Berita

Ilustrasi (Foto: Reuters.com)

Bisnis

Saham Unggulan Rontok Berjamaah, IHSG Rebah di 7.157

SELASA, 17 DESEMBER 2024 | 19:57 WIB | OLEH: ADE MULYANA

PENANTIAN investor pada langkah penurunan suku bunga lanjutan oleh The Fed kembali memaksa Indeks berakhir dalam keraguan. Bursa saham Wall Street dalam membuka sesi pekan ini terpantau kembali berakhir mixed dengan cenderung di rentang moderat. Pelaku pasar terkesan sedang sangat menantikan keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25 persen untuk sekaligus menutup tahun 2024.

Laporan yang beredar menyebutkan, tingkat keyakinan investor akan penurunan suku bunga kali ini berada di kisaran 95 persen. Namun tetap saja keputusan akhir The Fed masih ditunggu untuk menentukan arah gerak Indeks. Indeks DJIA tercatat menutup sesi dengan turun moderat 0,25 persen di 43.717,48 sementara indeks S&P500 menguat terbatas 0,38 persen di 6.074,08 dan indeks Nasdaq melonjak tajam 1,24 persen di 20.173,89.

Kabar sedikit menggembirakan terjadi pada sesi pagi perdagangan di Asia, di mana dengan kepungan sentimen yang tak terlalu berbeda, investor mencoba menatap optimis. Pelaku pasar di Asia terkesan berupaya membalik gerak turun yang telah dibukukan pada sesi perdagangan kemarin. Gerak positif Indeks, oleh karenanya cenderung terbatas.


Namun situasi sedikit optimis tersebut beralih secara perlahan di sesi perdagangan sore, gerak Indeks di Asia akhirnya didominasi tekanan jual yang bervariasi, kecuali pada bursa saham Australia yang mampu bertahan menjejak zona hijau.

Secara keseluruhan sikap menunggu pelaku pasar pada keputusan The Fed masih dominan dalam menjalani sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa 17 Desember 2024. Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) terhenti di kisaran 39.364,68 setelah melemah .moderat 0,24 persen. Sementara Indeks KOSPI (Korea Selatan) terjungkal curam 1,29 persen di 2.456,81 dengan perhatian investor masih tertuju pada perkembangan gejolak politik terkini usai impeachment pada Presiden Yoon Suk Yeol.

Pada bursa saham Australia, Indeks ASX200 menutup sesi dengan naik signifikan 0,78 persen di 8.314,0. Minimnya sentimen regional yang berkembang membuat gerak Indeks kesulitan menjangkau zona hijau. Pantauan RMOL menunjukkan, sentimen regional yang signifikan kali ini yang hanya datang dari Australia dan Singapura menyangkut tingkat keyakinan konsumen Australia dan neraca dagang Singapura.

Sementara sentimen lain datang dari China, di mana para petinggi negeri dengan perekonomian terbesar Asia itu berniat meningkatkan defisit anggaran hingga 4 persen PDB demi mencapai target pertumbuhan ekonomi 5 persen tahun depan.  Sekalipun demikian, kabar tersebut cenderung gagal membangkitkan optimisme di kalangan investor.

Situasi penuh keraguan di bursa saham terlihat kontras dengan kabar dari pasar mata uang digital, atau crypto currency. Pantauan menunjukkan harga Bitcoin, mata uang digital terbesar, yang kembali mencetak rekor termahalnya di kisaran $107.833 atau lebih dari Rp1,7 milyar. Pelaku pasar terlihat semakin optimis menyambut kepemimpinan Trump di Gedung Putih beberapa pekan ke depan. Terkini, Harga Bitcoin sedikit terkoreksi dengan singgah di kisaran $107.352. Sentimen positif Bitcoin, seakan gak Ada Obat untuk terus mencetak rekor tertingginya sepanjang sejarah.

Kinerja Bitcoin yang terus menyala kembali berkebalikan dengan situasi di bursa saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terancam tekanan jual lanjutan usai mengalami pelemahan tajam. Pada sesi hari ini, IHSG tercatat menutup dengan tersungkur curam setelah konsisten zona merah.

Pelaku pasar di Jakarta terkesan betah menapak zona merah di sepanjang sesi perdagangan. IHSG kemudian menutup sesi dengan anjlok tajam 1,39 persen di 7.157,73. Kinerja suram IHSG juga tercermin dari rontoknya gerak saham unggulan secara berjamaah.

Sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berakhir merah, seperti: BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, ADRO, TLKM, ASII, INDF, PGAS, JPFA, UNTR, ICBP, ITMG, PTBA dan UNVR. Tidak satu pun saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan mencetak kenaikan.

Sesi perdagangan pertengahan pekan, Rabu besok atau Kamis lusa, akan menjadi pertaruhan penting bagi IHSG untuk setidaknya menghentikan tekanan jual menyusul sentimen dari keputusan Bank Sentral AS, The Fed.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya