Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Ekonomi Global 2025 Diramal Stagnan, Indonesia akan Kena Imbasnya

SELASA, 31 DESEMBER 2024 | 12:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pertumbuhan ekonomi global diprediksi cenderung stagnan di level 3,2 persen pada 2025 mendatang.

Mantan Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun depan masih dibayangi dinamika konflik dunia, sehingga membuat ekonomi enggan bergerak dari pertumbuhan 2024.

Dalam paparannya, Bambang mengindikasikan adanya tantangan besar yang akan dihadapi oleh ekonomi dunia di tahun-tahun mendatang, dengan sejumlah faktor eksternal yang menghambat laju perekonomian.


Menurutnya, konflik-konflik besar, seperti ketegangan antara Israel dan Iran di Timur Tengah diprediksi akan memperburuk keadaan ekonomi dunia. Salah satunya, Bambang menyoroti ancaman terhadap jalur perdagangan global di Selat Hormuz.

"Geopolitik global contoh di Timur Tengah yang memanas antara Israel dan Iran telah mengancam selat Hormuz yang merupakan rantai pasok 20 persen ekspor minyak mentah dunia. selain itu ada konflik Suriah," katanya dalam paparan bertajuk “Tantangan Ekonomi dan Bisnis 2025”, dikutip Selasa 31 Desember 2024.

Selain masalah geopolitik, Bambang juga mencatat sejumlah faktor internal ekonomi yang turut menekan laju pertumbuhan. Ia menyebutkan stagnasi ekonomi di Eropa, volatilitas harga energi dan pangan, serta kontraksi sektor manufaktur global sebagai tantangan berat yang harus dihadapi dunia pada 2025. 

Ditambah lagi, tekanan fiskal yang dihadapi banyak negara juga memperburuk prospek pemulihan ekonomi global.

Bambang memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi negara besar seperti Amerika Serikat (AS) juga akan memberikan dampak besar. Dengan kemenangan Presiden AS, Donald Trump, yang diperkirakan akan melanjutkan kebijakan proteksionisnya, tarif tinggi terhadap impor, khususnya dari China dan Meksiko diyakini akan memperburuk hubungan dagang internasional.

Kebijakan tersebut dapat memperkuat dolar AS dan memperkecil kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), yang pada akhirnya menambah tekanan bagi negara-negara berkembang.

Berdasarkan analisis ini, Indonesia sebagai negara berkembang akan menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga stabilitas ekonomi. Tekanan terhadap sektor ekspor, fluktuasi nilai tukar Rupiah, serta dampak dari kebijakan moneter negara besar akan menjadi isu utama yang perlu dihadapi pada 2025.

"Perang dagang yang berlanjut dan kebijakan proteksionis yang diterapkan negara-negara besar akan memberikan dampak yang sangat besar, termasuk bagi Indonesia, baik dalam hal ekspor, nilai tukar Rupiah, maupun suku bunga domestik," ujar Bambang.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya