Berita

Nissa Wargadipura di Food Hero's FAO Global Family Farming Forum yang digelar di Roma, Italia pada Rabu, 16 Oktober pukul 15.00 WIB/Repro

Dunia

Nissa Wargadipura Dianugerahi Gelar Food Heroes oleh Badan Pangan Dunia

RABU, 16 OKTOBER 2024 | 18:34 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Badan Pangan Dunia (FAO) menganugerahkan gelar "Food Heroes" atau Pahlawan Makanan kepada 26 wanita, pria, anak laki-laki, dan anak perempuan yang membantu mewujudkan pemberdayaan pangan dan membuat perubahan positif di lingkungan sekitar.

Salah satu di antaranya ialah Nissa Wargadipura. Perempuan asal Garut, Jawa Barat itu menjadi satu-satunya warga Indonesia yang diberi anugrah Food Heroes dari FAO.

Dia bersama delapan penerima penghargaan lain berjalan ke panggung utama. Nissa tampak sederhana dan bersahaja dengan kerudung segi empat berwarna cream dan baju hitam bermotif batik.  


Nissa hadir dan menerima penghargaan tersebut selama acara Food Hero's FAO Global Family Farming Forum yang digelar di Roma, Italia pada Rabu, 16 Oktober pukul 15.00 WIB.

Gelar Food Heroes diberikan pada Nissa atas perhatian dan dedikasinya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pertanian keluarga. Dia juga membangun Pesantren Ekologi Ath Thaariq, untuk untuk mengajarkan agroekologi, ketahanan pangan, dan agama kepada kaum muda.

"Nissa Wargadipura, melalui sekolah petani muda, telah membantu para petani memiliki skill pertanian berkelanjutan dan nilai-nilai pengetahuan tradisional. Dia berbagi ilmunya ke seluruh masyarakat di sekitarnya," kata salah satu pembawa acara saat memperkenalkan Nissa.

Nissa lahir di keluarga petani yang menggantungkan mata pencahariannya dengan mengolah lahan pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Papandayan, Jawa Barat.

Pada tahun 1989, Nissa masih menjadi siswa sekolah menengah atas ketika ia pertama kali menyadari bahwa mata pencaharian keluarganya dan petani lain di Garut terancam. Ia bergabung dengan gerakan mahasiswa untuk melindungi hak-hak petani setempat dan menentang kebijakan pemerintah tentang pengambilalihan tanah.

"Akhirnya, perjuangan tersebut membuahkan hasil. Pada tahun 1997, sekitar 700 petani mendapatkan kembali tanah mereka," kata Nissa.

Tahun berikutnya, Nissa dan teman-temannya mendirikan “Serikat Petani Pasundan”. Organisasi tersebut menjadi salah satu organisasi petani paling berpengaruh di Jawa Barat, dan kini beranggotakan lebih dari 100.000 orang.

Tidak sampai di situ, Nisa juga  mendirikan sekolah lapangan petani bernama At-Thariq pada tahun 2008 untuk memberdayakan petani muda, mengurangi ketergantungan mereka pada perantara, dan menghidupkan kembali pengalaman hidup dekat dengan alam.

Di lahan seluas satu hektar saja, Nissa merancang sistem penanaman berdasarkan tumpang sari, di mana berbagai tanaman dibudidayakan secara bersamaan di lahan yang sama.

Area penanaman dibagi menjadi beberapa zona: zona untuk buah-buahan tropis, kolam ikan di zona lain, dan zona makanan pokok tempat mereka menanam singkong dan talas. Sekolah ini juga menanam berbagai sayuran seperti tomat, kangkung, dan rempah-rempah.

Melalui Prakarsa Pertanian Keluarga, FAO mendukung contoh nyata, seperti yang dilakukan Nissa sebagai nilai-nilai dan gaya hidup yang secara konkret membantu dunia mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan.

"Perjalanan Nissa menawarkan beberapa solusi untuk banyak tantangan yang kita hadapi dalam upaya kita untuk menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh," kata pejabat pertanian FAP, Pierre Ferrand.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya