Berita

Ilustrasi eksplorasi batu bara (Foto: Bloomberg)

Bisnis

Saham Batu Bara Jadi Momok, IHSG Bertahan di 7.300

SELASA, 23 JULI 2024 | 16:35 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Diiringi minimnya sentimen eksternal dan domestik yang ada, sesi perdagangan saham hari kedua pekan ini, Selasa 23 Juli 2024, terlihat lemas tak bertenaga.
Sebagaimana diperkirakan dalam ulasan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Saham Indonesia akhirnya terjebak dalam rentang gerak sempit. Sementara di sesi perdagangan Asia, gerak Indeks terlihat lebih dinamis, di mana Indeks Nikkei (Jepang) dan KOSPI (Korea Selatan) yang sempat mencoba naik tinggi akhirnya mengikis kenaikan di akhir sesi.
Laporan menyebutkan, minimnya sentimen yang yang bisa dijadikan pijakan investor dalam menjalani sesi hari ini. Agenda rilis data perekonomian terkini hanya terjadi di Singapura dan Korea Selatan. Singapura merilis data inflasi terkininya yang sebesar 2,4 persen, sementara pemerintahan Korea Selatan merilis data indeks harga grosir yang tumbuh 2,5 persen.

Kedua rilis data tersebut sudah diperkirakan sebelumnya, sulit mendapatkan sambutan besar investor. Gerak Indeks di Asia akhirnya kembali menggantungkan sentimen usang dari ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.


Hingga sesi perdagangan berakhir, indeks KOSPI (Korea Selatan) naik moderat 0,39 persen di 2.774,29 setelah sempat melonjak tajam hingga lebih dari 1 persen. Sementara indeks ASX 200 (Australia) menguat 0,5 persen di 7.971,1, dan indeks Nikkei (Jepang) yang berakhir merah dengan turun tipis 0,01 persen di 39.594,39 setelah sempat menginjak zona hijau.

Situasi lebih sepi terjadi di bursa saham Indonesia, di mana IHSG hanya terombang-ambing antara pelemahan dan penguatan dalam rentang sempit di sepanjang sesi perdagangan. IHSG akhirnya menutup sesi dengan turun tipis 0,11 persen di 7.313,8. Pantauan dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, saham-saham pertambangan batubara yang mengalami penurunan dalam taraf lumayan.

Koreksi teknikal yang menimpa saham-saham barubara tersebut akhirnya menyulitkan IHSG untuk menapak penguatan dengan stabil. Hingga sesi perdagangan berakhir penurunan saham batubara masih bertahan. Diantaranya: ADRO turun 1,88 persen di Rp 3.130, ITMG melorot 2,55 persen di Rp26.650, UNTR melemah 1,77 persen di Rp 24.850, serta PTBA yang merosot 1,1 persen di Rp 2.650. Saham Batubara, dengan demikian menjadi momok bagi IHSG.

Saham unggulan lain juga turut terdampar di zona penurunan, seperti: BBRI turun 2,44 persen di Rp4.790, ASII turun 1,54 persen di Rp 4.450, serta BBNI turun 0,98 persen di Rp 5.050. Saham unggulan terlihat menyisakan BBCA yang mampu membukukan penguatan dengan naik 0,74 persen di Rp 10.175 dan TLKM yang menanjak 1,93 persen di Rp 3.160.

Bervariasinya gerak saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan mengindikasikan sikap ragu pelaku pasar dan menantikan sentimen terbaru. Situasi ini sekaligus memastikan, rilis data pmi (purchasing manager index) flash dari kawasan Eropa dan AS pada Rabu sore hingga malam besok waktu Indonesia Barat, sedang sangat ditunggu investor.

Pola gerak bervariasi di rentang sempit juga terjadi di pasar uang Asia. Nilai tukar Rupiah terpantau mampu menginjak zona penguatan terbatas secara konsisten, namun kemudian beralih melemah moderat. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah masih ditransaksikan di kisaran Rp16.205 per Dolar AS alias menguat  tipis 0,06 persen. Seluruh mata uang Asia terlihat seragam dengan terjebak dalam rentang terbatas. Mata uang Baht Thailand terpantau mengalami penguatan tertajam di antara mata uang Asia.

Sementara pantauan di pasar uang global menunjukkan, gerak indeks Dolar AS yang terus menanjak hingga membuat hampir seluruh mata uang utama Dunia menyisir zona pelemahan. Hingga ulasan ini disunting, mata uang Euro, Pound, Dolar Australia, serta Dolar Kanada terlihat kompak terhempas di zona pelemahan dengan kisaran yang bervariasi.

Dolar Australia terlihat menurun paling parah hingga 0,3 persen. Tinjauan teknikal menunjukkan, tren pelemahan jangka pendek Dolar Australia yang kini telah terbentuk dengan meyakinkan pada time frame D1. Hal ini menandakan gerak melemah Dolar Australia yang sangat mungkin berlanjut hingga beberapa hari sesi perdagangan ke depan.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya