Berita

Ilustrasi

Dunia

Turkistan Timur: Kemajuan Pariwisata Xinjiang Kebohongan Baru Beijing

KAMIS, 15 AGUSTUS 2024 | 23:13 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Di tengah pengawasan internasional atas pelanggaran hak asasi manusia, Tiongkok kini berupaya menampilkan Xinjiang sebagai tempat wisata yang menarik. 

Baru-baru ini, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa dalam tujuh bulan terakhir Xinjiang mengalami pertumbuhan signifikan dari berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata.

Namun, menurut Kementerian Luar Negeri dan Keamanan Pemerintahan Turkistan Timur, angka pertumbuhan itu hanya sekadar strategi yang diatur dan didanai pemerintahan Xi Jinping, untuk memanipulasi keadaan sebenarnya.


Gerakan Nasional Turkistan Timur, yang didedikasikan untuk mengungkap pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, sering kali menentang taktik Beijing, termasuk upaya terbarunya untuk mempromosikan Xinjiang sebagai tujuan wisata.

Salih Hudayar, seorang aktivis terkemuka yang dikenal karena kritiknya terhadap perlakuan Tiongkok terhadap Muslim Uighur, mengutuk penggambaran ini.

“Rezim Tiongkok yang melakukan genosida membanjiri Turkistan Timur dengan jutaan wisatawan Tiongkok dalam upaya terang-terangan untuk mengaburkan dan menutupi kampanye kejam penjajahan, genosida, dan pendudukan,” tulisnya di akun X.

“Kedok yang tidak tahu malu ini dimaksudkan untuk menyembunyikan penderitaan brutal jutaan orang Uighur dan orang-orang Turki lainnya. Masyarakat internasional tidak boleh disesatkan oleh propaganda tipu daya Tiongkok. Tiongkok harus bertanggung jawab, dan pendudukan brutalnya, genosida Uighur, dan terorisme negara di Turkistan Timur harus segera diakhiri,” sambungnya.

Turkistan Timur adalah istilah yang secara historis digunakan dan diadopsi oleh berbagai kelompok advokasi untuk merujuk pada Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR).

Berbagai laporan mengungkapkan pelanggaran hak asasi manusia yang parah di Xinjiang, termasuk penahanan lebih dari satu juta orang Uighur di tempat yang disebut Beijing “kamp pendidikan ulang” atau “pusat pelatihan kejuruan”.  Pemerintah Tiongkok menggambarkan penahanan ini sebagai tindakan anti-ekstremisme.

Padahal, ada bukti signifikan tentang penindasan budaya dan agama, seperti penghancuran masjid dan kuburan Uighur serta pembatasan praktik keagamaan.

Wilayah ini telah digambarkan sebagai salah satu wilayah dengan pengawasan paling intensif di dunia, dengan penggunaan teknologi pengenalan wajah dan bentuk pemantauan lainnya secara ekstensif.

Ada pula laporan dan citra satelit yang menunjukkan keberadaan kamp-kamp penahanan berskala besar di Xinjiang.

Fasilitas-fasilitas ini digambarkan sebagai kamp-kamp “pendidikan ulang” oleh pemerintah Tiongkok, tetapi pengamat internasional dan organisasi-organisasi hak asasi manusia menganggapnya sebagai pusat-pusat penahanan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya