Berita

Bisnis

Goldman Sachs: Tahun 2025 Ekonomi India Tetap Kokoh di Tengah Ketidakpastian Global

MINGGU, 22 DESEMBER 2024 | 22:04 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

India memiliki kemampuan ekstra dibandingkan negara-negara besar lain dalam menghadapi perubahan lanskap ekonomi global. Menurut Goldman Sachs Research, daya tahan itu didukung sejumlah faktor seperti konsumsi domestik yang kuat, pertumbuhan beragam industri, dan tren demografi yang menguntungkan. 

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Times of Oman, Goldman Sachs mengatakan, di tahun 2025 India akan menjadi kekuatan ekonomi yang relatif terisolasi dari guncangan global yang berasal dari potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok. Goldman Sachs memperkirakan inflasi utama India rata-rata sebesar 4,2 persen pada tahun 2025 dengan inflasi pangan sebesar 4,6 persen.

"Guncangan pasokan pangan akibat gangguan terkait cuaca tetap menjadi risiko utama bagi pandangan ini," kata Goldman Sachs dalam laporan terbaru berjudul “Prospek India 2025: Tetap Kokoh di Dunia yang Tidak Pasti”.


Inflasi pangan yang tinggi dan tidak stabil, terutama didorong oleh harga sayur-sayuran akibat guncangan cuaca, telah membuat Reserve Bank of India (RBI) tidak melonggarkan kebijakan moneter.

Inflasi ritel India mencapai 6,21 persen pada bulan Oktober 2024, melampaui batas toleransi atas 6 persen yang ditetapkan RBI.

Goldman Sachs menunda perkiraan untuk dimulainya pelonggaran suku bunga repo oleh RBI hingga kuartal pertama tahun 2025 tetapi terus memperkirakan hanya pemotongan kumulatif sebesar 50 basis poin pada pertengahan tahun.

RBI mempertahankan suku bunga repo tetap tinggi pada 6,5 ??persen untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Suku bunga repo adalah suku bunga yang digunakan RBI untuk meminjamkan uang kepada bank lain.

"Meskipun perlambatan pertumbuhan siklus mengharuskan kondisi moneter yang lebih longgar menurut pandangan kami, skenario "dolar yang lebih kuat" akan berarti RBI kemungkinan akan bertindak hati-hati," kata Goldman Sachs.

Terkait nilai tukar Rupee, dukungan dari guncangan eksternal akan memungkinkan Rupee untuk mengungguli mitra regionalnya. Dalam jangka pendek, dalam menghadapi dolar yang lebih kuat, Goldman Sachs memperkirakan nilai tukar Rupee terhadap dolar AS akan terdepresiasi sedikit menjadi 85,5 sampai 86 selama 3-6 bulan ke depan, tetapi akan tetap stabil setelahnya. Saat ini, Rupee dipatok sekitar 84,40 per dolar AS.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

UPDATE

Wisatawan Banjiri Kepulauan Seribu saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Meruya, 75 Petugas Pemadam Diterjunkan

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:00

10 Desa di NTT Terdampak Banjir

Senin, 23 Maret 2026 | 23:27

KPK Bawa Yaqut Cholil Qoumas ke RS Polri

Senin, 23 Maret 2026 | 23:05

Pengunjung Diimbau Tak Buang Sampah Sembarangan di Taman Bendera Pusaka

Senin, 23 Maret 2026 | 23:01

Yaqut Cholil Kembali ke Rutan KPK

Senin, 23 Maret 2026 | 22:48

Kim Jong Un Terpilih Lagi jadi Presiden Korut

Senin, 23 Maret 2026 | 21:45

Benang Kusut Pengelolaan Keuangan, Kepala BKAD Purwakarta Diminta Mundur

Senin, 23 Maret 2026 | 21:17

Arus Balik H+2 Lebaran Mulai Terlihat di Terminal Rajabasa

Senin, 23 Maret 2026 | 20:24

Pimpinan MPR Sambut Baik Langkah Presiden Prabowo Percepat Transisi Energi

Senin, 23 Maret 2026 | 19:55

Selengkapnya