Berita

Ilustrasi

Bisnis

Pelambatan Ekonomi China Diperburuk FDI yang Anjlok

KAMIS, 21 NOVEMBER 2024 | 09:36 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Seiring dengan tanda-tanda perlambatan ekonomi Tiongkok, semakin banyak perusahaan asing yang mempertimbangkan kembali investasi mereka. Kekhawatiran atas melemahnya pertumbuhan, ketidakpastian regulasi, dan ketegangan geopolitik mendorong perusahaan-perusahaan ini untuk menarik dana mereka.

Financial Post melaporkan, pasar yang dulunya berkembang pesat kini menghadapi tantangan seperti berkurangnya belanja konsumen dan gangguan rantai pasokan. Akibatnya, bisnis mengalihkan investasi mereka ke pasar yang lebih stabil dan menjanjikan, dengan berupaya mengurangi risiko dan mempertahankan profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi Tiongkok. Pergeseran ini menggarisbawahi dampak yang lebih luas dari perlambatan ekonomi Tiongkok terhadap strategi bisnis global.

Pada kuartal terakhir, perusahaan asing menarik lebih banyak uang dari Tiongkok, yang menunjukkan skeptisisme yang berkelanjutan tentang prospek ekonomi negara itu meskipun ada upaya Beijing untuk menstabilkan pertumbuhan dengan langkah-langkah stimulus.


Data dari Administrasi Negara Valuta Asing, yang dirilis pada 8 November, mengungkapkan bahwa kewajiban investasi langsung Tiongkok dalam neraca pembayarannya turun sebesar 8,1 miliar dolar AS  pada kuartal ketiga. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, angka tersebut turun hampir 13 miliar dolar AS, yang menggarisbawahi penurunan terus-menerus dalam investasi langsung asing (FDI) di Tiongkok. 

Selama tiga tahun terakhir, FDI di Tiongkok telah menurun, yang mengakibatkan rekor terendah dalam neraca pembayaran dan kewajiban investasi langsung setiap kuartal. Tren ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk perlambatan ekonomi, ketidakpastian regulasi, dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Akibatnya, banyak investor internasional menilai kembali komitmen keuangan mereka di pasar Tiongkok, memilih lingkungan yang lebih stabil dan dapat diprediksi. Pergeseran ini memiliki implikasi signifikan bagi lanskap ekonomi Tiongkok, yang berpotensi merusak prospek pertumbuhan jangka panjangnya dan mengurangi daya tariknya sebagai tujuan investasi global.

Selama tiga tahun terakhir, investasi asing di Tiongkok menurun tajam setelah mencapai puncaknya pada tahun 2021. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh ketegangan geopolitik, meningkatnya skeptisisme tentang stabilitas ekonomi terbesar kedua di dunia, dan meningkatnya persaingan dari perusahaan domestik Tiongkok di sektor-sektor seperti otomotif dan industri lainnya. Faktor-faktor ini secara kolektif telah melemahkan kepercayaan investor, yang menyebabkan penurunan signifikan dalam arus masuk modal asing.

Bahkan dengan diperkenalkannya langkah-langkah stimulus oleh pemerintah Tiongkok, lebih banyak investor asing yang menarik dana mereka dari pasar Tiongkok. Kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi yang berkepanjangan, ketidakpastian peraturan, dan ketegangan geopolitik membayangi upaya-upaya ini untuk menstabilkan ekonomi. Investor waspada terhadap potensi dampak jangka panjang, seperti berkurangnya kepercayaan konsumen dan masalah rantai pasokan yang terus-menerus. Akibatnya, mereka mencari pasar yang lebih stabil dan dapat diprediksi, memprioritaskan keamanan finansial daripada potensi keuntungan jangka pendek di Tiongkok. Tren ini menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi Tiongkok meskipun ada upaya pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan.

Jika penurunan FDI terus berlanjut sepanjang tahun, hal itu dapat mengakibatkan arus keluar bersih tahunan pertama sejak setidaknya tahun 1990, berdasarkan data terkini. Tren ini telah mendorong beberapa perusahaan untuk mengurangi operasi mereka di Tiongkok pada tahun 2024. Khususnya, produsen mobil Nissan Motor dan Volkswagen, serta Konica Minolta, telah mengurangi kehadiran mereka. 

Pada bulan Juli, Nippon Steel mengumumkan kepergiannya dari usaha patungan di Tiongkok, dan IBM menutup tim penelitian perangkat keras, yang memengaruhi sekitar 1.000 karyawan. Potensi meluasnya perang dagang dan memburuknya hubungan dengan Beijing selama masa jabatan kedua Presiden terpilih AS Donald Trump dapat semakin menghambat investasi. 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya