Berita

Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng/Ist

Publika

Salah PIN, Uang Tak Cair, ATM Terblokir

RABU, 09 OKTOBER 2024 | 06:51 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

SALAH satu tugas utama pemerintah adalah mencari uang yang cukup untuk menolong rakyat dan membiayai negara dan pemerintahannya.

Tugas mencari uang adalah tugas yang paling pokok. Sebab ibarat pepatah Jawa "orang yang ditinggal pergi oleh uang (tidak punya uang) syukur-syukur bisa tidur, lalu bermimpi punya uang banyak. Sebab kalau tidak, maka hanya bisa melamun tanpa tepi."

Cara pemerintah mencari uang adalah dengan berdagang hasil bumi, baik dikerjakan sendiri oleh pemerintah maupun yang dikerjakan swasta lalu hasilnya dibagi dengan negara, atau menyewa aset-aset pemerintah kepada pedagang, atau menerima sedekah dari masyarakat yang dilayaninya.


Itulah cara pemerintah mencari uang secara konstitusional.

Sementara cara yang ditempuh oleh pemerintah sejak reformasi adalah mencari uang dengan memungut pajak secara paksa. Pajak disebut sebagai pungutan negara yang bersifat memaksa. Ada juga pungutan negara bukan pajak, namun nuansanya sama dengan pajak, yakni sebagai pungutan sejumlah tertentu yang memaksa.

Cara cari uang seperti ini memang mudah namun kurang sejalan dengan konstitusi adalah cara yang diwariskan oleh sistem kolonial. Hal semacam ini dulu menjadi penyebab perlawanan rakyat kepada kolonial.

Hal ini ternyata terbukti membawa dampak buruk kepada pemerintah dan negara. Sistem pajak telah membuat pemerintah menerima sangat sedikit dari hasil dagang atau hasil olah sumber daya alam. Akibatnya pemerintah kekurangan uang dan untuk menutupinya mengambil utang.

Makin lama utang makin banyak, dan tidak pernah ada satu pemerintahan pun yang berganti dapat membayarnya. Artinya ini utang dibawa mati, dibawa sampai ke dalam kubur oleh orang yang melakukannya.

Namun di bagian lain, swasta yang berdagang baik di dalam maupun yang melakukan ekspor memiliki uang begitu banyak. Karena uangnya takut dipajaki akhirnya disimpan di luar negero.

Uang hasil ekspor mereka sebagian besar disimpan di luar negeri, di tempat-tempat aman dari pungutan dan pajak atau tax haven island. Hal itu terus berlangsung sampai puluhan tahun, bahkan sebagian besar uang tersebut dibawa mati.

Bahayanya, ternyata ahli warisnya tidak bisa mengambilnya karena tidak tahu password-nya atau PIN-nya.

Pemerintah melalui UU dan dijalankan oleh Menteri Keuangan pernah mencoba mengambil uang tersebut dengan berbagai cara, seperti tax amnesty berjilid sampai sekarang agar uang kembali ke pemiliknya di Tanah Air. Namun rupanya password-nya atau PIN-nya salah.

Usaha memencet ulang PIN  sebelumnya telah dicoba dengan 14 paket kebijakan, namun tidak kunjung bisa cair. Sekarang mencoba lagi memencet PIN family office, namun ternyata PIN yang diingat oleh Menteri Keuangan ternyata sudah kedaluwarsa.

Maka akibatnya gagal 3 kali, ATM tersebut diblokir dan tidak bisa lagi digunakan untuk mencairkan uang.

Usaha mencairkan uang untuk dibawa masuk ke dalam ekonomi Indonesia tinggal satu cara, yakni harus dilakukan oleh Presiden secara langsung tanpa perantara (kurir) yang selama ini dipakai, yakni Menteri Keuangan.

Karena semua uang yang disembunyikan di luar negeri hanya bisa kembali ke tangan negara melalui pemerintah sebagai pemegang otoritas atas uang yang disembunyikan hasil menghindari kewajiban pada negara.

Nah, jika Presiden mempercayakan pencairan berikutnya kepada kurir, maka berilah PIN yang baru pada Menkeu, PIN yang sesuai zaman sekarang.

Btw, jangan-jangan sekarang sudah tidak pakai PIN lagi, tapi pakai barcode?

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya