Berita

Tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi)/Net

Suara Mahasiswa

Potensi Kayu Putih Endemis Indonesia

Oleh: Siti Mimah Rohimah*
KAMIS, 09 JANUARI 2025 | 21:47 WIB

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan megabiodiversitas, yang memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Menurut Yulia (2021), Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan sumber daya genetik yang sangat kaya serta sumber daya alam yang penting, menjadikannya negara dengan megadiversitas terbesar kedua di dunia. Kekayaan ini telah dimanfaatkan secara luas dalam berbagai aktivitas industri. 

Masyarakat adat di Indonesia masih memanfaatkan praktik pengobatan tradisional, terutama yang menggunakan tanaman sebagai bahan utama (Rani et. al., 2023). Salah satu kekayaan Indonesia adalah tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi) yang tersebar luas di berbagai wilayah, terutama di bagian timur Indonesia seperti Nusa Tenggara dan Maluku. Kayu putih menjadi fokus kajian karena nilai ekonomis, ekologis, dan sosialnya yang penting bagi masyarakat lokal.

Kayu putih adalah tumbuhan yang mampu tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk tanah marginal seperti lahan kering dan berpasir. Daun kayu putih terkenal karena kandungan minyak atsirinya, terutama senyawa eukaliptol (1,8-cineole), yang menjadi komponen utama dengan nilai ekonomi dan manfaat kesehatan yang tinggi. Selain itu, kayu putih juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, seperti memberikan habitat bagi fauna lokal dan membantu mencegah erosi tanah. Dengan manfaat ekologis, ekonomi, dan tradisional yang dimilikinya. Kayu putih menunjukkan potensi besar untuk mendukung pengelolaan sumber daya berkelanjutan di negara-negara berkembang. 


Banyak perusahaan internasional dari negara-negara maju kini mulai memanfaatkan sumber daya genetik serta pengetahuan dan teknologi tradisional negara-negara berkembang setelah menyadari potensi ekonominya yang besar. Pengetahuan tradisional, sebagai kumpulan pengetahuan yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas, sering kali menjadi bagian penting dari identitas budaya atau spiritual komunitas tersebut (Rani et. al., 2024)

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendukung pengembangan potensi kayu putih. Analisis fitokimia dilakukan untuk meneliti kandungan minyak atsiri guna mengidentifikasi senyawa aktifnya. Uji Farmakologi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri, antijamur dan anti inflamasi dari minyak kayu putih. Hal ini didukung juga oleh studi yang dilaksanakan oleh Saber et. al. (2024), bahwa jumlah paten terkait ekstrak Myrtaceae termasuk kayu putih menunjukkan peningkatan yang signifikan, terutama dalam
 
aplikasi di bidang farmasi. Selain itu, penggunaan tanaman tertentu seperti Pimenta dioica, Melaleuca alternifolia dan beberapa tumbuhan Myrtaceae lainnya dalam industri makanan terbukti efektif dalam menghambat pembusukan mikroba pada daging dan ikan segar, memperlambat degradasi oksidatif pada produk daging serta mencegah produksi aflatoksin pada jagung.

Kayu putih memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Potensi ini mencakup peningkatan produk turunan seperti aromaterapi, kosmetik dan farmasi. Namun tantangan yang dihadapi dalam konservasi kayu putih di Indonesia adalah adanya masalah alih fungsi lahan mengancam populasi alami dari tumbuhan ini. Selain itu, minimnya teknologi untuk pengolahan hasil kayu putih di tingkat lokal dan kebijakan yang belum terintegrasi antara pengembangan ekonomi dan konservasi menjadi problematika yang perlu diperhatikan. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hakim dan Agus (2022), sebagai solusi dari permasalah tersebut, para pegiat konservasi dapat memanfaatkan barcode DNA yang kini mulai diakui sebagai alat yang efektif dalam konservasi khususnya untuk tumbuhan obat. Barcode DNA menggunakan urutan gen pendek dan terstandarisasi untuk mengidentifikasi dan membedakan spesies secara akurat. Melalui barcode DNA, para pegiat konservasi dapat mengembangkan strategi yang tepat untuk melestarikan, melindungi dan mendukung pengetahuan tradisional serta kemajuan medis di masa depan.

Mengenai kebijakan konservasi tanaman kayu putih yang memiliki potensi bioprospeksi tinggi, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menginisiasi berbagai program terkait pengembangan kayu putih, seperti Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Kegiatan ini mengintegrasikan penanaman kayu putih untuk rehabilitasi lahan kritis. Memberikan dukungan terhadap penelitian produk turunan berbasis kayu putih dan memberikan akses kepada masyarakat lokal untuk mengelola hutan kayu putih secara berkelanjutan. 

Program pemuliaan tanaman ini terus berjalan untuk menghasilkan dan pemanfaatan benih serta klon unggul menjadi solusi terbaik untuk meningkatkan produksi minyak kayu putih dan mencapai swasembada pasokannya. Baik perkebunan skala industri maupun perkebunan rakyat telah dibangun untuk meningkatkan produksi nasional yang saat ini mencapai sekitar 650 ton per tahun, sementara kebutuhan dalam negeri sudah lebih dari 3.500 ton per tahun (Rimbawanto et. al., 2021).
 
Pengembangan kayu putih dapat sejalan dengan program konservasi sumber daya hayati di Indonesia melalui pengelolaan hutan berkelanjutan untuk menjaga populasinya dengan melibatkan masyarakat lokal. Sehingga diharapkan dapat terciptanya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi kayu putih untuk keberlanjutan lingkungan dan ekonomi. Pengembangan bioprospeksi kayu putih tidak hanya mendukung ekonomi lokal tetapi juga memperkuat program konservasi di Indonesia, menciptakan harmoni antara kebutuhan manusia dan pelestarian alam. 

Hal ini tentunya akan berdampak pada sosial, ekonomi dan lingkungan seperti meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan lahan hutan secara berkelanjutan dan memperkuat pemahaman bahwa produk minyak kayu putih memberikan manfaat dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan (Rochman et. al., 2024).

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam Universitas Al-Azhar Indonesia

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya