Berita

Ilustrasi (Foto: bloomberg.com)

Bisnis

Prabowo Incar Rp300 Triliun dari Pengemplang Pajak, IHSG Jauhi 7.800

KAMIS, 24 OKTOBER 2024 | 17:57 WIB | OLEH: ADE MULYANA

KABAR kejutan datang dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Adalah pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang juga merupakan adik dari Prabowo menyatakan bahwa pemerintahan sekarang sedang mengincar pembayaran dari pengemplang pajak sebesar Rp300 triliun dari kalangan pengusaha sawit.

Angka yang sangat besar dan tentunya akan sangat membantu pembiayaan program makan bergizi gratis yang sedang digencarkan. Hashim lebih jauh menyebut, sejumlah pengusaha sawit itu tidak memiliki nomor pokok wajib pajak, NPWP, dan juga tidak memiliki rekening bank di Indonesia.

Kabar menggegerkan itu tentu menyita perhatian banyak kalangan, termasuk pelaku pasar di bursa saham. Namun kabar kejutan yang semestinya menjadi angin segar bagi sumber keuangan negara itu terlihat tak mampu memantik optimisme di bursa saham. Pantauan menunjukkan, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang konsisten menapak zona merah di sepanjang sesi hari ini, Kamis 24 Oktober 2024.


Gerak merah IHSG bahkan terlihat semakin dalam di pertengahan sesi perdagangan sore. IHSG memang sempat berulangkali menjangkau zona kenaikan tipis di awal sesi perdagangan pagi, namun selalu dengan cepat beralih kembali ke zona merah. IHSG kemudian menutup sesi dengan turun curam 0,91 persen di 7.716,54. Posisi IHSG kali ini sekaligus menjauh dari level psikologis nya di kisaran 7.800.

Laporan lebih jauh menunjukkan, kinerja sejumlah saham unggulan yang terpeleset dalam zona penurunan, seperti: BBRI, BMRI, UNVR, BBNI, ADRO, TLKM, ASII serta SIDO. Sedangkan sejumlah kecil saham unggulan lain masih mampu bertahan naik, seperti: BBCA, INDF, JPFA dan CPIN. Kemerosotan IHSG dalam rentang signifikan dengan demikian cukup tergambar pada kinerja saham unggulan.

Sementara laporan dari jalannya sesi perdagangan di Asia memperlihatkan kinerja Indeks yang mixed dan terjebak di rentang sempit. Pelaku pasar di Asia sebelumnya mendapatkan bekal suram dari sesi perdagangan di Wall Street yang runtuh tajam. Namun pelaku pasar di Asia mencoba melakukan perlawanan, meski akhirnya kurang berhasil.

Tekanan jual masih mendera, namun gerak Indeks hanya terjebak di rentang terbatas. Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) naik tipis 0,1 persen di 38.143,29, sementara indeks ASX200 (Australia) turun moderat 0,12 persen di 8.206,3, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) melemah 0,72 persen di 2.581,03.

Sesi perdagangan di Asia kali ini diwarnai tidak adanya sentimen regional yang dominan. Satu sentimen yang lumayan penting datang dari Korea Selatan yang melaporkan pertumbuhan PDB sebesar 0,1 persen untuk kuartal ketiga. Rilis pertumbuhan PDB tersebut sekaligus menghindarkan negeri drakor dari ancaman resesi secara teknikal.

Rupiah Bertahan Positif

Laporan sedikit menghibur terjadi di pasar uang. Nilai tukar Rupiah yang sempat tertekan dalam mengawali sesi perdagangan pagi akhirnya mampu beralih ke zona penguatan secara konsisten. Sentimen dari gerak balik menguat sejumlah mata uang utama dunia menjadi penyokong bertahan nya Rupiah di zona penguatan.

Laporan lebih rinci menunjukkan, gerak menguat mata uang utama dunia yang masih dalam rentang sempit hingga sesi perdagangan sore ini di Asia. Namun pelaku pasar di Asia mencoba memaksimalkan kesempatan dengan mengerek nilai tukar usai melemah di sesi perdagangan kemarin.

Hingga ulasan ini disunting, Rupiah masih bertengger di kisaran Rp15.583 per Dolar AS atau menanjak 0,2 persen. Pantauan juga memperlihatkan, nilai tukar mata uang Asia yang seluruh nya masih berupaya bertahan menjejak zona penguatan terbatas.

Sentimen dari kepastian langkah The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga lanjutan masih menjadi motor utama penguatan mata uang Asia.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

MTI: Saatnya Pilih Pemimpin karena Kualitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:29

Korupsi Kredit Perbankan Rp629,8 Miliar Proyek Apartemen Bekasi Diusut

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:18

Ketika Hukum Konstitusi Berhadapan dengan Realitas Pertahanan Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02:01

Kesaktian Nusron Terbukti Lagi, KPK Dibuat Tak Bergigi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:48

Masjid Apung An-Nur di Ancol jadi Landmark Baru di Pesisir Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:20

Prabowo Pimpin Rapat Kabinet di Istana Bogor

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 01:07

KPK Jangan Gertak Sambal: Segera Jemput Paksa Nusron!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:35

Melampaui Efisiensi, Menemukan Peluang Baru

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:20

5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dianugerahi Penghargaan Kemanusiaan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 00:02

Investor Jangan Gampang Panik soal Ancaman MSCI

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya