Berita

Bripka Adi Syafnur Arisal bersama masyarakat Beutong Ateuh Banggalang/Polda Aceh

Presisi

Bripka Adi Syafnur Arisal Sukses Ubah Lahan Ganja jadi Palawija

KAMIS, 09 JANUARI 2025 | 01:58 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Kisah inspiratif personel Polres Nagan Raya, Polda Aceh, Bripka Adi Syafnur Arisal patut diapresiasi. Ia diketahui berhasil mengubah lahan ganja menjadi lahan yang ditanami palawija di Beutong Ateuh Banggalang—salah satu kecamatan di Kabupaten Nagan Raya yang terletak di lereng pegunungan Aceh.

Di balik pegunungan yang subur, Bripka Adi Syafnur Arisal berhasil mengubah nasib dan kehidupan warganya. Sejak 2021, ia telah menjadi sosok yang tak hanya bertugas sebagai Kapospol di kecamatan tersebut, tetapi juga sebagai pendorong perubahan besar bagi masyarakat yang hidup dalam kesulitan.

Bagi Bripka Adi, tugas sebagai seorang polisi bukan hanya menegakkan hukum, tetapi lebih jauh lagi tentang bagaimana mengubah pola pikir dan memberikan harapan baru bagi masyarakat yang terlilit kemiskinan dan kebiasaan buruk.


Pada 2021, ketika pertama kali bertugas di Beutong Ateuh Banggalang, Adi menyaksikan sebuah kenyataan pahit. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka karena terjerat dalam lingkaran ilegal penanaman ganja. Sebuah tradisi yang sudah berlangsung lama. Namun, antara hidup dan mati, kebebasan dan penjara.

Kondisi tersebut menyentuh hati Bripka Adi. Di tengah kemiskinan yang mendera, tidak ada pilihan lain bagi masyarakat selain menanam ganja sebagai sumber mata pencaharian. Namun, Bripka Adi tidak pernah berhenti bertanya pada dirinya sendiri, "apakah ada cara untuk memberikan mereka sebuah harapan yang lebih baik?” Dari pertanyaan itulah, langkah besar tersebut dimulai.

Dengan hati yang tulus dan niat yang kuat, Bripka Adi memulai perubahan. Tanah yang dulu digunakan untuk menanam ganja, kini diubah menjadi lahan subur untuk palawija. Kapospol itu melihat potensi alam yang luar biasa di Beutong Ateuh Banggalang, dengan tanah pegunungan yang kaya akan unsur hara.

Bersama masyarakat, ia menggantikan kebiasaan lama dengan kebiasaan baru—tanam palawija. Sebuah langkah yang tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga memberi kebebasan dari belenggu hukum.

Dalam waktu singkat, hasilnya mulai terlihat. Enam kelompok tani besar terbentuk di bawah binaan Bripka Adi, dengan rata-rata luas lahan sekitar 3,5 hektar per kelompok. Tidak hanya itu, Bripka Adi juga mengajarkan masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk menanam sayuran yang bisa dijual ke pasar.

Dengan cara ini, Adi membuka peluang baru yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberi ketenangan bagi keluarga yang dulunya terbelenggu oleh masa lalu yang kelam.

Hasil panen dari kelompok tani tersebut sangat menggembirakan. Setiap kali panen, mereka dapat menghasilkan 30 ton hasil pertanian—buah dari kerja keras dan ketekunan. Namun, bagi Adi, hasil panen bukanlah hal yang paling penting. Yang lebih berarti baginya adalah kebahagiaan di wajah-wajah petani yang kini bisa hidup tenang, bebas dari rasa takut akan penangkapan, dan mulai membangun masa depan yang lebih cerah.

“Ini bukan sekadar soal bertani, terapi tentang memberi mereka kesempatan kedua dalam hidup. Tentang menunjukkan bahwa ada cara yang lebih baik untuk bertahan hidup tanpa harus kehilangan martabat” kata Adi, dikutip RMOLAceh dengan penuh kesungguhan, di Nagan Raya, Rabu, 8 Januari 2025.

Kini, lima tahun telah berlalu sejak Adi memulai perjuangannya. Tanpa pamrih, ia terus menjadi pendorong, motivator, dan pelaku perubahan yang nyata di Beutong Ateuh Banggalang. Tugasnya sebagai polisi mungkin sudah selesai ketika ia turun dari jabatannya nanti, tetapi jejak yang ditinggalkan akan tetap terukir dalam hidup setiap keluarga yang pernah dibimbingnya.

Melalui ketulusan, keberanian, dan kerja keras, Bripka Adi Syafnur Arisal telah menunjukkan bahwa seorang polisi bukan hanya penegak hukum, tetapi juga sebagai seorang pembawa perubahan.

Di tengah perbukitan Aceh yang subur tersebut, ia telah menanam benih harapan yang kini berkembang menjadi ladang kehidupan baru. Sebuah transformasi dari ganja menuju palawija, dari ketakutan menuju harapan, dan dari kemiskinan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. Ini adalah sebuah kisah yang mengajarkan kita bahwa perubahan besar sering dimulai dengan niat kecil yang tulus.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya