Berita

Foto ilustrasi/Net

Bisnis

Tim Prabowo Berniat Pangkas Jatah Makan Bergizi Gratis, IHSG Bisa Ikut Kurang Gizi

KAMIS, 18 JULI 2024 | 09:26 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Sentimen Trump kembali mendapatkan panggung di Bursa Wall Street dalam sesi perdagangan pertengahan ini, Rabu 17 Juli 2024. Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu, Kamis dinihari waktu Indonesia Barat itu, pernyataan capres dari partai Republik itu memperparah rontoknya saham-saham teknologi di Wall Street.

Dalam sebuah kesempatan, Trump menargetkan Taiwan untuk membayar biaya pertahanan dan militer yang selama Ini disediakan Washington dalam mengantisipasi invasi China. Pernyataan tersebut kemudian dengan cepat direspon aksi jual pada saham pabrikan chip terbesar Dunia TSMC.

TSMC yang bermarkas di Taiwan akhirnya terseret sentimen suram pada saham-saham teknologi. Tekanan jual yang terjadi pada saham-saham teknologi terlihat sangat brutal dan ekstrim kali ini. Pantauan menunjukkan, Indeks Nasdaq yang berfokus pada perusahaan-perusahaan bidang teknologi harus ambrol dalam rentang tragis.

Hingga sesi perdagangan ditutup, Indeks Nasdaq tercatat longsor 2,8 persen di 17.996,92. Catatan menunjukkan, penurunan tersebut sebagai yang terekstrim dalam lebih dari 18 bulan terakhir. Pada saat yang sama, indeks S&P 500 terjungkal 1,39 persen di 5.588,27. Namun kabar 'hiburan' terjadi di Indeks DJIA yang kasih mampu membukukan kenaikan 0,59 persen di 41.198,08.

Laporan dari jalannya perdagangan memperlihatkan, sejumlah saham teknologi yang berkontribusi sangat besar dalam ambruknya indeks Wall Street kali ini. Diantaranya: ASML Holding yang runtuh 12,74 persen, Applied Material terbabat 10,48 persen, Advance Micro Devices longsor 10,21 persen, serta Lam Research yang tercukur 10,1 persen. Sementara dari Taiwan dilaporkan gerak Saham TSMC yang sempat runtuh nyaris 4 persen menyusul pernyataan Trump.

Tidak tersedia sentimen rilis data ekonomi penting pada sesi perdagangan kali ini, kecuali sentimen temporer dari pernyataan kejut dari Trump dan Presiden AS Joe Biden yang dilaporkan terserang Covid-19. Laporan terkini juga menyebutkan Joe Biden yang mulai "melunak" dengan bersedia mundur dari kontestasi pilpres AS bila kondisi kesehatan tidak memungkinkan.

Dengan bekal suram dari sesi perdagangan Wall Street ini, Bursa Saham Utama Asia kini rawan untuk mengalami tekanan jual. Pantauan terkini dari gerak Indeks di Bursa Saham Utama Asia menunjukkan, Indeks Nikkei (Jepang) yang mulai remuk 2,07 persen di 40.245,43 dalam mengawali sesi perdagangan. Sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) ambruk 1,17 persen di 2.809,93 dan Indeks ASX 200 (Australia) yang mencoba bertahan positif dengan naik tipis 0,12 persen di 8.067,2.

Kepungan sentimen yang kurang bersahabat dari bursa regional dan global ini, akan menjadi pijakan bagi investor di Bursa Saham Indonesia yang akan membuka sesi perdagangan Kamis 18 Juli 2024 beberapa menit ke depan. Pelaku pasar di Jakarta juga diperkirakan akan turut mencermati situasi domestik terkini. Terutama yang sedang disorot adalah kabar tim Prabowo yang berencana memangkas biaya per porsi Makan Bergizi Gratis dari Rp 15.000 menjadi Rp 9.000 atau bahkan Rp 7.500.

Kabar tersebut terpantau telah beredar luas pada sore kemarin. Sejumlah pihak bahkan membandingkan kisaran Jatah tersebut dengan harga seporsi nasi kucing yang populer di wilayah Yogya dan Jawa Tengah.

Kabar dari tim Prabowo tersebut seakan seiring dengan situasi bursa Saham Indonesia yang mungkin akan diterpa tekanan jual. Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat rentan untuk terjungkal karena sentimen yang ada terlihat tidak memberikan "Gizi" yang cukup untuk sekedar bertahan hijau. IHSG terlihat "kurang gizi" dalam menjalani sesi hari Ini.

Rupiah Kukuh

Situasi berbeda diperkirakan terjadi di pasar uang. Mata Uang Rupiah diyakini masih mampu bertahan di level kuatnya dalam sesi perdagangan hari Ini. Untuk dicatat, Rupiah pada sesi perdagangan kemarin yang secara spektakuler membukukan penguatan mengesankan dan menjadi mata uang terkuat di Asia.

Potensi koreksi Rupiah, dengan demikian sangat wajar dalam tinjauan teknikal. Namun sentimen yang sedang berlangsung hari Ini terlihat masih belum terlalu mengkhawatirkan, dan oleh karenanya bilapun terjadi koreksi, hanya dalam rentang wajar atau moderat. Rupiah bahkan masih berpeluang untuk melanjutkan gerak penguatan untuk sekaligus membenamkan Dolar AS di bawah kisaran Rp 16.000.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya