Berita

Kepala BK Perdag, Fajarini Puntodewi membuka Kegiatan Diskusi Gambir Trade Talk (GTT) di Jakarta/Dok. Kemendag.

Bisnis

Peringkat ECI Indonesia Rendah, Pemerintah Perlu Genjot Lagi Program Hilirisasi

JUMAT, 18 OKTOBER 2024 | 12:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah terus menggalakkan program hilirisasi pertanian. 

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BK Perdag) Fajarini Puntodewi mengatakan, hilirisasi pertanian yang didukung oleh kebijakan perdagangan dan pembukaan akses pasar secara massif dapat menjadi kunci bagi peningkatan ekspor produk olahan pertanian. 

Strategi ini diharapkan menjadi salah satu terobosan signifikan (game changer) dalam transformasi perdagangan ke depan guna mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi. 


"Hilirisasi di sektor pertanian sangat penting, mengingat nilai ekspor sektor pertanian masih tergolong rendah, yaitu 2,77 miliar Dolar AS pada Januari-Juli 2024. Upaya untuk mengolah dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian perlu ditingkatkan agar Indonesia dapat bersaing secara efektif di pasar internasional," ujar Fajarini Puntodewi, saat berbicara dalam pembukaan Gambir Trade Talk (GTT) #16 yang digelar secara hibrida di Jakarta, dikutip Jumat 18 Oktober 2024. 

Sektor pertanian adalah salah satu sektor ekonomi utama di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Pada triwulan II-2024, sektor ini menyumbang 13,78 persen atau menjadi kontributor kedua terbesar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Namun, nilai pertumbuhan sektor ini hanya 3,25 persen, masih di bawah target pertumbuhan sektor pertanian pada 2024,yaitu 3,4 - 3,8 persen.

Sektor pertanian memiliki berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan. Diketahui bahwa pertumbuhan populasi di negara-negara berpendapatan rendah, terutama di Afrika Sub-Sahara, diperkirakan akan meningkat dengan cepat atau mencapai 2,4 persen per tahun. Hal ini berpotensi menciptakan pasar baru bagi ekspor produk pertanian Indonesia. 

Kemudian, tren impor produk pertanian global tumbuh 4,68 persen pada periode 2018--2029.

Tren ini juga membuka peluang besar bagi produk pertanian Indonesia untuk memasuki pasar internasional. 

Fajarini Puntodewi menjelaskan, jika dilihat dari kompleksitas perdagangan, pada 2022, nilai Economic Complexity Index (ECI) Indonesia sebesar 0,002 atau berada di peringkat ke-67 dari 133 negara. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, peringkat ECI Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan perdagangan di sektor pertanian, salah satunya melalui hilirisasi. 

Adaptasi teknologi juga sangat penting dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian, seperti penerapan perdagangan digital lintas batas yang memungkinkan akses yang lebih luas ke pasar global.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya