Berita

Acara Indonesia-China Business Roundtable yang digelar di Jakarta, Senin (22/7)/Dok KBRI Beijing

Bisnis

Investor China Berminat Kembangkan Sektor Teknologi Indonesia

RABU, 24 JULI 2024 | 03:59 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Indonesia dan China memiliki peluang besar untuk meningkatkan kemitraan di bidang teknologi tinggi. 

Berbagai peluang ini merupakan bahasan pada Business Roundtable yang diselenggarakan Direktorat Asia Timur, Ditjen Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri, bekerja sama dengan KBRI Beijing di Jakarta pada Senin (22/7).

Kegiatan ini diikuti oleh 26 perusahaan ternama asal China di bidang teknologi, AI, teknologi transportasi, kesehatan, dan venture capital yang berminat mengembangkan usahanya di Indonesia. 


Business Roundtable ditujukan untuk mempromosikan peluang usaha berikut regulasinya serta memfasilitasi minat investasi kalangan usaha China di sektor teknologi di Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemlu RI, Cecep Herawan, yang juga bertindak sebagai pembicara kunci. 

Acara ini juga menghadirkan narasumber seperti Deputi bidang Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rakhmat Kaimuddin; Direktur Promosi Investasi Asia Timur, Selatan, Timteng, dan Afrika Kementerian Investasi/BKPM, Cahyo Purnomo; dan Kepala Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan Kemenkes, Bonanza P  Taihitu.

Dalam sambutannya, Cecep Herawan antara lain menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam pembangunan nasional, dan China adalah mitra strategis yang juga merupakan salah satu pusat pengembangan teknologi dunia.

“Dengan besarnya potensi ekonomi yang dimiliki dan komitmen kuat pemerintah untuk meningkatkan kualitas iklim usaha, Indonesia semakin menjadi pilihan yang tepat bagi investor asing, termasuk Tiongkok, untuk bekerja sama dan berinvestasi, termasuk sektor teknologi,” ujar Cecep, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (23/7).

Sementara itu, Dubes RI untuk China, Djauhari Oratmangun, mengaku optimistis terhadap potensi kerja sama konkret kedua negara, khususnya kerja sama bidang ekonomi, perdagangan, dan investasi.

“Selama 10 tahun terakhir, kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan dan investasi kedua negara tumbuh pesat, dengan perdagangan menurut data Bea Cukai Tiongkok mencapai 138 miliar dolar AS pada 2023. Sementara investasi tahun 2023 mencapai 7,4 miliar dolar AS,” ujar Dubes Djauhari.

Acara ini juga dimanfaatkan Rakhmat Kaimuddin untuk menawarkan berbagai peluang menjanjikan bagi kalangan usaha China untuk berinvestasi dan mendukung program hilirisasi industri dan transisi energi di Indonesia. Termasuk percepatan pembangunan ekosistem kendaraan listrik, di mana Indonesia menawarkan berbagai insentif yang menarik.

Sementara Bonanza Taihitu menekankan pentingnya penguatan kerja sama teknologi dengan China untuk turut mendukung implementasi pilar-pilar kebijakan kesehatan di Indonesia, seperti di sektor teknologi alat kesehatan, pengembangan industri farmasi, bioteknologi, dan AI.

Terkait regulasi, Direktur Cahyo menjelaskan berbagai kebijakan fiskal dan insentif yang ditawarkan bagi investor asing. Seperti tax holiday, tax allowance, super deduction, dan import allowance. 

Indonesia juga menjadi tujuan investasi prospektif dengan meningkatnya daya saing Indonesia secara global dari peringkat 34 ke 27 berdasarkan IMD World Competitiveness.

Usai Business Roundtable, kalangan usaha China melanjutkan kegiatan business match-making di Wisma Kadin. 

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kadin dan Kadin Indonesia Komite China bekerja sama dengan KBRI Beijing dan Dit. Asia Timur Kemlu RI.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya