Berita

Dok Foto/RMOL

Nusantara

Pesan Hari Maritim 2024, Jangan Pinggirkan Masyarakat Pesisir

SENIN, 23 SEPTEMBER 2024 | 14:51 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dalam memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh pada 23 September, kehidupan masyarakat pesisir masih jadi sorotan. Kemiskinan dan diskriminasi masih kerap menyelimuti kehidupan mereka. 

Berdasarkan hal tersebut, Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Hendra Wiguna berharap pemerintah yang baru bisa meneguhkan kembali Indonesia sebagai bangsa dan negara maritim. 

“Kembalilah menjadi bangsa samudera, pesan Bung Karno yang perlu selalu kita ingat dan jadikan petunjuk serta kunci untuk mencapai Indonesia raya. Bahwa laut adalah jalan kesejahteraan, bahwa maritim adalah kunci,” kata Hendra kepada RMOL di Jakarta, Senin (23/9).


Momentum Hari Maritim yang diperingati setiap 23 September, sejak terbitnya Surat Keputusan Nomor 249 tahun 1964 oleh Presiden Soekarno. 

Menurut Hendra, hal itu harus dijadikan sebagai momentum evaluasi arah kebijakan. Sudah sesuaikah kebijakan selama ini dengan keindonesiaan yang mana lautnya lebih luas ketimbang daratan, yang merupakan pulau-pulau, dan masyarakatnya berlatar belakang pelaut.

“Rasa-rasanya kita semua harus mempertanyakan itu, melihat saat ini kondisi masyarakat pesisir kalah di laut dan dirundung di daratan. Bagaimana tidak demikian, laut masih dijadikan sebagai halaman belakang. Sampah dan limbah industri dibuangnya ke laut, pun demikian minimnya penegakan hukum terhadap penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti masih maraknya alat tangkap trawl di Sumatera Utara,” bebernya. 

Lanjut Hendra, pemerintah menamai ibu kota negara (baru) sebagai Nusantara, menggambarkan Indonesia dengan pulau-pulaunya. Namun, akan terasa janggal apabila dalam agendanya justru banyak pulau-pulau kecil yang dikorbankan. Mulai dari eksploitasi pertambangan hingga alih fungsi yang menggeser keberadaan masyarakat kepulauan dan sekaligus merusak sumber daya alamnya.

“Sudah banyak hasil penelitian dan aspirasi rakyat yang menyatakan akan bahayanya eksploitasi alam di pulau kecil, namun sepertinya tidak sampai ke hati para pemangku kebijakan. Mereka tidak melihat akan kerentanan ekologis yang tinggi dengan daya pulih yang rendah, bila eksploitasi sumber daya alam di lakukan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,” bebernya lagi. 

Masih kata Hendra, di tengah-tengah negara lain berlomba-lomba untuk menjunjung keberlanjutan sebagai bentuk  antisipasi kerawanan pangan dunia. Justru kita melakukan sebaliknya, teranyar pemerintah membuka keran ekspor pasir laut yang mengundang kegaduhan banyak pihak. 

Terutama bagi masyarakat pesisir yang berada di barisan paling depan apabila kebijakan ini nantinya berdampak buruk terhadap keberlanjutan, seperti hal-hal sebelumnya yang sudah sering terjadi. 

“Pengalaman anggota KNTI yang sudah terjadi sebelumnya, dampak dari penambangan pasir laut terhadap nelayan kecil atau tradisional sangat besar, seperti lingkungan laut jadi tercemar dan rusak, ikan-ikan menjauh, terumbu karang serta lamun rusak,” ungkap dia.

Alih-alih mengedepankan pemanfaatan sumber daya yang eksploitatif, KPPMPI berharap pemerintah lebih inovatif dalam memanfaatkan sumber daya kelautan perikanan Indonesia. Kebelakang kita fokus dengan inovasi menambah jumlah produksi, maka ke depan kita harus selangkah lebih maju. 

“Luasnya laut harus sebanding dengan luasnya kesempatan untuk pemenuhan hidup masyarakat,  potensi kemaritiman Indonesia harus mampu serap tenaga kerja sebanyak-banyaknya. Sehingga, tidak ada lagi kemiskinan di daerah-daerah yang kaya akan sumber daya kelautan perikanannya,” terang dia.

Sambung Hendra, kesempatan masyarakat pesisir untuk mendapatkan pendidikan formal dan informal juga tidak kalah penting. Agar masyarakat pesisir lebih siap untuk bersaing, setara dengan masyarakat perkotaan.

“Setelah Hari Maritim di peringati pada 23 September 2024, seyogyanya tidak ada lagi agenda pembangunan yang meminggirkan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Jika pemerintah benar-benar meng-amini bahwa Indonesia sebagai negara maritim, jika tidak maka ya sudah berarti hari maritim hanya ajang seremonial kenegaraan belaka. Sekaligus mengkhianati founding fathers Indonesia,” tandasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya