Berita

Melbourne, Australia/Ist

Publika

Empat Musim dalam Sehari di Melbourne

SENIN, 23 DESEMBER 2024 | 12:29 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

UNTUK pertama kalinya saya ke Melbourne, Australia dalam musim panas, yang menurut hitungan kalender, dimulai Desember hingga Februari. Putri saya, Suri Adlina, yang tinggal di Melbourne, jauh-jauh hari sudah mengingatkan agar membawa pakaian musim panas saja.

Maksudnya, bawa pakaian yang biasa dipakai sehari-hari saja di Jakarta. Tidak  membawa jaket tebal, apalagi coat. Kami pun mengikuti petunjuk sesuai informasi itu. Padahal, biasanya orang Indonesia kalau ke luar negeri yang terbayang duluan adalah cuaca dingin dan kenikmatan berpakaian jaket tebal atau coat. Gagah saja begitu, kayak di film-film.

Yang membedakan dengan pakaian sehari-hari di negeri kita yang beriklim tropis. Sekurangnya bisa memakai jas hanya untuk pergi beli rokok. Ah, saya jadi teringat kisah kru film yang akan syuting di Kuala Lumpur, Malaysia, sampai menyiapkan coat untuk dipakai di sana.


40 Derajat

Kami, berdua, saya dan istri tiba di Melbourne, Senin pagi pekan silam (16/12). Ramalan cuaca hari itu, Melbourne akan mengalami cuaca panas 40 derajat. Benar. Begitulah yang terjadi sampai keesokan harinya. Maka, dua hari kami memilih mengurung diri di dalam kamar yang bersuhu dingin.

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kunjungan kali ini untuk masa dua bulan setengah. Begitu rencananya. Banyak kunjungan kami di Melbourne sebelumnya hanya berdurasi dua pekan. Kenapa sekarang lama? Ini keadaan khusus. Ini kunjungan untuk mendampingi putri bungsu yang akan melahirkan bayi pertamanya.

Putri kami --menikah dengan Jack Oemar, 11 Desember 2022 lalu di Jakarta-- akan menjalani persalinannya di Melbourne, 11 Januari 2025. Istri menginginkan berada di samping putrinya sebulan sebelum melahirkan hingga empat puluh hari setelah kelahiran.

Maklumlah, istri orang Minang. Sedangkan Nona, panggilan akrab sang putri, adalah anak bungsu dan satu-satunya perempuan anak kami. Tetapi kisah ini tidak bermaksud mengulas soal persalinan, tetapi bicara tentang anomali cuaca di Melbourne.

Anomali Cuaca

Setelah dua hari berturut-turut cuaca panas hingga 40 derajat, hari berikutnya terjadi sebaliknya: cuaca Melbourne berkisar antara 15-23 derajat celcius. Dingin. Bagi kami. Bagi Jack dingin yang ideal itu 5-7 derajat celcius.

Malah, ketika artikel ini ditulis, anjlok menjadi 12 derajat dengan "feels like 8 derajat". Kembalilah kami mengenakan jaket tebal. Beruntung, saya menyimpan beberapa jaket dan coat di rumah Nona. Ada juga yang terpaksa beli baru ketika sedang berjalan-jalan tetiba cuaca anjlok menjadi sangat dingin.

Menantu, Jack Omar, menjelaskan Melbourne lazim menghadapi cuaca anomali seperti itu karena Ibukota negara bagian Victoria Australia itu berada di tengah perbenturan antara embusan angin dari gurun dengan embusan angin dari khatulistiwa. Jack menyebut istilah "angin sedang berpesta berebut pengaruh".

Tidak hanya di musim panas. Maka itu, sambil tertawa, Jack bilang Melbourne memang terkenal dengan julukannya: kota empat musim dalam satu hari.

Saya juga tertawa geli mengingat satu koper penuh yang saya bawa, isinya pakaian untuk musim panas. Hampir tak tersentuh dalam cuaca anomali ini. Kecuali pakaian dalam dan sapu tangan.

Empat musim yang disebut Jack yang terbagi dalam setahun: summer (musim panas) autumn (musim gugur), spring (musim semi) dan winter (musim dingin). Bayangkan itu bisa bergonta-ganti dalam satu hari. Hujan tiba-tiba mendadak turun dengan sangat deras bahkan dalam hitungan menit di tengah cuaca matahari yang sangat terik.

"Inilah Melbourne", begitu ungkapan supir taksi Uber. Padahal, saya hafal ungkapan itu sejak lama. Mengapa saya terlupa "doktrin" itu dalam kunjungan ke Melbourne kali ini. Maka kebiasaan jogging saya pun berubah.

Biasanya pagi hari menjadi petang sekitar jam 7 malam, mengelilingi jogging track Allard Park di seberang rumah. Jam segitu pun matahari memancarkan terik. Maghrib di sini pukul 20.30 malam. Selesai jogging satu jam, punya waktu istirahat setengah untuk mandi dan langsung Maghriban.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya