Berita

Presiden AS terpilih, Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping/Reuters

Bisnis

Trump Raih Kemenangan, Ancaman Tarif 60 Persen untuk China Jadi Sorotan

Laporan: Jelita Mawar Hapsari
KAMIS, 07 NOVEMBER 2024 | 15:10 WIB

Donald Trump kembali memenangkan Pilpres AS 2024, dengan membawa rencana kebijakan yang tegas terhadap China.

Salah satu ancamannya adalah menaikkan tarif impor barang dari China hingga 60 persen, yang dianggap dapat mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Dikutip Bloomberg, pada Kamis, 7 November 2024, tarif ini jauh lebih tinggi dibandingkan tarif 7,5 persen hingga 25 persen yang dikenakan pada masa jabatan Trump sebelumnya, kali ini posisi ekonomi China juga lebih rentan.


Krisis Properti di China
Pada tahun 2018, pasar properti China sangat kuat, dengan menyumbang sekitar seperempat dari aktivitas ekonomi negara itu.

Namun, sejak 2021 sektor properti China mengalami penurunan yang tajam, dan pendapatan pemerintah daerah ikut tergerus. Kelebihan pasokan perumahan membuat sektor ini sulit kembali menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Masalah utang yang membebani penurunan sektor properti juga menyebabkan pemerintah daerah China menanggung beban utang yang sangat besar. Meskipun Beijing berusaha memberikan bantuan fiskal untuk mengurangi beban ini, jumlah utangnya sangat besar dan membatasi kemampuan China dalam menghadapi guncangan ekonomi dari luar.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan total utang sektor pemerintah mencapai 147 triliun yuan (sekitar 20,7 triliun Dolar AS) pada akhir 2023. Jika utang rumah tangga dan perusahaan digabungkan, jumlahnya melebihi 350 triliun yuan, sekitar tiga kali ukuran ekonomi China.

Permintaan Domestik yang Lemah
Kondisi ekonomi yang lemah, dengan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan pemuda, membuat pengeluaran rumah tangga di China sangat rendah, hanya sekitar 40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah rata-rata global. 

Untuk meningkatkan konsumsi domestik, China perlu merombak sistem distribusi pendapatan, misalnya dengan meningkatkan tunjangan sosial atau mengurangi ketimpangan antara pedesaan dan perkotaan. 

Tekanan Deflasi yang Memburuk 

Dikutip Liputan6, China menghadapi tekanan deflasi yang kuat karena penurunan tajam pasar properti dan kepercayaan konsumen yang melemah yang telah memperlihatkan ketergantungannya berlebihan pada ekspor dalam lingkungan perdagangan global yang semakin tegang.

Pemerintah China, dengan mengalihkan sumber daya dari pasar properti ke sektor manufaktur, dinilai telah memperburuk kapasitas industri yang berlebihan.

Akibatnya, harga produsen di China mengalami deflasi yang dalam. Pada Juli 2018, inflasi harga produsen China tercatat 4,6 persen, namun pada September 2024, angka ini turun menjadi minus 2,8 persen. 

Ruang Terbatas untuk Depresiasi Mata Uang
Pada 2019, yuan China sudah melemah sekitar 10 persen terhadap dolar AS, dan pelemahan ini membantu mengurangi dampak tarif. 

Namun, untuk mengimbangi tarif 60 persen yang baru, yuan mungkin harus melemah hingga 18 persen lagi, yang bisa membuat nilai tukar yuan turun menjadi 8,5 yuan per dolar, terendah sejak krisis keuangan Asia pada 1990-an.

Faktor Lainnya
Selama pandemi Covid-19, AS mengeluarkan triliunan dolar dalam stimulus, yang sebagian besar digunakan untuk membeli barang-barang China. Selain itu, setelah invasi Rusia ke Ukraina, China mendapat keuntungan dari permintaan barang dari Rusia yang terhambat aksesnya ke pasar Barat. Namun, peluang ini kemungkinan tidak akan terulang di masa depan.

Secara keseluruhan, meski China masih memiliki sektor-sektor yang kompetitif secara internasional, risiko tarif 60 persen yang diusulkan Trump dapat semakin memperburuk tantangan yang dihadapi ekonomi China saat ini.

Sebelumnya, saat Trump menjadi presiden AS periode 2017-2021, relasi AS-China memang menegang terutama setelah Trump menyatakan perang dagang dengan China. Saat itu, Trump juga menerapkan tarif tinggi kepada produk impor terutama dari China.

Namun demikian, baru-baru ini China menyatakan harapannya untuk "hidup berdampingan secara damai" dengan AS, menyusul kemenangan mantan Trump di Pilpres AS 2024.

"Kami akan terus mendekati dan menangani hubungan China-AS berdasarkan prinsip saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama saling menguntungkan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin, pada Rabu, 6 November 2024.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya