Berita

Bashar Al-Assad/Net

Publika

Belajar Teologi Kekuasaan dari Kejatuhan Assad dan Yoon

OLEH: MOCH EKSAN
SELASA, 17 DESEMBER 2024 | 03:25 WIB

BEBERAPA pekan terakhir, dunia dihebohkan oleh dua peristiwa besar di Suriah dan Korea Selatan. Peristiwa kejatuhan Presiden Bashar Al-Assad dan Presiden Yoon Suk Yeol dari singgasana kekuasaan.

Assad berkuasa sejak 2001. Sedangkan, Yoon berkuasa sejak 2022. Dua presiden ini dipilih melalui pemilihan presiden langsung. Tentu dengan sistem pilpres tersendiri yang unik dan khas sesuai dengan konstitusi dan tradisi masing-masing.

Sejarah elektoral menyebutkan bahwa pilpres langsung di Suriah, diselenggarakan pada Rabu, 26 Mei 2021. Pilpres ini dimenangkan Assad sebagai presiden incumbent dengan 95,1 persen. Rakyat yang menggunakan hak pilih sebanyak 14,2 juta. Tingkat partisipasi pemilih  sebesar 76,64 persen.


Sementara, pilpres langsung di Korea Selatan, diselenggarakan pada Rabu, 9 Maret 2022. Pilpres ini dimenangkan Yoon sebagai presiden penantang dengan 16,3 juta suara atau 48,56 persen. Rakyat yang menggunakan hak pilih sebanyak 32,4 juta. Tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,1 persen.

Semestinya, presiden yang dipilih melalui pemilihan langsung memiliki legitimasi yang kuat. Namun ternyata Assad dan Yoon dengan mudah ditumbangkan. Assad dijatuhkan melalui pemberontakan militer dari Hayat Tahrir Al-Syam (HTS). Yoon dimakzulkan oleh parlemen Korea Selatan.

Dua presiden ini bernasib sial lantaran gagal mempertahankan kekuasaannya. Upaya Assad untuk membendung serangan HTS tak berhasil. Banyak anggota militer Suriah yang membelot mendukung pemberontak.

Upaya Yoon juga tak berhasil mengakhiri mosi tak percaya parlemen. Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang merupakan pendukungnya sebagian juga mendukung mosi tersebut.

Lalu pertanyaan mendasar, ke mana para pendukung Assad dan Yoon yang puluhan juta orang pada pilpres? Mengapa mereka membiarkan tokoh idolanya jatuh dari kursi presiden? Jawabannya, dukungan rakyat pada pilpres sangatlah cair. 

Mereka rerata mencoblos atas dasar mobilisasi pemilih dengan ancaman atau iming-iming. Apalagi, dukungan politik rakyat merupakan hasil politik pencitraan dari framing dan personal branding.

Jujur harus diakui, legitimasi politik hasil pilpres langsung itu ibarat membangun istana pasir yang mudah dihempas oleh gelombang massa antipemerintah. Lebih-lebih, bila presiden yang didukung melakukan kesalahan nyata di hadapan publik.

Assad telah terlibat perang saudara dengan Mu'aaridatus Suriah (oposisi Suriah) sejak 13 tahun lalu. Perang yang berlangsung sejak Kamis, 15 Maret 2011 ini, telah menelan korban sebanyak 617 ribu. Dan, 300 ribu adalah penduduk sipil. Parahnya, banyak negara luar ikut intervensi dalam perang saudara ini.

Yoon justru melakukan blunder politik dengan memberlakukan darurat militer. Kebijakan ini tak mendapat dukungan dari parlemen. Rakyat juga tak melihat relevansi darurat militer dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Korea Selatan.

Jadi, kejatuhan Assad dan Yoon adalah ganjaran atas kebijakan yang salah dan merugikan negara. Mereka tak menyadari bahwa jabatan presiden hasil pilpres langsung sangat rentan kehilangan dukungan politik. Apalagi, kebijakan yang diambil bertentangan dengan mayoritas aspirasi rakyat.

Sebab itu, jangan sekali-kali membuat kebijakan yang tak populer. Alih-alih dapat apresiasi, justru bisa diberi sanksi oleh rakyat. Rakyat adalah penguasa sejati yang merupakan penjelmaan dari kekuasaan Tuhan. Vox Populi Vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).

Dalam teologi kekuasaan, presiden sesungguhnya bukan penguasa. Ia tak lebih sekadar khadimul ummah (pelayan rakyat). Dan menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), pelayan umat itu adalah shodiqul hukumah (pemerintah yang jujur).

Kasus kejatuhan Assad dan Yoon memberi pembelajaran teologis bahwa tak ada kekuasaan yang abadi. Kepercayaan rakyat adalah amanah untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kepentingan rakyat ada core bisnis dari presidensialisme yang berbasis pilihan langsung.

Suriah dan Korea Selatan punya tradisi politik yang tak ramah pada pemimpin. Mereka sepanjang sejarahnya banyak menjatuhkan pemimpin dengan gerakan senjata dan massa. Tak jarang, pemimpin di akhir hayat harus terusir dari negeri sendiri. Ada pula yang dipenjara dan dihukum mati.

Oleh sebab itu, saya jadi teringat kata hikmah dari Kasman Singodimedjo, "Een Leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden. Jalan memimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita".

Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Dokter Tifa Buka Pintu Perawatan Imun untuk Jokowi

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:06

Eggi dan Damai SP3, Roy Suryo dan Dokter Tifa Lanjut Terus

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:45

Seskab Dikunjungi Bos Kadin, Bahas Program Quick Win hingga Kopdes Merah Putih

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:35

Situasi Memanas di Iran, Selandia Baru Evakuasi Diplomat dan Tutup Kedutaan

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:20

Melihat Net-zero Dari Kilang Minyak

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:53

SP3 Untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Terbit Atas Nama Keadilan

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:48

Kebakaran Hebat Melanda Pemukiman Kumuh Gangnam, 258 Warga Mengungsi

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:13

Musda Digelar di 6 Provinsi, Jawa Barat Tuan Rumah Rakornas KNPI

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:12

Heri Sudarmanto Gunakan Rekening Kerabat Tampung Rp12 Miliar Uang Pemerasan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:33

Ruang Sunyi, Rundingkan Masa Depan Dunia

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:17

Selengkapnya