Berita

Ahmadie Thaha/Ist

Publika

Tarekat Generasi Algoritma

JUMAT, 13 DESEMBER 2024 | 10:32 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ALHAMDULILLAH, lumayan banyak yang membaca tulisan saya --dan lebih penting lagi, berani menanggapi. Saya sudah siap disergap kritik seperti sufi yang hendak bertarung melawan ego sendiri. Tapi ternyata tanggapan pembaca ini justru menghidupkan diskusi. Dengan semangat tarekat ala "generasi algoritma," mari kita telisik gagasan ini dengan sentuhan religi, tapi tetap tajam dan kritis.

Sebelum lanjut, saya perlu mengungkap kembali sekilas artikel esai saya berjudul 'Tarekat Pembangkit Jiwa Budaya'. Ia membahas ide Yudi Latif tentang pentingnya membangkitkan kembali jiwa budaya yang telah mati akibat pengaruh materialisme dan krisis spiritual, yang menyebabkan keruntuhan Barat, sebagaimana diuraikan Oswald Spengler dalam The Decline of the West

Dalam pandangan Spengler, peradaban Barat telah memasuki fase senja karena kehilangan esensi spiritual yang menjadi inti budayanya. Krisis ini digambarkan sebagai sindrom Faustian--ambisi tak terbatas untuk menguasai alam dan moral--yang membawa kehancuran ekosistem, ketimpangan sosial, serta kemunduran makna hidup.


Diskusi tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi Indonesia, di mana moralitas bangsa berada pada titik nadir. Peradaban Indonesia yang dulu memiliki 'ashabiyyah kuat berakar pada gotong royong dan spiritualitas kini terkikis oleh korupsi, fanatisme, perpecahan, judi online di mana-mana, dan kapitalisme. 

Rekan diskusi saya, cendekiawan Yudi Latif, mengusulkan sebuah tarekat baru, yaitu komunitas spiritual yang mampu menjawab tantangan era modern. Tarekat ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat zikir dan latihan individu, tetapi juga membangun jiwa kolektif melalui pendekatan lintas agama, budaya, dan teknologi.

Dalam artikel tersebut, saya menawarkan refleksi mendalam tentang bagaimana Indonesia dapat menemukan kembali jiwa budayanya dengan membangun peradaban berbasis nilai luhur yang relevan di era digital. Gagasan ini memicu tanggapan pembaca, yang mengusulkan model tarekat baru yang lebih operasional, serta mendorong tarekat yang sudah ada untuk lebih dinamis dan kontekstual dalam menyelami keislaman khas Nusantara.

Tanggapan pertama menginginkan tarekat baru yang, katanya, harus terukur indikatornya. Saya membayangkan Syekh Abdul Qadir Jailani bangkit dari kubur, mendengar tarekat kini memerlukan key performance indicator (KPI). Sudah selesaikah wirid 10.000 kali dalam seminggu? Sudah cukupkan zikir harian untuk mencapai target tahunan? Jangan-jangan tarekat masa depan akan memerlukan audit eksternal: apakah semua murid telah mencapai output spiritual yang sesuai dengan standar ISO 9001.

Yang lebih menarik, ia meminta tarekat baru ini "realistis dengan potensi dan situasi kekinian di Indonesia." Bayangkan saja, tarekat zaman AI mungkin tak hanya menyuruh muridnya berkhalwat di gua, tapi juga mengunduh aplikasi meditasi. Istilah seperti holistik mencakup segala sektor dan aspek kehidupan membuat saya bertanya-tanya: apakah tarekat ini perlu cabang di startup, kantor pemerintahan, hingga mall? Kalau begitu, mungkin tarekat baru ini juga perlu pelatihan team building dan kursus komunikasi antar-generasi.

Namun, jangan salah sangka, gagasan ini punya daya tarik tersendiri. Indonesia memang memerlukan gerakan spiritual yang tak hanya menyepi, tapi juga membawa misi ke tengah masyarakat. Walaupun, mari kita hindari membayangkan tarekat yang terlalu sibuk dengan proposal business plan.

Tanggapan kedua lebih menggigit: mengingatkan kita agar tarekat yang sudah ada di Indonesia menggali "api Islam" Nusantara. Saya teringat pepatah, "Jangan hanya menjaga abu, tapi kobarkan apinya." Persoalannya, bagaimana membakar semangat spiritualitas dalam dunia yang lebih tertarik menyalakan filter TikTok daripada lampu masjid?

Pembaca ini juga mengkritik loyalitas buta dalam tarekat, yang katanya membuat mereka "mandek." Mungkin, ini sindiran halus untuk tarekat-tarekat yang lebih sibuk menjaga tradisi daripada menghadapi realitas. Bayangkan sebuah tarekat yang mengadakan musyawarah untuk memutuskan apakah berdzikir sambil scrolling Instagram itu halal. Tapi di sini ada poin serius: tarekat baru memang harus menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan inti spiritualnya.

Mari kita lanjutkan imajinasi ini: sebuah tarekat masa kini dengan platform digital. Anggotanya tidak hanya berdzikir, tapi juga memproduksi konten edukasi di YouTube, misalnya. Mereka memiliki dashboard untuk mengukur tingkat spiritualitas: berapa banyak amal baik yang tercatat setiap hari, diimbangi dengan waktu screen time.

Tapi tentu, ini semua adalah hiperbola. Pesan utama dari tanggapan pembaca tetap valid: tarekat harus relevan dengan tantangan zaman. Mereka harus mampu menghidupkan semangat spiritualitas yang sejati, bukan hanya sebagai ritual kosong, tetapi sebagai daya pendorong untuk menghadapi sindrom Faustian yang telah merusak banyak peradaban.

Jika pembaca pertama menganggap ini tugas kolektif, saya setuju, tapi dengan catatan. Tarekat baru, atau apa pun bentuknya, tidak akan lahir dari sekadar rapat atau diskusi panjang di grup WhatsApp. Tarekat baru memerlukan keberanian: untuk menggali nilai lama, memadukannya dengan pendekatan baru, dan --seperti kata Spengler-- membangkitkan "jiwa budaya" dari reruntuhan modernitas.

Jadi, mari kita lihat siapa yang siap memulai tarekat baru ini. Apakah para pemuda milenial yang gemar berdzikir di depan layar laptop? Atau justru para kyai dan mursyid yang, meski sudah sepuh, tetap memahami bahwa zaman terus bergerak maju? Yang jelas, tarekat baru tidak bisa hanya menjadi konsep akademis. Ia harus menjadi gerakan nyata --seperti secangkir kopi yang membangunkan jiwa budaya yang sudah mati suri.

Dan jika Anda bertanya, siapakah yang bersedia memimpin tarekat semacam itu? Tentu saja ada, selama Anda menyediakan kopi tanpa batas untuk para muridnya. Karena, di tengah badai modernitas ini, kita semua butuh sedikit lebih banyak kafein untuk bertahan.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an



Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya