Berita

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, di Gedung Putih, Washington DC/Setkab

Publika

Amerika Serikat dan Uang Indonesia

JUMAT, 15 NOVEMBER 2024 | 09:20 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BAGIAN paling menarik dalam sejarah Indonesia dan Amerika Serikat adalah dalam hal bagi-bagi uang. Presiden Obama dalam kesempatan kunjungan ke Indonesia mengatakan, Indonesia dan AS memiliki hubungan sejarah yang panjang. Adakah yang lebih penting bagi Amerika selain sejarah uang Dolar?

Bagaimana tidak? Terbitnya Amerika Serikat dan Indonesia pada tahun 1945 memiliki titik tolak yang sama, yakni tukar guling pulau Run dengan New Amsterdam yang sekarang menjadi New York antara pihak VOC dengan United Kingdom.

Treaty of Breda pada 31 Juli 1667. Inti perjanjian tersebut adalah tukar guling wilayah. Pulau Run di Maluku yang dikuasai Inggris harus diserahkan ke Belanda. Sedangkan Belanda harus menyerahkan Nieuw Amsterdam ke Inggris.


Negara Amerika Serikat dimulai dari sini, dari suatu kota yang dibangun dengan jerih payah VOC dalam mengambil hasil bumi Nusantara emas dan rempah-rempah nusantara menjadi tonggak awal kejayaan Amerika Serikat.

Selanjutnya Belanda membangun kembali New Hollande di sebelah Sukabumi yang kita kenal sekarang dengan nama Australia. Apa buktinya dalam peta peta kuno Australia sekarang dulu disebut New Hollande.  

Seluruh dunia tahu bahwa Amerika Serikat mengambil bagian dalam proses perundingan bagi bagi aset, uang dalam serangkaian perundingan penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda hingga yang terakhir, yakni Perundingan Meja Bundar (KMB).

Belanda adalah penerima bantuan terbesar dari IBRD pasca perang dunia II dan bantuan bagi pemulihan ekonomi Eropa di bawah program Marshall Plan yang dirancang AS. Inilah awal dari kebangkitan AS sebagai pemenang perang dunia ke-2.

Walaupun secara resmi AS dikatakan tidak terlibat dalam perang di laut Jawa sebagai perang puncak yang mengakhiri PD II. Bukti bahwa kapal Induk terbesar pertama AS konon katanya ditenggelamkan di Cilacap.
 
Sejarah Bersambung dan tidak mungkin dilupakan. Di zaman yang lebih modern. Sebuah perjanjian yang tidak mungkin dilupakan siapapun karena menjadi fondasi keuangan modern saat ini yakni perjanjian Green Hilton Memorial Agreement antara Presiden Soekarno dengan Presiden Kennedy.

Perjanjian ini menjadi polemik mengenai supremasi mata uang dolar dalam mengatur dunia modern saat ini. Menghadirkan pertanyaan tunggal siapa yang berutang kepada Indonesia saat ini? Apakah Amerika Serikat tempat Indonesia menumpuk piutang?

Itulah yang membuat Amerika Serikat tidak memiliki masalah dengan uang? Apa itu uang? Yakni lembaran kertas yang digambar dengan tinta lalu ditetapkan sebagai uang dan manusia menerimanya. Lembaran kertas itu adalah kertas yang sama atau tidak lebih berharga dari kertas  pembungkus rokok.

Uang kertas Dolar Amerika dicetak oleh The Federal Reserve, sebuah bank swasta yang memperoleh dari dirinya sendiri sebagai lembaga independen. The Fed bukan merupakan bagian dari pemerintah AS.

Uang kertas yang dicetak The Fed dijual kepada pemerintah AS, kepada bank sentral seluruh dunia. Lalu bank sentral seluruh dunia menjual uang tersebut kepada pemerintah sedunia dan bank bank nasional sedunia.

Itulah yang mengakibatkan berapapun uang kertas Dolar di-print tidak menyebabkan inflasi di AS saja namun inflasi didistribusikan menjadi beban seluruh umat manusia, negara miskin atau kaya, orang miskin atau orang kaya semua ikut menanggung.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat salah satunya adalah untuk memburu kertas uang Dolar ini. Karena diburu oleh semua negara maka kertas uang Dolar ini menjadi berharga. Meskipun orang tidak tahu apa yang ada di belakang kertas itu sehingga berharga.

Uang kertas Dolar yang di-print The Fed diutangkan kepada pemerintah AS dan selanjutnya diutangkan kepada pemerintah Indonesia. Indonesia membayar bunga bukan hanya atas utangnya sendiri namun juga membayar bunga atas utang AS. Berkali kali bayar bunga.

Contoh nyata selama Covid-19, Pemerintah Indonesia mengambil utang kepada BI dalam jumlah yang sangat besar. Belum pernah Pemerintah Indonesia mengambil utang sebesar itu dalam periode anggarannya.

Tentu orang bertanya dari manakah BI mendapat uang sebanyak itu, apakah BI pedagang spekulan uang? Atau cuma makelar dari pedagang uang yang lebih besar?

Yang jelas BI bukan anak buah Pemerintah Indonesia. Ingat juga bahwa utang yang diberikan BI semasa covid sampai hari ini tidak jelas pertanggungjawabannya, siapa yang menggunakan?

Pemerintah dan bank bank tidak terbuka atas masalah in. Berapa mereka gunakan masing masing? Semua telah menjadi tanggungan bangsa Indonesia. (saya mengirim surat kepada kementerian keuangan, belum dibalas)

Seandainya Green Hilton Agreement berbunyi otoritas untuk memprinting uang Adalah Bank Indonesia (BI), lalu bank Indonesia mengutangkan kepada Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Indonesia menghutangkan kepada AS?

Tentu situasi akan menjadi lain. Sekarang bisakah Presiden Prabowo dalam lawatan ke AS menegosiasikan hal ini? Saya rasa ada jalannya. Mengapa? Karena The Federal Reserve sudah dicabut mandatnya entah oleh siapa, tidak boleh memprinting uang kertas lagi.

Wallahualam.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya