Berita

Ilustrasi saham BREN-Prajogo Pangestu (RMOL)

Bisnis

BREN Prajogo Pangestu Rontok Lagi, IHSG Merah di 7.727

SENIN, 23 SEPTEMBER 2024 | 13:04 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkesan masih terbebani oleh keruntuhan lebih lanjut saham BREN. Saham yang dikuasai oleh taipan terkemuka Prajogo Pangestu itu kembali hancur nyaris 20 persen dalam sesi perdagangan pagi awal pekan ini, Senin 23 September 2024.

Nilai kapitalisasi pasar BREN yang sangat tinggi nampaknya memaksa IHSG terseret di zona merah secara konsisten di sepanjang sesi pagi. Saham BREN menutup sesi dengan turun curam 19,83 persen di Rp7.075 per lembar.

Pantauan lebih jauh menunjukkan, harga saham BREN yang langsung rontok curam sejak pembukaan hingga penutupan sesi pagi ini di harga terbawah.


Rontoknya BREN kali ini juga terjadi di tengah kecenderungan menguat saham-saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan. Situasi demikian sekaligus mengukuhkan kontribusi sangat besar saham BREN dalam memerosokkan IHSG.

IHSG tercatat mengakhiri sesi pagi dengan melemah 0,2 persen di 7.727,58, setelah konsisten menapak pelemahan moderat di sepanjang sesi. Lebih jauh kinerja sejumlah besar saham unggulan yang memperlihatkan upaya rebound teknikal, namun rebound sejumlah besar saham unggulan tersebut belum cukup untuk menahan IHSG dari penurunan akibat rontoknya BREN yang kembali terlalu curam hingga menyentuh batas bawah.

Sebagaimana dimuat dalam ulasan sebelumnya, keruntuhan saham BREN yang diawali pada sesi perdagangan akhir pekan lalu yang disebabkan oleh sentimen dikeluarkannya dari daftar indeks FTSE.

Pantauan lebih jauh menunjukkan, saham unggulan seperti: BBRI, BBCA, TLKM, ADRO, ITMG, BBNI, BMRI serta PTBA tercatat menguat dalam kisaran yang bervariasi. Penguatan saham saham tersebut lebih mencerminkan rebound teknikal usai melemah di penutupan pekan lalu.

Kinerja merah IHSG kali ini terjadi di tengah masih minimnya sentimen regional. Catatan RMOL menunjukkan, pelaku pasar di Asia yang kali ini lebih menantikan rilis data Indeks PMI flash dari Jerman, Inggris dan Amerika Serikat yang akan dilakukan sore dan malam nanti waktu Indonesia Barat, untuk menentukan arah Indeks. Gerak Indeks di bursa saham Asia oleh karenanya terjebak dalam rentang terbatas.

Hingga ulasan ini disunting, indeks ASX200 (Australia) turun 0,56 persen di 8.163,9 sedangkan indeks KOSPI (Korea Selatan) naik 0,18 persen di 2.598,8. Bursa saham Jepang dilaporkan libur. Sentimen lain yang menjadi bekal kurang meyakinkan juga datang dari berakhirnya Indeks Wall Street dengan mixed dalam penutupan pekan lalu. Dengan situasi yang jauh dari meyakinkan di Asia tersebut, rebound teknikal sejumlah saham unggulan di Bursa saham Indonesia akhirnya cenderung berada di rentang moderat.

Rupiah Konsisten Merah

Situasi tak jauh berbeda dilaporkan terjadi di pasar uang, dengan nilai tukar Rupiah yang kembali melemah. Gerak merah dalam rentang moderat Rupiah kali ini masih seirama dengan situasi di pasar global. Laporan lebih jauh menyebutkan, nilai tukar mata uang utama dunia yang cenderung melemah tipis dalam mengawali pekan ini.

Mata uang utama dunia tercatat hanya menyisakan Dolar Australia dan Dolar Kanada yang mencoba menguat moderat hingga sesi perdagangan siang ini di Asia. Secara keseluruhan, pelaku pasar masih menantikan rilis data indeks PMI flash dari Eropa dan Amerika Serikat untuk menentukan arah gerak lebih jauh. Pola demikian akhirnya dengan mudah menyeret Rupiah jatuh dalam zona pelemahan.

Gerak melemah Rupiah juga sekaligus terealisir nya potensi teknikal usai melonjak signifikan pada sesi perdagangan akhir pekan lalu. Hingga sesi perdagangan siang ini berlangsung, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp15.189 per Dolar AS atau merosot 0,3 persen dengan pola konsisten di zona pelemahan.

Sebagaimana dimuat dalam sejumlah ulasan sebelumnya, tren penguatan yang masih bertahan solid bagi Rupiah. Rupiah kini bahkan sangat membuka lebar peluang untuk segera menghantarkan Dolar AS di level psikologis nya di kisaran Rp15.000.

Pantauan terkait menunjukkan, nilai tukar mata uang Asia yang masih bervariasi dan dalam rentang terbatas hingga siang ini.ata uang Yuan China, Dolar Hong Kong, Rupee India, serta Baht Thailand menginjak zona penguatan tipis. Sementara mata uang Ringgit Malaysia, Peso Filipina, bersama Rupiah jatuh di zona perlahan terbatas.

Rupiah diperkirakan masih berpeluang untuk beralih menguat di sesi perdagangan sore nanti, terutama bila mendapat sokongan dari rilis data indeks PMI flash Eropa yang kondusif.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya