Berita

Ilustrasi jurnalisme konstruktif (AI/AT)

Publika

Jurnalisme Konstruktif

KAMIS, 21 NOVEMBER 2024 | 07:37 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

JIKA jurnalisme tradisional ibarat wasit yang meniup peluit tanda pelanggaran, maka jurnalisme konstruktif adalah pelatih yang masuk ke lapangan sambil berteriak, "Bagaimana kalau begini saja solusinya?" Wasit memang tugasnya begitu, tetapi pelatih melangkah maju dengan memberikan petunjuk menuju arah yang lebih baik.

Saat Tempo meluncurkan single brand untuk menyatukan semua produk berita dalam satu platform, Tempo.co, pada hari libur pekan lalu, kita bukan hanya menyaksikan revolusi digital. Namun, Tempo juga mengukir langkah maju dengan mengadopsi model jurnalisme konstruktif yang lebih relevan dengan tantangan zaman.

Seperti Anda yang mungkin merasa hidup ini terlalu banyak drama, jurnalisme konstruktif mencoba menjawab kebosanan audiens terhadap berita yang melulu soal masalah, konflik, dan penderitaan. Apalagi di era media sosial, banjir informasi membuat kebosanan berubah menjadi kejenuhan yang memuakkan.


Gagasan jurnalisme konstruktif pada mulanya diperkenalkan oleh Ulrik Haagerup, seorang jurnalis Denmark, yang percaya bahwa berita juga harus berisi solusi. Dalam bukunya, Constructive News, ia menegaskan bahwa media harus memberdayakan masyarakat dengan ide dan inspirasi, bukan sekadar melaporkan keburukan dunia.

Istilah simpelnya, dari isu ke solusi. Bayangkan sebuah laporan investigasi tentang kemacetan di Jakarta. Jurnalisme tradisional akan menyuguhkan data kemacetan, wawancara dengan korban yang "terjebak macet lima jam," hingga ulasan tentang jalan rusak, lengkap dengan jepretan foto ribuan mobil yang mengular.

Di sisi lain, jurnalisme konstruktif melangkah lebih jauh: menyajikan solusi inovatif, seperti mempelajari kesuksesan sistem transportasi di Tokyo atau merekomendasikan integrasi transportasi ramah lingkungan untuk Jakarta. Disertai analisis pakar tentang efisiensinya, yang menggerakkan pembaca ke arah perubahan.

Tempo, dengan sejarah panjang sebagai watchdog di Indonesia, kini memposisikan dirinya tak hanya sebagai pengkritik, tapi juga pemandu. Dalam platform barunya, investigasi tidak berhenti di soal siapa yang salah, tetapi berlanjut ke apa yang bisa dilakukan. Misalnya, investigasi soal krisis air di suatu wilayah dapat dilengkapi dengan solusi berbasis teknologi pemanen air hujan yang diterapkan di negara lain.

Teori agenda-setting oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw mengajarkan, media menentukan apa yang dianggap penting oleh publik. Dengan pendekatan konstruktif, media tidak hanya menyusun agenda masalah tetapi juga agenda solusi. Efeknya? Audiens tidak hanya terpapar isu, tetapi juga diajak berpikir kritis dan optimis.

Filsafat jurnalisme positif ini juga sejalan dengan gagasan Johan Galtung tentang peace journalism. Galtung menyebut, berita tidak boleh berhenti pada konflik saja, tapi harus menjembatani kesenjangan dengan menghadirkan perspektif damai. Dalam konteks ini, Tempo bukan hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga pemain aktif dalam mencari solusi untuk masyarakat yang lebih baik.

Sebagai pelopor dalam jurnalisme kritis, Tempo telah membuktikan dirinya mampu bertahan di tengah badai politik dan digital. Kini, dengan mengusung model single brand di Tempo.co, ia mencoba membangun pengalaman membaca berita yang lebih lengkap. 

Tidak hanya menyajikan berita breaking, freemium, atau berbayar, mereka juga menambahkan fitur eksplainer dan jurnalisme konstruktif. Semua ini dirancang untuk mengajak pembaca berpikir lebih jernih di tengah tsunami informasi.

Langkah ini tentu bukan tanpa risiko. Mengandalkan pembiayaan dari pembaca (bukan iklan yang makin intrusif) adalah taruhan besar di tengah dominasi budaya gratisan di internet. Namun, bukankah inovasi sering kali lahir dari keberanian mengambil risiko? Dan Tempo pasti bisa.

Kalau dunia butuh jurnalisme yang lebih baik, kenapa tidak mulai dari Tempo? Dengan peluncuran single brand-nya, Tempo seolah berkata, "Kami tidak hanya di sini untuk melaporkan dunia yang kacau, tetapi juga untuk membantu memperbaikinya."

Sebuah perubahan yang pantas dirayakan, tentu saja, dengan tetap mengingatkan mereka: jangan lupa, berita konstruktif juga perlu tetap menarik dan enak dibaca. Sebab, kalau pembaca bosan, semua filosofi tinggi itu hanya akan tenggelam di antara notifikasi media sosial dan meme viral tentang kucing.

Sebuah langkah baru untuk Tempo, tempat saya pernah berkiprah di dalamnya. Sebuah harapan baru untuk jurnalisme Indonesia. Karena dunia ini sudah cukup kacau tanpa berita yang memperkeruh suasana.


*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya