Berita

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu/Net

Global

Netanyahu Siap Nego Gencatan Senjata dengan Hizbullah

KAMIS, 26 SEPTEMBER 2024 | 16:18 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Gencatan senjata sementara yang diserukan Amerika Serikat dan Prancis di PBB mendapat sambutan baik dari Israel.

Laporan Israel Hayom pada Kamis (26/9) menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memberi wewenang kepada Menteri Urusan Strategis Ron Dermer untuk memberitahu AS tentang persetujuanya terhadap gencatan senjata tersebut.

"Israel bersedia berunding meskipun peluang keberhasilan inisiatif AS-Prancis itu tipis," ungkap sumber politik anonim yang dikutip Hayom.


Dikatakan bahwa apabila Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah menolak upaya negosiasi tersebut, maka Israel tidak ragu untuk mengintensifkan operasi militernya terhadap kelompok Lebanon tersebut.

Baik pemerintah Israel maupun Hizbullah belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap klaim tersebut.

Sejak Senin pagi (23/9), militer Israel telah melakukan serangan paling intens di Lebanon dalam hampir 20 tahun.

Menurut otoritas Lebanon, serangan tersebut telah menewaskan 615 orang, termasuk hampir 150 wanita dan anak-anak, melukai 2.113 orang, dan membuat sekitar 390.000 orang mengungsi.

Peningkatan eskalasi militer di Lebanon menjadi sorotan selama pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dan Presiden Emmanuel Macron di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pada Rabu waktu setempat (25/9).

Keduanya menyuarakan kekhawatiran bahwa konflik tersebut bisa mencetuskan perang regional besar-besaran di Timur Tengah.

"Situasi di Lebanon telah menjadi tidak dapat ditoleransi dan tidak menguntungkan siapa pun, baik rakyat Israel maupun rakyat Lebanon," tegas kedua pemimpin tersebut, seperti yang tertuang dalam rilis yang disajikan Gedung Putih.

Oleh sebab itu, Biden dan Macron mendesak agar pihak-pihak berkonflik menyetujui gencatan senjata selama 21 hari untuk memberikan ruang bagi proses negosiasi damai.

"Kami menyerukan gencatan senjata segera selama 21 hari di perbatasan Lebanon-Israel untuk menyediakan ruang bagi diplomasi menuju penyelesaian diplomatik," tegasnya.

Menurut Gedung Putih, pernyataan tersebut juga didukung oleh negara-negara Barat, Jepang, dan negara-negara Teluk Arab utama Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya