Berita

Ilustrasi (Foto: dailyinvestor.com)

Bisnis

Trump Ancaman Serius, IHSG Merah di 7.064

KAMIS, 09 JANUARI 2025 | 23:47 WIB | OLEH: ADE MULYANA

SEKALIPUN dalam beberapa pekan sebelumnya, sentimen kemenangan Trump dalam pemilihan presiden AS telah disambut positif oleh pelaku pasar di Wall Street, pihak Bank Sentral AS, The Fed nampaknya cenderung berhati-hati terhadap langkah dan kebijakan Trump ke depan. Hal Ini terlihat jelas dalam rilis hasil pertemuan para pimpinan The Fed Desember lalu yang mencermati potensi inflasi yang akan mengancam.

Kebijakan Trump menaikan tarif masuk atas produk asal China, Meksiko, dan Kanada dinilai sangat berisiko menghadirkan ancaman inflasi yang dalam lebih dari setahun terakhir coba diredakan. Lebih jauh The Fed kini menurunkan target penurunan suku bunga menjadi dua kali untuk tahun 2025 dibanding target sebelumnya yang sebanyak empat kali.

Rilis hasil pertemuan pimpinan The Fed tersebut kemudian menjadi peringatan serius bagi pelaku pasar di Wall Street. Kinerja Indeks Wall Street yang di sesi perdagangan sebelumnya telah terpangkas hanya mampu berakhir mixed dan dalam rentang sempit. Investor gagal merealisasikan potensi teknikal rebound usai kemerosotan yang terjadi di sesi sebelumnya akibat terjebak dalam sikap ragu. Indeks DJIA menutup sesi dengan naik tipis 0,25 persen di 42.635,2, sementara indeks S&P500 menguat 0,16 persen di 5.918,25 dan indeks Nasdaq terkikis tipis 0,06 persen di 19.478,88.


Namun situasi lebih buruk justru menerpa sesi perdagangan hari keempat di Asia, Kamis 9 Januari 2025. Sentimen keraguan di Wall Street, bertransformasi menjadi pesimisme hingga menghantarkan gerak merah Indeks. Terlebih, suntikan sentimen regional dari rilis data inflasi China semakin menghadirkan kesuraman pada perekonomian terbesar di Asia itu.

Otoritas China melaporkan, besaran inflasi yang melambat untuk Desember lalu dengan berada di kisaran 0,1 persen. Melambatnya inflasi tersebut dinilai pelaku pasar sebagai pertanda sangat serius menuju deflasi sebagaimana yang dikhawatirkan dalam beberapa bulan terakhir.

Sikap pesimis akhirnya menghajar bursa saham Asia untuk meruntuhkan Indeks dalam rentang bervariasi. Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) terjungkal curam 0,94 persen di 39.605,09, sementara Indeks KOSPI (Korea Selatan) berakhir flat atau naik sangat tipis 0,03 persen di 2.521,9 dan indeks ASX200 (Australia) melemah moderat 0,24 persen di 8.329,2.

Kecenderungan pesimis yang sedang hinggap di Asia tersebut kemudian berkontribusi pada lesunya sesi perdagangan di Jakarta. Pantauan menunjukkan gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencoba bertahan di zona hijau saat mengawali sesi perdagangan, meski beberapa kali terjatuh dalam zona pelemahan sangat tipis.

Upaya pelaku pasar di Jakarta bertahan optimis mendapatkan sokongan dari rilis data indeks keyakinan konsumen yang diklaim meningkat untuk periode Desember lalu dengan berada di kisaran 127,7. Namun akibat kepungan sikap pesimis di Asia membuat investor di Jakarta kesulitan untuk menggelar aksi akumulasi secara agresif.

IHSG akhirnya hanya mampu melakukan gerak konsisten di rentang moderat di sepanjang sesi. IHSG kemudian menutup sesi dengan menurun terbatas 0,22 persen di 7.064,58. Pantauan dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, gerak terbatas IHSG yang tercermin dalam kinerja saham unggulan yang bervariasi.

Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan tercatat menutup sesi di zona merah, seperti: BBRI, ADRO, TLKM, UNTR dan SMGR. Sedangkan sejumlah saham unggulan lain masih mampu berakhir di zona penguatan seperti BBCA, ASII BBNI, INDF dan PGAS.

Catatan RMOL menunjukkan, pelaku pasar yang masih akan menjalani pertaruhan penting di sisa pekan ini dengan rilis data tingkat pertumbuhan penjualan ritel yang akan dilakukan pada Jumat akhir pekan besok. Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data ketenaga kerjaan AS terkini dari rilis NFP yang diagendakan Jumat malam besok waktu Indonesia Barat.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya