Berita

Jejep Falahul Alam/Ist

Publika

Politikus Busuk, Antara Realita dan Harapan

OLEH: JEJEP FALAHUL ALAM*
SELASA, 16 JULI 2024 | 10:56 WIB

PERAN penting rakyat dalam dunia politik kerap kali tidak pernah membawa keberkahan, apalagi berbicara tingkat kesejahteraan. Kondisi ini diibaratkan jauh panggang daripada api. Politik yang sejatinya bagian dari seni untuk mencapai suatu tujuan, kini harus tercabik-cabik oleh ulah oknum para politikus yang haus nafsu kekuasaan.

Sepak terjang mereka kini semakin menorehkan kesan buruk di mata rakyat, bahwa politik itu kotor dan busuk. Keadaan ini diperparah pula dengan banyaknya oknum politikus yang tidak selaras antara ucapan dan perbuatan. Serta prilaku yang jauh dari tatakrama atau pun etika.

Sejatinya, jika politik di negeri ini digunakan sebagai strategi melayani masyarakat, yang dibingkai dengan etika, tentunya ini memiliki dampak positif, dan menjadi bagian yang tak pernah dilupakan bagi masa depan anak bangsa. Bahkan realita politik seperti ini bisa dijadikan sebagai kawah candradimuka bagi siapa pun orangnya, termasuk wahana spiritual menuju kesalehan. 


Tidak seperti sekarang ini, banyak para politikus pada umumnya, hanya dijadikan tujuan untuk mencapai kepentingan kelompoknya.Termasuk memecah belah rakyat demi kepentingan politiknya.

Itulah mentalitas yang dibangun politikus busuk, bukan mendorong dan merekatkan persatuantapi malah sebaliknya. Mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi dan kelompoknya, meski harus bersandiwara di panggung politik, hanya untuk menarik simpati rakyat.

Ia akan menggunakan topeng kepalsuan demi mencapai ambisinya, hanya untuk mencari simpati dan pencitraan. Setelah tujuannya tercapai, habis manis sepah dibuang. Begitulah pribahasa yang tepat diberikan kepada oknum politisi, hingga menjadikan rakyat yang menjadi tumbalnya.

Meski rakyat terkadang dihadapkan pada posisi makan buah simalakama ketika harus memilih calon pemimpin (kepala daerah, anggota DPRD, gubernur, dan presiden), terutama bagi politisi atau siapa pun profesinya yang ingin memburu kekuasaan. Mungkin saat kampanye mereka banyak berkata manis dengan dibumbui janji-janji "surga". Besok lusa setelah terpilih berakhir, bukan rahasia umum rakyat dilupakan. Maka dari itu setidaknya ada beberapa karakteristik politisi di negeri kita.

5 Karakter Politikus

Pertama, Materialistis-praktis: Sikap dan tindakannya seolah-olah religius dan tidak membutuhkan materi. Tapi kenyataannya, dia lebih rakus dari yang diduga. 

Kedua, Mentalitas pragmatis: Dia tidak pernah berpikir panjang, yang terpenting bila menguntungkan dirinya, disikat meski berbenturan dengan aturan.

Ketiga, sikap oportunis. Politikus ini selalu menjadikan segala sesuatu sebagai komoditas bisnis dan selalu mencari keuntungan dalam kesempitan (bermuka dua).

Keempat, Formalitas. Tampilannya hanya sekadar mencari sensasi, kenyataannya sangat jauh dari harapan. 

Kelima, Positivisme hukum: Bagi politikus ini, hukum ibarat hanya sebagai dagelan. Mereka bisa membeli aparat penegak hukum, sehingga hukum tidak bisa menyentuhnya, apalagi memenjarakannya.

Kendati demikian, setidaknya kita masih memiliki banyai harapan. Dan kita menyakini para politikus di negeri ini tidak seutuhnya seperti yang tergambar di atas. 

Justru sebaliknya, mereka pun banyak juga yang menorehkan manfaat bagi rakyatnya. Maka ke depan di tahun politik ini, rakyat sebagai pemegang kekuatan penuh, harusnya memilih pemimpin yang peduli, jujur dan baik. 

Tidak hanya terpancing atau terbuai oleh janji-janji manis tanpa bukti. Pendidikan politik yang baik dan kritis menjadi kunci menyeleksi para pemimpin yang benar-benar layak dan dapat dipercaya.

Saatnya kita menuntut perubahan peta perpolitikan Indonesia, menuju politik yang lebih transparan, etis, dan bertanggung jawab. Politik jangan hanya dijadikan panggung sandiwara , tetapi panggung untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua. 

Mari kita bersama-sama membangun politik yang suci dan sejati, yang benar-benar melayani dan berintegritas, demi kebaikan bersama, untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih baik. Semoga.

*Penulis adalah Pengurus Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Majalengka

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya