Berita

Anggota Komisi IV DPRD Jabar, Daddy Rohanady/RMOLJabar

Publika

Keajaiban Dunia PPDB: Cuci Raport Hingga Pemalsuan Prestasi?

OLEH: DADDY ROHANADY
KAMIS, 11 JULI 2024 | 15:46 WIB

JIKA ada orang yang mengatakan bahwa keajaiban dunia hanya 7, orang itu telah melakukan kebohongan publik. Bantahlah dia dengan menceritakan beberapa hal berikut ini.

Hasil seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK 2024 tahap 2 baru saja selesai diumumkan pada Senin, 5 Juli 2024. Kemudian 8-9 Juli adalah waktunya pendaftaran ulang.

PPDB memang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama merupakan "jalur zonasi dan afirmasi keluarga ekonomi tidak mampu (KETM)". Pendaftaran tahap ini pada 3-7 Juni 2024 dan pengumuman hasilnya dilakukan pada 19 Juni 2024.


Tahap kedua merupakan "Jalur perpindahan tugas orang tua/anak guru, prestasi nilai rapor, dan prestasi kejuaraan". Pendaftaran tahap ini pada 24-28 Juni 2024.

Seiring pengumuman hasil seleksi tahap kedua, maka selesailah pula proses seleksi secara keseluruhan.

Jika melihat tahapan berikutnya yang diumumkan SMAN 1 dan SMAN 2 Kota Cirebon, misalnya, tinggal sedikit langkah PPDB tahun 2024.

Berikutnya masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) pada 15-17 Juli 2024. Melihat agenda yang ada, tahun ajaran baru 2024-2025 akan dimulai pada 15 Juli 2024.

Selesainya PPDB tidak berarti semua lancar-lancar saja. PPDB 2024 ternyata masih meninggalkan banyak masalah.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak titipan "anggota keluarga baru" pada kartu keluarga yang letaknya berdekatan dengan sekolah. Hal itu dilakukan karena pemberlakuan zonasi.

Hasilnya, ada penumpukan calon siswa akibat "migrasi massal". Lingkungan seputar sekolah pun seolah-olah berubah menjadi kompleks perumahan para calon peserta didik baru.

Penumpukan tersebut memang akibat ketatnya penerapan jalur zonasi. Sebenarnya kebijakan jalur zonasi baik-baik saja jika diberlakukan secara adil. Hal itu untuk mempermudah agar calon peserta didik tidak perlu bersekolah di lokasi yang jauh.

Sayangnya, masih banyak pemikiran tentang "sekolah favorit". Hasilnya adalah terjadinya "migrasi" ke seputar lokasi sekolah favorit tersebut.

Mari kita lihat beberapa dugaan kejanggalan Jalur Zonasi.

Pertama, jarak antara siswa yang satu dengan siswa yang lain ada yang hanya beberapa meter. Lantas, ada yang menyebut dengan sindiran ekstrem: hanya berjarak sentimeter.

Bahkan, ada yang mencurigai ada beberapa siswa yang berlokasi sama. Inilah yang kemudian dijuluki "kompleks perumahan baru yang dikhususkan bagi calon pendaftar PPDB".

Kedua, menggunakan perpindahan kartu keluarga (KK) dengan membuat wali dadakan. Caranya dengan memalsukan surat kuasa pengasuhan.

Hal itu dikarenakan dalam SOP PPDB 2024 tidak diperkenankan untuk pindah KK saja tanpa berdomisili bersama keluarganya/orang tuanya di alamat domisili sesuai KK terbaru paling lambat 1 tahun sebelumnya.

Ketiga, asal sekolah berada jauh di luar zona. Bahkan, ada yang berasal dari luar provinsi. Namun, alamat domisilinya berada di sekitaran sekolah tujuan.

Hal ini bertentangan dengan SOP PPDB Jabar 2024 dan bertentangan dengan akal sehat. Seolah-olah ini menggambarkan bahwa siswa pada saat sekolah SMP-nya setiap hari menggunakan helikopter atau pesawat jet pribadi untuk bersekolah.

Ada pula siswa dari SMP elite, tetapi ketika masuk ke SMA menggunakan jalur KETM. Di mana logikanya? Mana mungkin siswa dari KETM mampu membayar biaya di sekolah elite?

Masih ada lagi yang lebih parah. Banyak calon siswa yang diduga melakukan "cuci rapor". Oknumnya diduga kepala sekolah dan Panitia PPDB.

Isu pun menjadi kian liar. Ada yang diduga menyogok Rp5 juta sampai Rp15 juta demi anaknya diterima di sekolah yang dituju.

Bayangkan, skor ada yang mencapai hampir 500. Tidak aneh jika skor 440 sampai 450 pun tak lolos seleksi. Ini diduga hasil dari nilai rapor yang "disulap" menjadi lebih tinggi.

Bahkan, ada pula kasus lain seperti yang ramai diberitakan. Ada yang menggunakan sertifikat tingkat internasional atau nasional yang diduga kuat palsu adanya. Belum lagi banyak dugaan adanya oknum sekolah yang "main mata".

Semua itu membuktikan bahwa PPDB 2024 masih carut-marut. Tampaknya butuh penyelidikan lebih serius tentang semua itu.

Sejak SD hingga kuliah, saya selalu mendengar dan membaca berbagai referensi bahwa keajaiban dunia ada 7. Ternyata kini tidak lagi.

Jadi, selain PPDB, ada berapa keajaiban dunia lagi yang pembaca temukan hingga hari ini?

Penulis adalah Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya