Berita

Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-Yeol/Net

Dunia

Pengadilan Korsel Keluarkan Surat Penangkapan Presiden Yoon

SELASA, 31 DESEMBER 2024 | 09:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kasus darurat militer Presiden Yoon Suk-Yeol yang mengguncangkan Korea Selatan dan memicu krisis politik masih terus berlanjut. 

Setelah dimakzulkan dalam sidang parlemen dan menjalani sidang di Mahkamah Konstitusi, kini Yoon harus menghadapi ancaman penangkapan dari pengadilan tinggi negeri. 

Kantor Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (CIO) menyebut pengadilan Korea Selatan telah menyetujui surat perintah penangkapan terhadap Yoon berkaitan dengan kasus darurat militer yang gagal awal Desember lalu. 


"Surat perintah penangkapan dan surat perintah penggeledahan untuk Presiden Yoon Suk Yeol, yang diminta oleh Markas Besar Investigasi Gabungan, dikeluarkan pagi ini," kata CIO dalam sebuah pernyataan, seperti dimuat Yonhap News pada Selasa, 31 Desember 2024.

CIO mengatakan pihaknya juga belum mengetahui kapan pasti surat penangkapan itu dijalankan. 

"Tidak ada jadwal yang ditetapkan untuk proses selanjutnya," tambahnya.

Ini adalah surat perintah penangkapan pertama yang dikeluarkan untuk seorang presiden petahana di Korea Selatan.

Dinas keamanan presiden Korea Selatan mengatakan bahwa mereka akan memperlakukan surat perintah penangkapan sesuai dengan proses hukum yang berlaku. 

Berdasarkan hukum Korea Selatan, lokasi yang berpotensi terkait dengan rahasia militer tidak dapat disita atau digeledah tanpa persetujuan dari orang yang bertanggung jawab, dan kecil kemungkinan Yoon akan meninggalkan kediamannya secara sukarela jika ia menghadapi penahanan.

Polisi dikerahkan pagi ini di luar kediaman Yoon di pusat kota Seoul, dalam upaya yang mungkin dilakukan untuk mencegah perkelahian.

Para pendukung dan pengunjuk rasa Yoon yang menyerukan pemecatannya telah mengintai kediamannya, dengan media lokal memuat gambar-gambar pertengkaran antara kedua kubu semalam.

Sebelumnya, polisi telah mencoba tetapi gagal untuk menyerbu kantor presiden sebagai bagian dari penyelidikan, karena dinas keamanan presiden memblokir akses.

Media lokal melaporkan bahwa penangkapan atau penggeledahan segera di kediaman presiden tidak mungkin dilakukan, karena para penyelidik mungkin akan berusaha berkoordinasi dengan dinas keamanan presiden.

Yoon menghadapi penyelidikan kriminal atas klaim pemberontakan. Pemberontakan adalah salah satu dari sedikit tuduhan yang tidak dapat dikenai kekebalan hukum bagi presiden Korea Selatan.

Penjabat pemimpin Partai Kekuatan Rakyat yang berkuasa di Korea Selatan, Kweon Seong-dong mengatakan upaya menahan presiden yang sedang menjabat adalah tindak tidak pantas. 

Awal pekan ini, pejabat penegak hukum Korea Selatan meminta surat perintah tersebut. Mereka berencana untuk menginterogasi Yoon atas tuduhan penyalahgunaan wewenang dan mengatur pemberontakan.

Kekuasaan presidensial Yoon ditangguhkan setelah Majelis Nasional memilih untuk memakzulkannya pada tanggal 14 Desember atas pemberlakuan darurat militer yang hanya berlangsung beberapa jam tetapi telah memicu kekacauan politik selama berminggu-minggu, menghentikan diplomasi tingkat tinggi, dan mengguncang pasar keuangan. 

Putusan pemakzulan Yoon akan dikeluarkan Mahkamah Konstitusi dalam beberapa bulan ke depan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya