Berita

Unggahan Donald Trump di media sosial/Tangkapan layar

Bisnis

Trump Pelototi Mata Uang Asing yang Nekat Mau Singkirkan Dolar AS

SENIN, 02 DESEMBER 2024 | 07:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar global hari ini, Senin 2 Desember 2024, kemungkinan akan tertuju pada Dolar Amerika Serikat (AS). 

Dolar AS masih terus menjadi mata uang utama dalam perdagangan global dan berhasil mempertahankan dominasinya meski menghadapi berbagai tantangan. 

Namun, anggota aliansi dan negara-negara berkembang  mengaku lelah dengan dominasi Amerika dalam sistem keuangan dunia.


Dikutip dari Reuters, Senin, Presiden terpilih AS, Donald Trump, telah mengancam akan mengenakan tarif 100 persen kepada negara-negara anggota aliansi BRICS, yaitu Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta anggota baru seperti Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab jika mereka mengambil langkah yang dinilai dapat melemahkan Dolar AS. 

Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menuntut agar negara-negara itu berkomitmen untuk tidak menciptakan mata uang baru atau mendukung mata uang lain. 

"Kami menuntut jaminan dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan Dolar Amerika Serikat yang perkasa. Jika tidak, mereka akan menghadapi tarif 100 persen dan harus siap kehilangan akses ke pasar ekonomi Amerika Serikat yang luar biasa," ujar Trump. 

Menurut Trump, BRICS tidak bisa menggantikan Dolar AS perdagangan global, dan negara mana pun yang mencoba melakukannya "harus mengucapkan selamat tinggal kepada Amerika."

Pernyataan Trump menyusul langkahnya yang menyuntikkan volatilitas tambahan ke pasar mata uang dunia minggu lalu dengan mengusulkan tarif besar terhadap Tiongkok, Meksiko, dan Kanada - negara-negara yang memiliki beberapa defisit perdagangan terbesar dengan AS. 

Pergerakan Dolar hari ini menjadi menarik. Dolar mengakhiri delapan minggu kemenangan beruntun minggu lalu dengan penurunan mingguan tertajam sejak pertengahan Agustus, karena ekspektasi penurunan suku bunga AS mereda dan imbal hasil Treasury turun. 

Namun, sebagian besar momentum penurunan Dolar AS minggu lalu disebabkan oleh pelemahannya terhadap Euro dan Yen. 

Dolar jauh lebih kuat terhadap mata uang G10 lainnya - terutama dolar Kanada - dan terutama mata uang negara berkembang dan Asia.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya