TNI yang pernah bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN).

Dalam penelusuran CCTV yang berhasil diungkap oleh pihak Kepolisian setempat, mobil yang dikendarai korban melaju menyusuri Kade 07-08 hingga ke ujung dermaga dan jatuh ke laut.  Peristiwa ini menyedot perhatian masyarakat, mengingat korban adalah seorang Perwira Tinggi Angkatan Darat dengan pangkat Brigjen TNI Purn yang pernah bertugas malang melintang di dunia Intelijen.    

Dari berbagai sumber terpercaya, mobil korban meluncur masuk ke laut dan belum ditemukan. Sempat juga beredar adanya perseteruan antar aparat intelijen yang melatari peristiwa tragis tersebut dan memunculkan beragam polemik di masyarakat adanya proxy yang sengaja melumpuhkan peran intelijen.


Redaksi mencoba untuk mendapatkan informasi awal tentang peristiwa tragis ini dengan menghubungi Marsekal Pertama TNI Purn Muhammad Johansyah seorang Analis Intelijen Politik dan Keamanan Internasional.

Menurut Johansyah, peran intelijen strategis sengaja dilumpuhkan sejak 2017 dan tidak berfungsi secara optimal, akibatnya dari fenomena itu muncul berbagai persoalan atau peristiwa yang terjadi di berbagai daerah. Peristiwa ini dapat dilihat setidaknya dari 2 aspek.
 
Pertama. negara dirugikan, misalnya perdagangan Narkoba di berbagai daerah merusak masa depan bangsa khususnya generasi muda penerus dan masa depan bangsa, maraknya penggalian tambang liar di berbagai daerah bahkan melibatkan warga negara asing, korupsi tambang timah di merugikan negara Rp300 triliun, manipulasi emas di Kementerian ESDM-1000 ton, kasus Sambo, klaim China tentang 9 garis putus (nine dot lines) di Laut China Selatan, Proyek Strategis Nasional PIK I,II dan pagar laut sepanjang 30 km di perairan Kabupaten Tangerang, Banten.     

“Peristiwa-peristiwa yang saya sebut diatas dan dimuat di berbagai media baik cetak-maupun media elektronika dan didiskusikan di bergabai WAG oleh para ahli (teoritisi) maupun praktisi politik dan keamanan internasional masuk dalam ranah Asymmetric Warfare yaitu Perang Asimetris atau Perang Non Konvensional tanpa menggunakan senjata konvensional untuk meruntuhkan keutuhan sebuah negara,” kata Johansyah kepada RMOL, Rabu, 15 Januari 2025.

Menurutnya, ancaman-ancaman "Perang Asimetrik" sudah di halaman dan bahkan sudah masuk ke dalam rumah kita.

Kedua, lanjut Johansyah, peristiwa ini dalam jangka panjang menggerus dan memperlemah kekuatan nasional kita sebagai bangsa mengakibatkan segregasi di kalangan masyarakat membawa dampak dampak buruk  bagi kelangsungan bangsa dan negara.    

“Sebab utama dari semua peristiwa ini adalah tidak berfungsinya Intelijen. Aparat intelijen dan penegak hukum lainnya tidak bekerja dengan prinsip "Presumption of Gulty" dan tidak berwibawa di masyarakat,” jelasnya.  

Masih kata dia, dampak yang lebih besar dari semua peristiwa ini sedang menanti di depan kita.

“Apakah semua kejadian ini alamiah, terjadi dengan sendirinya ?? Jawabnya Tidak. Menurut analisis saya semua kejadian ini adalah proxy yang dimainkan oleh aktor-aktor dalam maupun luar (asing), peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Kesimpulan saya, Intelijen gagal mencegah terjadinya pendadakan strategis," ungkap Johansyah.

Terakhir, Menurut Johansyah, peristiwa-peristiwa ini setidaknya memunculkan keraguan di masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial, apakah negara berhasil meraih Indonesia Emas pada 2045 mendatang genap 100 tahun usia republik?

“Setidaknya harapan masyarakat luas ditambatkan di pundak Presiden Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa ini salah satunya dengan meningkatkan penguatan peran analisis intelijen,” tandasnya.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya